Memaknai Tahun Baru Hijrah
Oleh: Gustika Rahman S.Pd.I
Para Pembaca yang budiman, Tidak terasa, bulan demi bulan menjelang, tahun demi tahun pun berlalu. Kaum Muslim kembali memasuki bulan Muharram, kali ini kita memasuki Tahun Baru 1435 Hijrah. Tidak seperti ketika datang Tahun Baru Masehi yang disambut dengan penuh semarak oleh masyarakat, Tahun Baru Hijrah disikapi oleh kaum Muslim dengan ‘dingin-dingin’ saja.
Memang, Tahun Baru Hijrah tidak perlu disambut dengan kemeriahan pesta. Namun demikian, sangat penting jika Tahun Baru Hijrah dijadikan sebagai momentum untuk merenungkan kembali kondisi masyarakat kita saat ini. Tidak lain karena peristiwa Hijrah Nabi SAW. sebetulnya lebih menggambarkan momentum perubahan masyarakat ketimbang perubahan secara individual. Peristiwa Hijrah Nabi Muhammad SAW tidak lain merupakan peristiwa yang menandai perubahan masyarakat Jahiliah saat itu menjadi masyarakat Islam. Inilah sebetulnya makna terpenting dari Peristiwa Hijrah Nabi SAW.
Ketidakmampuan kita memahami sekaligus mewujudkan makna terpenting Hijrah ini dalam realitas kehidupan saat ini hanya akan menjadikan datangnya Tahun Baru Hijrah tidak memberikan makna apa-apa bagi kita, selain rutinitas pergantian tahun. Ini tentu tidak kita inginkan.
Seribu lima ratus satu tahun yang lalu Rosululloh shollallohu’alaihi wa sallam, memutuskan hijrah dari Mekkah ke Madinah demi menyelamatkan islam yang belum banyak pemeluknya. Peristiwa tersebut menjadi awal penghitungan Tahun Baru Islam, Tahun Hijriah dan tanda mulai bersinarnya Islam.
Saat ini kaum muslim tidak perlu berjalan jauh sejauh lebih kurang 500 kilo meter dari Mekah ke Madinah. Kini umat islam bisa beribadah dengan tenang dan khusyu' berdakwah dengan leluasa serta memakmurkan Masjid tanpa gangguan. Namun sayang kenikmatan yang telah diberikan Allah Yang Maha Pemurah dan Maha Pengasih kurang disyukuri, banyak saudara-saudara kita yang mengaku Islam tetapi malas beribadah, banyak saudara-saudara kita dalam mencari nafkah berpaling dari kehalalan, tidak sedikit yang merasa menjadi pengurus masjid enggan memakmurkan Rumah Allah, hingga masjid kurang bermanfaat bagi umat.
Bagi yang muda-muda masih terlena dengan hiburan dunia, mereka tidak mau untuk berdakwah amar makruf nahi mungkar dengan berbagai alasan. Jadinya rata-rata umat di negeri ini kurang cerdas dan masih suka bertikai. Untuk itu semua solusi adalah hijrah HATI dan bukan hijrah FISIK saja. Hijrah dari hati yang sakit menjadi hati yang sehat, mengubah hati yang jelek menjadi hati yang baik.
Dalam sebuah Hadits Rosululloh SAW bersabda: “Ingatlah, bahwa di dalam tubuh manusia itu ada segumpal daging. Apabila ia baik, maka baiklah seluruh tubuh itu dan apabila ia rusak, akan rusaklah seluruh tubuh. Segumpal daging itu adalah hati” (HR. Bukhari-Muslim). Sedangkan menurut Imam Al Ghozali, jika ditinjau dari hidup dan matinya hati manusia dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu hati yang sehat, hati yang sakit dan hati yang mati. hati yang sehat adalah hati yang bisa mengajak dan membawa pemiliknya datang menghadap Allah Yang Maha Esa dengan selamat di hari kiamat kelak.
Hati yang sehat adalah hati yang selamat dari keinginan hawa nafsu yang menyalahi perintah-perintah Allah SWT, bila ia mencintai sesuatu ia akan mencintainya karena Allah SWT sedang bila ia membenci sesuatu, ia pun akan membencinya karena Allah SWT. Hati yang sakit, adalah hati yang mengandung penyakit orang-orang yang hatinya sakit sangat mudah diperdaya setan. Hati yang sakit mengandung dua unsur, ada rasa cinta kepada Allah SWT, iman, ikhlas, tawakal dan yang sejenisnya yang menjadikannya baik.
Namun ada juga yang berselera dengan hawa nafsu, tamak meraih kesenangan mementingkan kehidupan dunia, dengki, takabur dan sifat-sifat buruk lain yang mencelakakan. Sedang hati yang mati, adalah hati yang tidak mengenal Tuhan, tidak mau menyembah dan tidak mau beribadah kepada-Nya. Hati orang-orang seperti ini selalu berjalan mengikuti hawa nafsu. Bila ia mencintai sesuatu ia cinta karena nafsu, sedang bila ia membenci ia membenci juga karena nafsu.
Ia telah menjadi budak hawa nafsu, hawa nafsu menjadi tuannya serta mengendalikan dirinya, pola pikirannya hanya pada duniawi. Syaitan telah membutakan matanya seraya menulikan telinganya, sehingga tidak tahu mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang benar dan mana yang salah serta mana jalan ke surga atau jalan ke neraka.
Gambaran tentang siapa saja yang di dalam hatinya ada penyakitnya antara lain, pertama, orang-orang munafik yang ragu-ragu dalam beriman. Kedua, orang-orang yang membangkang, yang tidak mau menerima Alqur’an, bahkan sampai meninggal dalam keadaan kafir. Ketiga, orang-orang yang zalim. Keempat, orang-orang yang kasar hatinya dan suka permusuhan. Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta'ala tidak akan mendatangkan sesuatu penyakit kecuali telah menyediakan obatnya.
Setiap orang mempunyai penyakit hati harus berupaya untuk menyembuhkannya, supaya hatinya menjadi sehat. Sedangkan syarat utama untuk menyehatkan hati adalah taat kepada Allah SWT, yang diimplementasikan dalam perilaku kehidupan sehari-hari, takwa sebagai bukti kepatuhan kepada Allah SWT yang secara langsung juga bermanfaat bagi kesehatan hati. Menyehatkan hati dapat diwujudkan dalam beberapa tindakan: 1. Berzikir, mengingat Allah.
Orang-orang beriman wajib banyak berzikir. Berzikir dapat dilakukan sambil berdiri, duduk maupun berbaring. Berzikir merupakan amalan yang disukai Allah SWT (HR. Imam Malik).Zikir adalah amalan yang paling mudah namun mempunyai manfaat yang sangat besar karena Allah SWT selalu mengingat orang-orang yang berzikir. Sedangkan dengan berzikir hati menjadi tenang. 2. Membaca Alqur’an, zikir yang paling baik adalah membaca Alqur’an, karena kitab suci ini menyembuhkan berbagai penyakit serta pemberi jalan terang dan kebaikan dunia maupun akhirat. 3. Sering istigfar, mohon ampun kepada Allah SWT atas segala dosa-dosa dan kesalahan yang dilakukan. Syaikh Abdul As Salam berkata, “Hendaklah engkau tidak meremehkan istigfar. Meremehkan istigfar berarti engkau meremehkan dosa. Perbanyaklah istigfar. Semoga diantara seratus istigfar yang engkau ucapkan, ada satu istigfar yang diterima oleh Allah SWT. 4. Rajin berdoa. “Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan.” (QS. Al Mukmin:60). Orang yang mau berdoa berarti masih membutuhkan Allah SWT, berarti tidak sombong. Bukankah sombong termasuk tanda penyakit hati. Yang ke 5 Berselawat kepada Rasululloh SAW dengan mentaati perintah Allah SWT untuk berselawat kepada rasululloh SAW dengan harapan yang indah agar besok di akhirat bisa dekat dengan beliau, orang yang berselawat menandakan hatinya sehat. 6. Salat Malam. Sesungguhnya salah yang paling utama setelah salat wajib adalah salat malam atau qiyamul lail” (HR Muslim). Ibadah ini memang agak berat dijalankan namun sangatlah bagus untuk menjaga ketaatan dan kekuatan iman. Orang-orang yang banyak dosa akan merasa sulit melaksanakannya.
Imam Hasan Basri pernah berkata, “Seseorang yang berbuat dosa, berat baginya untuk salah malam.” Saat ini tahun sudah berganti tahun 1434 H berganti ke tahun 1435 H. inilah saatnya yang tepat untuk melakukan perubahan, perubahan paradigma dan perubahan pola pikir serta perubahan sikap dan perilaku dengan melakukan perjalanan menuju kebaikan, untuk mengharap dan menggapai ridho Ilahi dengan berhijrah hati. Selamat Tahun Baru Hijrah 1435, Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat dan keselamatan kepada kita semua, sehingga kita menjadi insan-insan yang di naungi oleh Allah SWT. Amiin Ya Robbal Alamin.
