Makna Qurban Dalam Kehidupan

Ditulis Oleh imuss Kamis, 06 September 2018, 16:11

Oleh: Nursal, S.HI, MH

Setiap tahun silih berganti kita umat Islam yang mampu melaksanakan perintah Allah SWT yakni berqurban, dalam surat Al-kautsar ayat 1-2 yang artinya: “Sesungguhnya telah kami berikan kepadamu nikmat yang banyak, maka dirikanlah sholat karena Tuhan mu dan berqurbanlah“.(QS. Al-Kautsar:1-3).

Qurban berasal dari bahasa arab, yaitu: Qorrubayaqrubu artinya: dekat atau mendekatkan, menurut istilah yaitu: cara-cara mendekatkan diri kita kepada Allah dan di hari raya Idul adha ini cara kita mendekatkan diri kepada Allah adalah menyembelih hewan Qurban. Untuk itu mari kita sejenak bertafakkur menghayati nilai-nilai Ibadah qurban (pengorbanan) seorang hamba Allah Ibrahim As, untuk kita realisasikan dalam hidup dan kehidupan yang kian hari penuh dengan tantangan.

Nabi Ibrahim yang ketika itu mendekati usia 80 tahun, yang belum juga dikaruniai oleh Allah seorang keturunan, namun ia tidak pernah berputus asa dari rahmat Allah, beliau senantiasa berdo’a melabuhkan harapan suci kepada Allah SWT:

Artinya: “Ya Allah, karuniailah aku keturunan (anak) yang sholeh”. (QS.As-Shoffat: 100).

Memang indah kedengaran do’a ini, namun sayang seribu kali sayang, begitu asing do’a ini bagi sebahagian kita, karena hati kita sudah dipenuhi dan dikuasai oleh nafsu keduniaan, sehingga kita dalam berumah tangga belum diberi oleh Allah keturunan banyak yang tidak bersabar, malah ada yang menceraikan istri atau minta cerai pada suaminya. Lihatlah Ibrahim as, 80 tahun umurnya atau sudah kakek-kakek masih bisa diberi keturunan oleh Allah SWT, walaupun dilihat dalam ilmu medis/ kesehatan seumur segitu tidak akan mungkin mendapat keturunan, tetapi itu adalah kekuasaan Alla SWT.

Akhirnya Do’a yang indah dan tulus itu dikabulkan oleh Allah, maka lahirlah ke dunia ini seorang putra tercinta Ismail namanya, dia adalah buah hati penggarang jantung, penyejuk mata, penenang jiwa bagi ayah nya Ibrahim As, yang ketika umurnya 90 tahun. Namun ketika Ismail menginjak usia remaja belia datang perintah Allah kepada ayahnya Ibrahim agar menyembelih dirinya. Ini adalah suatu perintah yang berat tapi amat mulia disisi Allah. Lantas Ibrahim berkata kepada anaknya:

Yang artinya: ”Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpiku bahwa aku menyembelihmu lalu pikirkanlah apa pendapatmu” (As-Shoffat: 102).

Ketika itu Ismail menjawab:

Artinya: “Wahai ayahandaku, lakukanlah apa yang diperintahkan Allah, Insya Allah akan engkau dapati diriku sebagai orang yang berhati sabar” (As-Shoffat: 102).

 Sungguh indah dialog anak dan ayah diatas, seorang ayah sebelum mengambil suatu keputusan ia minta pendapat anaknya dahulu, ini sebuah contoh seorang ayah yang bijaksana dalam keluarga yang patut kita contoh. 

Ismailpun dibaringkan diatas batu,   Dengan  sopan Ismail berpesan kepada Ayahnya beberapa pesan berikut ini:

  1. Wahai ayah tajamkanlah pisaunya karena luka itu sangat pedih
  2. Tutuplah muka ayah, karena kalau ayah melihat ayah tidakkan sanggup melakukannya
  3. Sinsingkanlah lengan baju ayah karena takut nanti darah mengenai lengan baju ayah
  4. Sampaikanlah salam terakhirku kepada ibu dan jangan biarkan anak yang sebaya denganku bermain dihalaman rumah karena bisa menambah kesedihan ibu.

Demikianlah pesan yang diampaikan oleh Ismail as. Tatkala keduanya siap untuk melakukan perintah Allah itu.  Ibrahimpun meletakkan pisau yang sangat tajam itu keatas leher putranya.  Sambil mengucapkan takbir. Allahu akbar-Allahuakbar-Allahu akbar..

Disaat itulah jibril datang menukar sembelihan itu dengan seekor kibas. 

“Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar” (QS. As-shoffat 107).

Kemudian ismail pun berdiri sambil mengusap-usap badannya. Allahu akbar walillah ilhamd.

Hadirin kaum muslimin jamaah aidil adha rahimakumullah... demikianlah kisah singkat betapa besar ujian yang ditimpakan kepada keluarga nabi Ibrahim itu. 

Beberapa kesimpulan yang dapat kita ambil adalah:

  1. Sebagai seorang mukmin kita tidak akan dibiarkan mengaku beriman begitu saja oleh Allah tanpa diuji keimanan yang kita miliki.  Seorang nabi bahkan tidak luput dari ujian itu.  Ujian itu ada berupa nikmat dan ada berupa musibah.  Ujian berupa nikmat antara lain yang tercantum dalam QS al-an’am 165 : Dan Dia lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.
  2. Dalam mematuhi perintah dan larangan tuhan haruslah dilandasi motivasi dan niat yang ikhlas.  Artinya semata-mata mengharapkan ridho Allah SWT. Tanpa terkontaminasi oleh motivasi lain.  Niat yang ikhlas itulah yang mendorong nabi Ibrahim AS sampai tega menyembelih putranya sendiri.  Dan atas dasar niat yang ikhlas itu pulalah tuhan mengembalikan kepada sang nabi nikmat yang nyaris luput darinya itu.
  3. Berkaitan dengan hubungan antara bapak dan anak ketika nabi Ibrahim AS memberitahukan kepada anaknya tentang penyembelihan itu, sang anak pasrah, tanpa memperlihatkan sikap penolakan. Al-quraan menyebutkan QS. Annisa 36 : Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak”.

Ringkas cerita, kedua hamba Allah itupun segera melaksanakan perintah Allah, tetapi Allah hanya menunjukkan kekuasaanNya dan kebijaksanaanNya kepada hambaNya yang taat melaksanakan perintah Allah, Ismail tidak jadi disembelih ditukar dengan seekor kibas.

Bayangkanlah seandainya perintah berqurban dengan menyembelih seorang anak dilestarikan Allah hingga sekarang, betapa bingungnya kita memikirkan, siapa diantara anak kita yang akan diqurbankan tahun ini? Allah hanya menguji ketaatan kita dengan menyembelih hewan sebagai qurban, bukan mengorbankan anak seperti yang diperintahkan Allah kepada Nabi Ibrahim As. Namun kenapa sebahagian kita masih banyak yang enggan berqurban padahal kita mampu. Rasulullha SAW telah memberikan peringatan yang keras kepada orang yang enggan berqurban:

“Barangsiapa yang berkemampuan untuk berqurban tetapi ia tidak berqurban maka janganlah ia dekati tempat sholat kami ini” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).

Allahpun telah menyatakan dalam Al-Quran surat Al-Haj ayat 36:

Dan telah Kami jadikan untuk kamu hewan qurban itu sebahagian dari syi'ar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan hewan qurban itu kepada kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur”.

            Menurut ayat diatas, penyembelihan hewan qurban pada hari raya idul adha adalah syiar agama Allah, merayakan hari raya tanpa penyembelihan hewan qurban adalah ibarat menggulai ayam atau kambing tanpa memakai asam, cabe, dan garam, bayangkan bagaimana rasanya gulai itu. Dalam penyembilan hewan qurban terkandung kebaikan buat kita, kebaikan di dunia dan di akhirat ,kebaikan di dunianya antara lain:

  1. Mengobati penyakit loba, tamak dan rakus pada diri kita.
  2. Memupuk kepekaan sosial dan kebiasaan memberikan pertolongan kepada orang lain.
  3. Mendatangkan kegembiraan di tengah keluarga dengan menikmati daging qurban dan ikut membahagiakan golongan fakir miskin.

Islam adalah senantiasa memikirkan dan memperhatikan nasib penderitaan orang lain. Inilah inti utama dari hikmah penyembelihan hewan qurban itu. Kadang-kadang kita tidak tahu bahwa ditengah sorak sorai yang gemuruh, tepuk tangan yang gempita dari anak orang-orang kaya  rupanya nasib simiskin papa keadaan mereka tidak seorangpun yang tahu yang terbentang dihadapan mereka banyak onak dan duri penderitan, keringat dan air mata selalu berlinangan, samudra perjuangan entah dimana tepinya, bukan salah bunda mengandung, memang sudah takdir yang menentukan begitulah senandung orang miskin, begitulah kindung sunyinya yatim piatu, sejak dulu sampai sekarang tidakkah kita merasa hibah? Tidakkah kita merasakan apa yang dirasakannya  pada saat sekarang ini? Betapa sedih bermuram durja, tidak ada kerabat dekat yang dapat melapangkan penderitaan sebagai obat mujarab baginya, hanya sisa kemiskinanlah yang menuntut ketabahan hidupnya, perjuangan amatlah panjang, rantau amatlah jauh, untuk mengharungi hidup ini kaki rasanya amat penat, berjalan tulang menjadi lemah, rantau tujuan terasa bertambah jauh karena diderita oleh kemiskinan sepanjang masa, penderitaan yang dirasakan tidak mengenal perhentian, mungkin rasa berakhir hilangnya nyawa dari badan, kadang-kadang dapur tidak berasap, anak tidak berbaju, istri idak berpakaian, rumah tangga dilanda oleh ombak persaingan, tempat beras selalu kosong, uang tidak ada, tetangga tidak menghiraukan, masyarakat tidak peduli mereka sibuk dengan kebutuhan sendiri. Semoga qurban ini bisa membawa keberkahan buat kita semua.

Sedangkan kebaikan di akhiratnya adalah, Allah SWT memberikan pahala yang sangat banyak, yang tidak ditentukan banyaknya. Sebagaimana dinyatakan dalam hadits riwayat Ahmad dan Ibnu Majah:

Artinya: “Dari Zaid bin Arqam, ia berkata : Para shahabat Rasulullah SAW bertanya, "Ya Rasulullah, apakah udlhiyah itu?". Jawab Nabi SAW, "Itulah sunnah ayahmu, Ibrahim". Mereka bertanya, "Apa yang kita peroleh dari udlhiyah itu, ya Rasulullah?". Jawab beliau, "Pada tiap-tiap helai bulunya kita peroleh satu kebaikan. Lalu para shahabat bertanya, “Bagaimana dengan bulu domba, ya Rasulullah?". Beliau SAW bersabda, “Pada tiap-tiap helai bulu domba kita peroleh satu kebaikan”. [HR. Ibnu Majah 2 : 1045,].

Sementara didalam hadits lain Rasulullah menyatakan:

Artinya: “Tidak ada satu amalan anak Adam pada hari raya Idul Adha yang lebih disukai oleh Allah selain menyembelih hewan qurban, qurban itu akan datang pada hari kiamat (menjadi saksi) dengan cukup anggota tubuhnya seperti tanduknya, kuku-kuku dan bulu-bulunya”. (H.R. Turmizi dan Ibnu Majah).

Kalau kita lihat kebaikan menyembelih hewan qurban diatas sangat banyak sekali, jangankan dagingnya bulu-bulu halusnya pun ada kebaikan. Akan tetapi kita lihat sendiri, berapa banyak umat Islam yang telah hilang semangat berqurban karena pengaruh pemikiran materialistik. Berkurban bukan karena Allah, tapi riya, show dan pamer, sementara yang lain lebih suka menghambur-hamburkan uang, bagi mereka perhitungan hidup ini bukan pahala dan dosa akan tetapi untung dan rugi. Bagi mereka tujuan hidup bukan lagi ibadah akan tetapi tujuan hidup ini adalah mencari uang, pangkat dan jabatan, semua cara dapat dihalalkan demi tercapainya tujuan dan impian, orang seperti ini hidupnya tanpa haluan, Na’uzubillahi min zalik.

Yakinlah, bahwa gaya hidup seperti ini adalah materialistik, ujung-ujungnya adalah kehancuran, hancurnya harkat dan martabat dan harga diri, hancurnya keluarga dan rumah tangga, hancurnya masa depan akhlak dan moral anak-naknya. Meskipun rumahnya megah tapi didalam nya bagaikan neraka, meskipun hidupnya mewah tapi bathinnya miskin dan menderita, meskipun tersungging senyumnya, berderai tawa candanya tapi nuraninya menjerit dan meronta karena tersiksa.

Marilah kita sadari, bahwa tujuan hidup adalah ibadah, pangkat dan harta bukanlah tujuan hidup, tetapi adalah alat hidup untuk berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya, mengabdi dan bertaqarrub kepada Allah. Islam tidak melarang mencari kekayaan seberapapun banyaknya, yang dilarang adalah menyembah harta, bertuhan kepada pangkat dan jabatan dan menjadikan diri hamba dunia.

Sadarilah, bahwa harta, pangkat dan jabatan adalah amanah dari Allah, nanti akan dimintai pertanggungjawabannya di yaumil akhir. Cintailah harta, cintailah pangkat dan jabatan, akan tetapi mencintai Allah haruslah diatas segala-galanya, seperti Nabi Ibrahim As, karena cintanya kepada Allah ia rela mengorbankan segalanya untuk Allah, termasuk anak kesayangannya sendiri.

Dan anak keturunan juga amanah dari Allah. Adalah kewajiban orang tua untuk mempertahankan kesucian jiwa anak-anaknya yang telah dibawanya sejak kelahirannya, kewajiban inipun akan dimintai pertanggungjawabannya, kebutuhan mereka bukan semata-mata makan, minum, pakaian, uang dan perlengkapan lainnya. Kasih sayang, bimbingan pendidikan akhlak adalah kebutuhan mereka yang tak terabaikan, jadikanlah mereka anak-anak yang sholeh, seperti Ismail yang rela dan sabar menjalani perintah Allah, meskipun sesudah itu ia tidak akan melihat keindahan dunia ini untuk selamanya.

Didalam Islam, nilai pengorbanan mesti dimiliki oleh setiap muslim, karena didalam Islam hidup ini adalah perjuangan dan setiap perjuangan memerlukan pengorbanan. Semakin hebat perjuangan diusahakan semakin besar pengorbanan dilakukan. Tidak ada perjuangan tanpa pengorbanan.

Pengorbanan adalah bukti kejujuran dan kesungguhan suatu perjuangan didalam hidup, maka siapapun kita mesti memiliki nilai pengorbanan;

Sebagai orang tua, apa saja pengorbanan kita dalam membesarkan anak-anak untuk berhasil menghantarkan anak yang sholeh.

Sebagai Anak, apa saja pengorbanan kita terhadap orang tua agar mereka bahagia dan dapat menghantarkan mereka masuk surga.

Sebagai Pahlawan, yang telah melakukan pengorbanan jiwa dan raga bahkan nyawa dalam membebaskan tanah air dari penjajah, berhasil dalam menghantarkan bangsa kepada kemerdekaan.

Sebagai Guru, pengorbanan yang dilakukan akan menjadikan anak-anak bangsa sebagai pemimpin yang cerdas dan bermoral dimasa yang akan datang.

Siapapun kita, mesti memiliki nilai pengorbanan. 

Timbul pertanyaan, sudahkan kita berkorban?, kalau berkurban untuk kambing, sapi memang sudah, tapi sudahkah kita berkurban untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.?

Saat ini, kita sudah bosan dengan pemimpin yang hanya pandai bicara, kita sudah bosan dengan orang kaya yang hanya pandai menunjukkan muka, dan kita sudah bosan dengan orang pintar yang hanya pandai berteori saja.

Saat ini, masyarakat menunggu pengorbanan diri kita sebagai pemimimpin yang sanggup berkurban dengan kekuasaan, Pakailah kekuasaan itu untuk menolong agama Allah, bukan untuk menurutkan hawa nafsu kekuasaan yang dapat mengorbankan masyarakat. Karena pengorbanan yang tulus dan ikhlas, pengorbanan yang benar dan jujurlah yang diterima oleh Allah SWT.

Marilah masing-masing kita menjadi contoh dalam memunculkan nilai-nilai pengorbanan, kita mulai dari rumah tangga kita, kita tunjukkan di masyarakat kita, ditempat kita berkerja, dimanapun kita berada, sebagai apapun kedudukan kita. Sesungguhnya semuanya itu akan kembali kebaikannya kepada kita juga, yaitu kita akan semakin dekat dengan Allah SWT.

Akhirnya, dengan semangat berqurban, marilah kita tingkatkan iman dan taqwa kita kepada Allah SWT, dalam upaya menghadapi gejolak kehidupan globalisasi, dimana pada era kemajuan tekhnologi, inpormasi dan komunikasi ini, nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan kita semakin ditantang. Pembinaan generasi muda harus menjadi prioritas utama karena mereka akan menjalani kehidupan yang penuh tantangan. Semoga Allah SWT meredhoinya. Aamiin. (Dinamis Agustus 2018)

***Penyuluh Agama Islam Kabupaten Kampar