MENGAKTUALISASIKAN SEMANGAT BERKURBAN
Oleh: Agus Saputera
Bagi umat Islam yang tidak menunaikan ibadah haji dan berada di tanah air disyariatkan atau disunnahkan untuk menyembelih hewan kurban pada Hari Raya Idul Adha atau Hari Raya Haji dan hari-hari tasyrik (11, 12, dan 13 Dzulhijjah). Hari Raya Idul Adha dirayakan karena pada hari itu dilakukan penyembelihan hewan kurban (udhiyyah). Juga pada hari yang sama para hujjaj sudah kembali dari Arafah dan menyempurnakan rangkaian ibadah hajinya setelah pada tanggal 9 Dzulhijjah wukuf di Padang Arafah. Karena itu juga pada tanggal 10 Dzulhijjah diperingati sebagai Hari Raya Haji.
Kata-kata kurban berasal dari bahasa Arab qurban, seakar kata dengan karib, kerabat yang arti dasarnya adalah dekat. Dalam konteks penyelenggaraan pemotongan hewan kurban di Hari Raya Idul Adha, tujuan pemotongan hewan kurban tersebut adalah untuk mencapai kedekatan kepada Allah swt. Memang untuk mendekati Allah (taqarrub ilallah) seseorang harus rela mengorbankan segala yang dimiliki dan dicintainya termasuk harta dan jiwa, diantaranya dengan cara memberikan dan membagikan daging kurban kepada orang lain. Daging kurban tersebut bukanlah dipersembahkan untuk Allah, sebab Dia tidah berhajat kepada makhluk. Justru Allah akan membantu hambanya selagi ia mau menolong, memberi, dan melepaskan hajat orang lain.
Dan salah satu ciri orang yang bertaqwa adalah orang yang senantiasa berusaha agar selalu dekat atau mendekat kepada Allah swt. Demikian pula sebaliknya, kerelaan seseorang untuk berkurban mencerminkan ketaqwaannya kepada Allah, bukan karena kepentingan tertentu dan mengharapkan pamrih dari orang lain. Sebab qurban yang diterima adalah karena mengharapkan ridha Allah dan dilandasi rasa taqwa mendalam yang tertanam di dalam dada. Lihat Q. S. Al-Hajj (22): 37, "Tidak akan sampai kepada Allah daging (hewan) itu, dan tidak pula darahnya. Tetapi yang akan sampai kepadaNya adalah taqwa dari kamu". Oleh karena itu qurban dalam arti memotong hewan kurban ataupun berkorban harta dan jiwa sekali-kali tidak akan diterima Allah karena pamrih atau motif-motif tertentu lainnya.
Di Indonesia dengan muslim sebagai penduduk mayoritas semangat berkurban ini cukup besar, setidaknya kalau dilihat dari jumlah hewan yang dikurbankan, baik di masjid mushalla, instansi, organisasi, dan kelompok-kelompok lainnya. Namun sayangnya, sebagian besar kita kurang menghayati makna dan pesan yang disampaikan dalam syariat kurban tersebut.
Berkurban tidaklah sebatas menyembelih hewan dan membagikannya kepada saudara-saudara muslim lainnya. Lebih dari itu, hendaknya tertanam dalam dada setiap muslim rasa kebersamaan dan kesetiakawanan sosial yang tercermin dalam perilaku sehari-hari. Artinya momentum hari Raya Kurban yang datangnya sekali dalam setahun sanggup mewarnai semangat berkurban sepanjang tahun, bahkan sepanjang hayat. Kalau semangat ini sudah dibangun mulai dari masing-masing keluarga, maka sebuah kekuatan besar akan terbentuk di tingkat negara dan bangsa.
Dengan kata lain jiwa dan semangat berkorban suatu bangsa akan mudah dan hanya bisa terbentuk apabila diawali dari tingkat terendah yaitu keluarga. Sesuai dengan pesan dalam Q. S. Al-Hajj (22): 37 yang menyatakan bahwa kurban itu hanya mengharapkan ridho Allah, bukan karena pamrih terhadap makhluk, maka sepatutnya pengorbanan warga atau anggota masyarakat apalagi bagi para pemimpin, bersih dari pamrih, kepentingan, dan tujuan-tujuan bermotif politik.
Hikmah berkurban
Sesudah Sholat `Ied ini kita diperintahkan oleh Allah swt untuk melaksanakan syari`at qurban, yakni dengan penyembelihan hewan, berupa sapi, lembu atau kambing. Disyari`atkan qurban ini tidak hanya pada Nabi Muhammad SAW saja, akan tetapi telah disyari`atkan sejak Nabi Adam as dan Nabi Ibrahim as, sebagaimana firman Allah swt dalam Q. S. Al-Kautsar (102): 1-3, "Sesungguhnya Kami telah memberikan nikmat yang banyak kepadamu. Maka dirikanlah sholat karena Tuhanmu dan berqurbanlah".
Pada setiap Hari Raya Qurban, seorang muslim mendapat kesempatan untuk beramal dengan penyembelihan hewan qurban. Dilihat dari sudut kejiwaan, perbuatan amal yang demikian, adalah semacam latihan untuk meningkatkan semangat berkorban yaitu dengan mengorbankan sebagian kecil rizki yang dikaruniakan Allah untuk kepentingan manusia yang lain sebenarnya juga di dalamnya termasuk keuntungan dirinya sendiri.
Setidaknya penyembelihan hewan qurban itu mengandung tiga aspek/hikmah, yaitu :
1. Aspek ubudiyah, yaitu berbakti dan mendekatkan diri kepada Allah swt (Hablum Minallah) sesuai dengan arti perkataan `Qurban` yang berasal dari pokok kata "qaraba" yang artinya mendekatkan diri. Maka seorang yang melakukan penyembelihan qurban itu, berarti mendekatkan dirinya kepada Allah swt dan sebagai balasannya Allah pun akan mendekatkan diriNya kepada hamba tersebut dengan penuh sifat Rahman dan rahimNya.
2. Aspek Ijtima`iyyah (Hablum Minannas), dengan melakukan penyembelihan hewan qurban itu, dapat dikembangkan rasa setia kawan, persaudaraan, dan saling pengertian antara sesama ummat manusia, terutama terhadap kaum fakir miskin yang sangat membutuhkan daging qurban itu.
3. Aspek Nafsiah, yaitu pembentukan pribadi seorang muslim yang ditandai dengan penyembelihan sifat-sifat kebinatangan yang melekat pada diri yang bersangkutan seperti sifat serakah, ingin menang sendiri, tidak memperdulikan orang lain dan lain sebagainya. Sifat seekor binatang sesuai dengan kodrat kebinatangannya adalah sesuatu yang baik. Tetapi kalau sifat kebinatangan tersebut melekat pada manusia, ia menjadi sesuatu yang jelek.
Ibadah qurban, sebagaimana ibadah dalam Islam, ternyata pada hakikatnya adalah merupakan tanda syukur kepada Sang Pencipta Allah swt dalam rangka mempertebal iman dan taqwa kepadaNya. Ibadah Qurban mendidik manusia agar rela berkorban demi kepentingan agama. Ibadah Qurban menggalang rasa kebersamaan, saling pengertian, saling memahami, dan saling membantu dalam kebaikan dan taqwa.
Pentingnya qurban itu akan lebih dirasakan lagi, apabila kita memahami bahwa tidak ada satupun bentuk kehidupan yang sepi dari pengorbanan. Menurut ajaran Islam kehidupan adalah pengabdian, karena kehidupan itu memang dihamparkan oleh Allah swt kepada manusia untuk mengabdi. Salah satu makna pengabdian dalam kaitannya dengan qurban ini adalah usaha sadar dari jiwa imani terhadap nikmat yang Allah berikan kepada manusia untuk selanjutnya dibaktikan kepada Allah swt sesuai dengan janji kita setiap sholat, Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidup dan matiku semata-mata untuk Allah Tuhan seru sekalian alam. Marilah bersama-sama kita hidupkan semangat berkorban ini dalam diri dan keluraga bagi kepentingan masyarakat, bangsa, dan negara. (*)
Pekanbaru, 25 Januari 2011
