ISLAM DAN BUDAYA BACA
Oleh : Drs. H. Ahmad Supardi Hasibuan, MA.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Rokan Hulu
Perintah membaca merupakan ajaran agama yang pertama kali dibawa oleh Nabi Muhammad saw kepada umatnya. Perintah membaca adalah ayat pertama yang diterima olehNya. Perintah membaca adalah pelantikan Muhammad sebagai seorang Nabi dan Rasul Utusan Allah. Dengan membaca umat Islam akan dapat melaksanakan ajaran agama Islam dengan baik dan benar. Dengan perintah membaca pula, umat Islam dan bahkan umat manusia pada umumnya, akan memperoleh ilmu pengetahuan. Dan dengan ilmu pengetahuan, umat manusia akan mendapatkan kebahagiaan, baik kebahagiaan di dunia maupun kebahagiaan di akhirat.
Rendahnya Budaya Baca
Sudah menjadi rahasia umum, bahwa budaya baca bangsa Indonesia termasuk dalam kategori yang paling rendah di asia dan bahkan di dunia. Rendahnya budaya baca ini, bukan hanya pada masyarakat umum, tetapi juga pada guru, dosen, siswa dan mahasiswa, yang sesungguhnya sangat dekat dengan dunia baca membaca. Tidak jarang kita dapati bahwa seorang guru membaca kurang dari satu jam perhari, padahal guru akan melakukan transformasi ilmu kepada para murid-muridnya.
Ki Supriyoko, menyebutkan bahwa World Bank di dalam salah satu laporan pendidikannya, Education ini Indonesia – From Crisis to Recovery (1998) melukiskan begitu rendahnya kemampuan membaca anak-anak Indonesia. Dengan mengutif hasil study dari Vincent Greanary, dilukiskan siwa-siswi kelas enam SD Indonesia dengan nilai 51,7 berada di urutan paling akhir setelah Filipina (52,6), Thailand (65,1), Singapura (74,0), dan Hongkong (75,5). Artinya, kemampuan membaca siswa kita memang paling buruk dibandingkan dengan siswa dari negara-negara lain.
Ahmad Baedowi, Direktur Pendidikan Yayasan Sukma, Jakarta, menyebutkan bahwa kebiasaan membaca yang kurang baik itu, dapat dilihat dari jumlah buku-buku baru yang terbit di negeri ini, yaitu hanya sekitar 8.000 judul buku setiap tahun. Bandingkan dengan Malaysia yang menerbitkan 15.000 buku baru setiap tahun, Vietnam 45.000 judul buku tiap tahun, sedangkan Inggris menerbitkan 100.000 judul buku setiap tahunnya. Jumlah judul buku baru yang demikian itu, menunjukkan betapa budaya baca masyarakat kita masih tergolong rendah.
Fakta lainnya, dapat dilihat pada tingkat kunjungan perpustakaan, baik di Perguruan Tinggi maupun di sekolah/madrasah. Siswa dan mahasiswa lebih senang duduk-duduk di bawah pokok kayu di kampus/sekolahnya, ketimbang harus masuk perpustakaan membaca buku. Kalaupun mereka masuk perpustakaan, kebanyakan di antaranya hanyalah membaca Koran dan bukan membaca buku-buku referensi utama yang kelak dijadikan bahan dalam penulisan karya ilmiahnya.
Kesemua fakta-fakta tersebut di atas, menunjukkan kepada kita bahwa minat, tradisi dan budaya baca bangsa kita berada di bawah rata-rata, bila dibandingkan dengan negara-negara lain. Padahal, salah satu indikator untuk menilai kualitas suatu bangsa adalah sebera besar tradisi dan budaya bangsa itu dalam hal membaca. Sebab, membaca merupakan kunci utama untuk peningkatan kualitas sumberdaya manusia. Dengan membaca, maka akan mendapatkan ilmu pengetahuan. Francis Bacon menyatakan, ilmu pengetahuan adalah kekuatan, siapapun pelaku dan pemiliknya.
Sejarah mencatat, bahwa Fir’aun seorang manusia besar yang namanya diabadikan dalam sejarah. Ternyata, kekuasaannya dibangun tidak semata-mata ditopang oleh kekuatan militer, tetapi juga dengan ilmu pengetahuan. Dalam sejarah disebutkan, pada saat Fir’aun berkuasa, dia memiliki perpustakaan pribadi dengan koleksi sejumlah 20.000 judul buku.
Membaca Tradisi Yang Hilang
Seperti disebutkan di muka, membaca adalah perintah pertama yang diturunkan oleh Allah swt kepada NabiNya Muhammad saw. Perintah membaca ini adalah sekaligus pengangkatan dirinya sebagai seorang Nabi dan Rasul Utusan Allah. Ayat yang pertama kali turun tersebut adalah Surat Al-Alaq ayat 1 sampai dengan 5. Ayat pertama ini mengandung perintah membaca untuk mencerdaskan diri. Membaca dengan mata, membaca dengan pikiran, membaca dengan hati. Perintah untuk mencerdaskan diri melalui iman, ilmu dan amal, harus dimulai dengan membaca. Membaca haruslah menjadi budaya bagi umat Islam, sebab perintah pertama yang dititahkan Allah swt kepada Muhammad saw adalah perintah membaca, baik membaca yang tersurat maupun yang tersirat. Baik membaca Kalam Allah (Ayat Qauliyah), maupun membaca alam sekitar (Ayat Qauniyah)
Suatu hal yang sangat menarik adalah di dalam ayat ini kata-kata Iqra’ atau perintah membaca terdapat pengulangan. Hal ini memberikan isyarat kepada kita bahwa kecakapan membaca tidak diperoleh kecuali dengan mengulang-ulang bacaan atau membaca hendaknya dilakukan sampai mencapai batas maksimal kemampuan, tetapi juga untuk mengisyaratkan bahwa mengulang-ulang bacaan Bismi rabbika (demi karena Allah) akan menghasilkan pengetahuan dan wawasan baru walaupun yang dibaca adalah itu-itu juga. Mengulang-ulang membaca Al-Qur’an akan menambah wawasan baru, mensucikan jiwa, menerangkan bathin dan bahkan menambah pemahaman baru sekalipun yang dibaca adalah itu-itu juga, membaca alam raya secara berulang-ulang akan mambuka tabir rahasia alam semesta, menambah perkembangan ilmu pengetahuan dan bahkan menambah kesejahteraan ummat manusia.
Al-Qur’an yang dibaca oleh Rasulullah SAW beserta sahabat-sahabatnya pada masanya dan Al-Qur’an yang dibaca oleh ummat Islam sesudahnya dan bahkan sampai dengan saat sekarang ini adalah Al-Qur’an yang itu-itu juga yang tidak mengalami perubahan walau satu huruf sekalipun, tetapi pemahaman dan penafsiran orang terhadap Al-Qur’an itu mengalami perkembangan yang luar biasa dari zaman Rasulullah SAW sampai dengan saat ini. Hal ini sama dengan membaca alam raya yang dilakukan oleh orang-orang zaman dahulu kala dengan yang dilakukan oleh orang-orang zaman modern, yang dibaca tetaplah alam raya yang itu-itu juga, tetapi hasil dari pembacaan itu mengalami perkembangan yang sangat luar biasa sebagaimana yang kita saksikan pada zaman modern saat ini.
Perintah membaca telah direalisasikan dengan penuh kesadaran oleh oleh para sahabat dan generasi sesudahnya . Akibatnya kita menyaksikan peradaban Islam menjadi sokoguru peradaban dunia yang menguasai dua pertiga jagat ini. Peletak dasar ilmu-ilmu yang ada sekarang lahir dari tangan-tangan para ulama yang memiliki kegilaan dalam membaca, Para ulama adalah orang-orang yang sangat mencintai buku-buku. Mereka memiliki hubungan yang kuat dengan buku. Mereka senang sekali menelaahnya, karena menganggap buku sebagai gudang dan sumber ilmu.
Diantara sekian banyak ulama yang memiliki kegilaan terhadap buku, sebahagian di antaranya adalah Al-Jahizh. Al-Jahizh, jika sedang memegang buku apa saja, maka ia akan membacanya sampai tuntas. Hal yang sama dilakukan oleh Al-Fathu. Al-Fathu, suka menyelipkan buku di khuf (sepatunya). Dan ketika berdiri meninggalkan khalifah Al-Mutawakkil untuk keperluan buang air kecil atau untuk shalat, ia keluarkan kitabnya lalu ia baca sambil berjalan hingga tiba ke tempat yang ditujunya. Ketika pulangnya, ia melakukan hal yang sama sampai tiba di tempat semula. Ulama lain Ismail bin Ishaq, setiap saat dia pasti memegang buku dan membacanya, atau sekedar membolak-baliknya untuk mencari informasi perihal kitab-kitab baru.
Abu Bakar al-Khayyath An. Nahwi menggunakan seluruh waktunya untuk belajar, termasuk ketika ia dalam perjalanan. Akibatnya hobinya itu, ia pernah jatuh ke lereng bukit, dan diinjak oleh binatang. Dan masih banyak lagi ulama-ulama lainnya, yang mempunyai kegilaan membaca dan termasuk mengoleksi buku perpustakaan pribadinya.
Upaya Peningkatan Budaya Baca
Upaya untuk meningkatkan budaya baca masyarakat yang paling utama sekali dilakukan adalah di rumah dan di sekolah. Para orang tua harus mampu menciptakan dan merangsang kesadaran anak-anaknya untuk banyak membaca di rumah. Memberikan contoh dalam bentuk mendirikan perpustakaan mini di rumah dan atau membawa mereka ke toko-toko buku, adalah salah satu upaya yang cukup efektif yang harus dilakukan oleh orang tua. Kenyataan menunjukkan, bahwa saat ini hanya sebagian kecil rumah yang mempunyai perpustakaan dan sebagian besar para orang tua lebih banyak membawa anaknya ke mall ketimbang ke perpustakaan.
Sementara itu, di sekolah para guru, harus dapat melakukan pembelajaran bagi anak didiknya untuk sering dan betah berada di perpustakaan. Para guru di sekolah, harus dapat mencari strategi baru dan jurus-jurus jitu, sehingga anak-anak didik lebih betah berada di perpustakaan dan membaca buku, ketimbang harus ngobrol tak menentu di luar. Sekolah dapat menempuh beberapa cara, seperti melakukan ekspose buku-buku baru secara berkala dan berjenjang yang disesuaikan dengan tema dan subyek yang dipelajari.
Selain itu, memberikan reward bagi peserta didik yang paling banyak ke perpustakaan. Hal ini dibuktikan dengan daftar hadir kunjungan perpustakaan dan banyaknya buku yang dibaca. Untuk menguji buku yang dibaca, dapat dilakukan dengan cara menguji atau menanyakan kepada yang bersangkutan isi dan kandungan buku yang dibaca. Selain itu, dapat juga dilakukan dengan memperbanyak pemberian tugas menulis, sayembara menulis atau lomba menulis artikel yang bahan-bahan utamanya diambil dari perpustakaan. Atau dapat juga dilakukan dengan pemberian tugas membuat resume buku tertentu yang ada di perpustakaan.
Namun demikian, dari semua alternatif langkah-langkah tersebut di atas, yang paling penting adalah meningkatkan kesadaran dan motivasi untuk membaca dari dalam diri masing-masing orang. Sebab dengan kesadaran dan motivasi yang tinggi dari seseorang untuk membaca, akan menuntunnya secara otomatis untuk gemar dan terbiasa membaca, tanpa merasa ada paksaan dari pihak manapun juga.***
