Covid-19 “Dorong Percepatan” Perkembangan Teknologi Infomasi

Ditulis Oleh imuss Kamis, 27 Oktober 2022, 16:13


Oleh: Hj. Musdalifah, S. Sos, M.M

(Pranata Humas Ahli Muda Kanwil Kemenag Provinsi Riau)

Munculnya Wabah atau Pandemi Covid-19 memberi dampak pada perubahan pola pikir dan perilaku keseharian yang tidak seperti biasa. Seperti, adanya maklumat untuk tetap tinggal di rumah, bekerja dari rumah, belajar dari rumah, belanja dari rumah, dan lain-lain yang berdampak pada perkembangan Teknologi Informasi Komunikasi (TIK) diluar proses biasanya.

Pandemi Covid-19 membuat teknologi memiliki banyak kemajuan. Pandemi membuat banyak hal berubah, salah satunya dalam hal penggunaan teknologi yang semakin populer. Unruk bertahan hidup, semua kalangan dipaksa untuk lebih melek teknologi, mulai dari ibu rumah tangga, orang tua, anak- anak, guru, pegawai dan bahkan penjual makanan skala mikro dan lainnya.

Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/Kepala BRIN) Bambang PS Brodjonegoro beberapa waktu lalu mengungkapkan ada sepuluh tren teknologi yang menjadi peluang baru bagi startup Indonesia dalam tatanan baru kehidupan atau new normal selama maupun sesudah wabah COVID-19. 

Tren TIK yang terjadi selama masa darurat wabah COVID-19 namun diperkirakan menjadi masa depan baru atau new future bagi Indonesia dan dunia. Perubahan ini dinilai lantaran dalam situasi normal baru akan ada perubahan pola interaksi masyarakat.

Diantara tren tersebut adalah:

  1. Belanja Online yang terus menjadi kebutuhan masyarakat.
  2. Pembayaran dengan sistem digital akan semakin diminati karena efisien.
  3. Teleworking/ Work From Home (WFH) atau kerja dari rumah yang marak dilakukan oleh instansi pemerintah/ lembaga.
  4. Telemedicine atau pemakaian aplikasi layanan kedokteran digital akan semakin dibutuhkan untuk menghindari kontak langsung.
  5. Tele-education dan pelatihan online selama pandemi COVID-19 juga akan diminati.
  6. Teknologi hiburan seperti film dan lagu daring menjadi tren usai pandemi.
  7. Rantai pasok industri inti 4.0 untuk manufaktur.
  8. Kedelapan adalah percetakan tiga dimensi (3D) yang belum luas digunakan di Indonesia juga berpotensi menjadi tren.
  9. Robot dan drone akan menjadi andalan untuk membantu mengurangi interaksi dan pekerjaan manusia.
  10. Penopang utama teknologi yakni 5G, dimana seluruh tren akan mengakibatkan hubungan antar manusia akan berbeda di masa depan. 

Khusus dibidang pemerintahan, Deputi bidang Pelayanan Publik Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) Diah Natalisa mengatakan dampak yang ditimbulkan pandemi Covid-19 sangat luas dan multidimensional. Oleh karena itu, semua sektor harus melakukan perubahan dalam perspektif sistem kerja mereka, termasuk dalam pemerintahan. Diah mengimbuhkan strategi pelaksanaan transformasi penyelenggaraan pemerintahan termasuk pelayanan publik dalam tatanan normal baru telah dilakukan.

Diantaranya, melakukan penyederhanaan proses bisnis dan standar operasional prosedur (SOP) pelayanan dengan memanfaatkan TIK, menggunakan media informasi untuk penyampaian standar pelayanan baru melalui media publikasi, membuka media komunikasi online sebagai wadah konsultasi maupun pengaduan pelayanan, memastikan kualitas output dari produk layanan baik online maupun offline tetap sesuai standar yang ditetapkan, dan melakukan pelayanan prima dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan yang ditetapkan Menteri Kesehatan.

Ia menambahkan, ada beberapa hal yang dapat dipelajari dari pandemi Covid-19. Pertama, perubahan perilaku dan budaya. Melalui penerapan work from home (WFH) dan work from office (WFO), pegawai tidak perlu hadir di kantor secara fisik (cukup hadir secara virtual), tetapi dapat terhubung melalui pemanfaatan TIK. Kedua, reformasi pelayanan, dimana pelayanan tatap muka bertransformasi menjadi layanan online. Hal ini mendorong penyederhanaan proses bisnis dan SOP yang berujung pada kemudahan proses perizinan dan non perizinan.

Ketiga, penghematan anggaran belanja pemerintah. Masa pandemi ini memaksa pemerintah untuk berpikir kreatif dan melakukan efisiensi anggaran dari berbagai sumber tanpa harus mengurangi produktivitas. Keempat, sinergitas dan kolaborasi. Melalui penanganan Covid-19 dapat disimpulkan bahwa usaha memerangi pandemi Covid-19 dibutuhkan kolaborasi dan sinergi antara seluruh komponen masyarakat, pemerintah maupun swasta. Kelima, inovasi dan terobosan baru menjadi sebuah kebutuhan.

Adanya pemanfaatan TIK oleh instansi pemerintah dalam melakukan layanan di masa pandemi merupakan salah satu strategi dalam mengefektifkan pelayanan publik dan mendukung E-Government. Masyarakat yang terbiasa menggunakan TIK juga akan lebih mudah dalam melakukan kegiatan selama di rumah. TIK juga mendukung pemerintah dalam mengatasi permasalahan selama pandemi Covid-19. 

Sementara itu disektor pendidikan, Pandemi juga memaksa percepatan di sektor pendidikan. Pembelajaran sekolah jarak jauh ini memaksa anak-anak dengan dibantu dengan orang tua untuk akrab dengan internet. Oleh sebab itu, akses internet dan teknologi di Indonesia belum merata di semua wilayah. Beberapa anak di berbagai daerah di Indonesia tidak dapat mengakses internet dengan mudah. Mereka harus bersusah payah mencari tempat yang dapat menjangkau internet agar depat melaksanakan sekolah daring.

Permasalahan ini muncul dan membuat pemaksaan terhadap pemerintah untuk melakukan pemerataan akses internet ke seluruh wilayah. Apabila anak-anak yang sama sekali tidak bisa melakukan akses internet maka dengan terpaksa mengumpulkan tugas sekolah secara offline. Penyebaran virus Corona yang belum berhenti ini menjadikan acuan agar akses internet dan teknologi dapat lebih merata ke seluruh penjuru Indonesia.

Teknologi ini juga dapat digunakan dibidang sektor pertanian hingga pertambangan yang dilakukan jarak jauh. Dengan adanya perkembangan teknologi dan masyarakat dapat dengan terbiasa menggunakan teknologi tersebut maka akan lebih mudah dalam menjalani pekerjaan secara jarak jauh.

Unit Kerja di bawah Kementerian Kominfo, Ditjen Aplikasi Informatika, mencoba merumuskan sebuah proses bisnis baru dalam lingkungan kerjanya untuk menghadapi era kenormalan baru (new normal). Proses bisnis tersebut bernama Flexible Working Space (FWS).

Apa itu FWS (Jenis dan Tahapan Implementasinya)

Flexible Working Space dapat diartikan pengaturan pola kerja pegawai yang memberikan fleksibilitas lokasi bekerja selama periode tertentu dengan memaksimalkan teknologi informasi.

Jika FWS ini diterapkan maka tentu akan ada penyesuaian tren cara bekerja, seperti:

  1. Munculnya Jenis Pekerjaan Baru
    Struktur organisasi, perusahaan, dan tipe pekerjaan baru banyak muncul untuk mengakomodasi manusia dan teknologi yang berubah cepat.
  2. Tenaga Kerja Multigenerasi Dan Beragam
  3. Tidak Dibatasi Struktur Dan Tempat
    Pekerjaan dapat dilakukan di lokasi manapun dan dengan waktu yang fleksibel. Rasio pekerja tidak tetap meningkat.
  4. Karier Ditentukan Oleh Pekerja, Bukan Perusahaan
    Pekerja memiliki kontrol yang lebih besar terhadap perjalanan kariernya.
  5. Digitalisasi dan Otomatisasi
    Teknologi menyederhanakan pekerjaan sehari-hari dan menghubungkan pekerja dengan efisien.
  6. Akses dan Pengolahan Data Semakin Masif
    Data memberikan pemahaman lebih baik tentang perilaku dan kualitas pekerja.

Tatanan normal baru sejatinya menekankan pada dua perspektif. Pertama yaitu produktif, dimana masyarakat dapat kembali beraktivitas dan menjalankan usahanya sehingga perekonomian dapat bertumbuh kembali. Kedua, yaitu aman dari Covid-19. Artinya kita harus senantiasa menjalankan protokol kesehatan secara ketat dan disiplin dalam setiap aktivitas yang kita lakukan.

Keduanya menunjukkan semangat pemerintah dalam meniadakan dikotomi antara kesehatan masyarakat dan kesehatan ekonomi.

 

Daftar Pustaka:

https://feb.ugm.ac.id/id/berita/3558-pandemi-covid-19-dan-dampaknya-terhadap-ekonomi-digital

https://fuad.iainpare.ac.id/2020/04/opini-fenomena-covid-19-memaksa-melek.html

https://indonesiabaik.id/infografis/10-tren-teknologi-selama-pandemi

https://www.menpan.go.id/site/berita-terkini/strategi-pelayanan-publik-pada-tatanan-normal-baru

https://aptika.kominfo.go.id/2020/06/flexible-working-space-budaya-kerja-baru-hadapi-new-normal/