BUAH KETAQWAAN DARI SEORANG PENJAGA KEBUN DELIMA

Ditulis Oleh admin Sabtu, 07 Januari 2012, 12:00
Oleh : Drs. H. Ahmad Supardi Hasibuan, MA. Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Rokan Hulu Provinsi Riau Tersebutlah dalam sebuah kissah, bahwa ada seorang mantan budak hitam lagi kurus yang dimerdekakan oleh tuannya. Namanya Mubarak. Setelah merdeka, dia bekerja pada seorang pemilik kebun sebagai buruh. Dia bekerja dengan jujur dan amanah sesuai dengan perintah yang diberikan oleh tuannya. Dia bahkan menjaga kebun itu dengan penuh ikhlas, sehingga tak terlintas dalam hati dan fikirannya untuk berbuat curang, baik pada tuannya maupun pada kebunnya. Sekalipun kecurangan itu dapat dengan mudah dia lakukan jikalau dia mau. Namun itu semua tak dilakukan oleh Mubarak, sebab dia sadar bahwa dia harus menjaga dan memelihara amanat yang diberikan oleh tuannya. Suatu hari, sang tuan mengunjungi kebunnya bersama dengan beberapa orang sahabatnya. Dipanggillah Mubarak, Petikkan kami beberapa buah delima yang manis, pintanya. Bergegas Mubarak melaksanakan perintah sang tuan. Dia memetik beberapa buah delima dan diserahkannya kepada sang majikan dan beberapa sahabatnya tadi. Namun, ketika majikan mencicipi delima yang dipetik Mubarak, tak satupun ada yang manis. Semuanya masam. Sang majikan marah dan menanyai mubarak, Apa kamu tak bisa membedakan delima yang Manis dan yang masam?, Selama ini anda tak penah mengizinkan saya makan barang sebuahpun, bagaimana saya bisa membedakan mana delima yang manis dan mana delima yang asam ?, Jawab Mubarak Sang tuan merasa kaget dan tak percaya, bertahun-tahun bekerja di kebun itu, tapi Mubarak tak pernah makan satu buahpun. Maka ia menanyakan hal itu kepada tetangga- tetangganya. Mereka semua menjawab, Mubarak tak pernah makan delima barang sebuahpun. Singkat cerita, selang beberapa hari, sang tuan datang menemui Mubarak untuk dimintai pendapatnya. Aku hanya punya seorang anak perempuan, dengan siapa aku harus menikahkannya?, Dilanjutkan sang tuannya, orang Yahudi menikahkan karena kekayaan. Orang Nashrani menikahkan karena ketampanan. Orang Jahiliyah menikahkan karena nasab kebangsawanan. Mubarak menjawab dengan tenang, Benar Tuan !, orang Yahudi menikahkan karena kekayaan, orang Nashrani menikahkan kerena ketampanan, orang Jahiliyah menikahkan karena nasab kebangsawan, sedangkan orang Islam menikahkan kerena ketaqwaan. Tuan termasuk golongan mana, silahkan tuan menikahkan putri tuan dengan cara mereka. Tetapi ingat tuan ! Semua itu berisiko, kecuali menikahkan putri tuan karena ketaqwaannya. Jika pilihan terakhir ini yang tuan pilih, insya Allah putri tuan akan dilindungi dan diberkati Allah Azza wa Jalla. Putri tuan akan mendapatkan kebahagiaan untuk selama-lamanya, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Pemilik kebun itu berkata, Demi Allah, Wahai Mubarak penjaga kebunku ! Tentu aku hanya akan menikahkan putriku atas dasar ketaqwaan, dengan laki-laki yang memiliki tingkat ketaqwaan yang tertinggi di sisi Allah, sebab manusia yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling tinggi kualitas ketaqwaannya. Dan saya yakin dan percaya, hanya dengan menikahkannya dengan laki-laki seperti inilah yang dapat membahagiakannya untuk selama-lamanya. Ingat wahai Mubarak ! Aku tidak mendapati laki-laki yang lebih bertaqwa kepada Allah melebihi dirimu. Menurutku, di dunia ini hanya engkaulah laki-laki yang paling tinggi kualitas ketaqwaannya di sisi Allah. Maka dari itu, aku akan menikahkan putriku dengan mu. Subhanallah, Mubarak menjaga dirinya dari makan buah delima walau sebiji sekalipun, di kebun tempat dimana dia bekerja bertahun-tahun, karena belum pernah diizinkan oleh pemiliknya, namun karena kejujurannya itu, akhirnya Allah anugerahkan kebun itu beserta putri pemiliknya kepadanya. Balasan memang sesuai dengan amal. Barang siapa mininggalkan sesuatu karena Allah akan menggantikannya dengan yang lebih baik. Mubarak bukan hanya bisa mencicipi sebuah buah delima yang dipeliharanya, tetapi ia dapat menikmati semuanya dan bahkan ia dapat memiliki pemilik kebunnya sekaligus. Arti Sebuah Kejujuran Kejujuran memang sebuah sifat yang sangat mahal. Kejujuran memegang arti yang sangat penting bagi semua orang. Kejujuran bahkan menjadi sifat wajib bagi seorang Nabi ataupun Rasul. Kejujuran mudah diucapkan, tetapi sangat sulit untuk dilaksanakan. Bagi seseorang yang jujur, bukan hanya mendapat pujian dari umat manusia, tetapi juga mendapat pujian dari Sang Khaliq Allah SWT. Kejujuran menjadi harapan seseorang bagi orang lain, sekalipun diri yang bersangkutan sendiri bersifat tidak jujur. Kejujuran saat ini telah menjadi barang langka, padahal peminatnya sangat banyak. Oleh karena itu, kejujuran menjadi berharga mahal, melebihi mahalnya mutiara yang terendam di lautan. Kejujuran adalah pancaran dari sebuah iman kepada Allah SWT. Seseorang yang beriman, percaya akan adanya Sang Maha Pencipta, percaya akan hari qiamat dan hari pembalasan, maka perilakunya pastilah akan melahirkan sifat kejujuran. Sebab dia yakin dan percaya, bahwa apapun yang dia lakukan dalam hidup dan kehidupan ini, pastilah diketahui dan mendapat balasan dariNya. Dengan demikian, kejujuran bukanlah sesuatu yang dibuat-buat, apalagi diada-adakan. Kejujuran adalah sesuatu yang niscaya, sebagai sebuah perilaku yang terpancar dari kepribadian seorang muslim yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT. Mengingat pentingnya arti sebuah kejujuran sebagaimana halnya dapat dilihat dalam kisah Mubarak, seorang penjaga kebun delima tersebut di atas, maka semua orang dituntut untuk dapat berbuat jujur. Berbuat jujur hendaknya menjadi pakaian hari-hari bagi seseorang. Pakaian jujur harus dilatih dan dibiasakan sejak manusia kecil, sebab kalau tidak, maka seseorang akan terbiasa berbuat tidak jujur. Hal itu berarti bahwa kejujuran harus dibiasakan sejak manusia kecil, sampai ia dewasa, sehingga sifat kejujuran akan melekat pada diri seseorang setiap saat. Paduan antara iman dan latihan sejak dini, menjadikan seseorang memiliki sifat jujur sejati yang tidak perlu diragukan kualitasnya. Buah Ketaqwaan Didalam beberapa teks Al-Quran dan juga Alhadis, ditemukan beberapa janji Allah dan RasulNya bagi orang-orang yang bertaqwa. Janji-jani itu seperti sifat keberuntungan, kemenagan, ketenangan, kebahagiaan sejati baik di dunia maupun di akhirat. Janji-janji Allah dan RasulNya tersebut, ada yang mendapat balasan langsung di dunia ini dan ada yang mendapat balasan nanti di akhirat kelak serta ada yang mendapat balasan langsung sekaligus di dunia dan di akhirat. Yang sering jadi persoalan adalah balasan Allah itu, ada yang diketahui oleh yang bersangkutan dan dirasakannya secara langsung seperti halnya Mubarak si penjaga kebun delima. Namun yang paling banyak, yang bersangkutan tidak merasakan akan balasan Allah itu, padahal sesungguhnya Allah SWT telah memberikan balasan yang berlipat ganda. Tidak merasakan, ketidak tahuan, tidak menyadari akan balasan yang diberikan oleh Allah SWT, sering mendominasi kehidupan seseorang. Kita menyadari bahwa kita telah banyak berbuat kebaikan kepada Allah, namun sering kita tidak menyadari, tidak merasakan, tidak mengetahui akan balasannya, padahal Allah SWT sebenarnya telah memberikan balasan. Dalam konteks ini, kepekaan kita akan nikmat yang diberikan Allah, harus dipupuk secara terus menerus, sehingga dapat merasakan balasan kebaikan Tuhan itu. Sesungguhnya telah banyak nikmat yang telah dianugerahkan Allah kepada kita, namun kita tidak sadar akan kebesaran dan manfaat nikmat Tuhan itu bagi hidup dan kehidupan kita. Sekiranya kita mau berhitung akan nikmat yang diberikan Allah SWT, yang sesungguhnya itu adalah bahagian dari balasan atas kebaikan yang kita berikan untuk Allah, sungguh nikmat Allah itu luas biasanya banyaknya. Saking banyaknya, sekiranya nikmat-nikmat Allah itu kita hitung satu persatu, tentulah kita tidak akan mampu untuk menghitungnya. Dalam satu ayat diceritakan, sekiranya umat manusia mau menuliskan nikmat-nikmat yang dianugerahkan Allah SWT kepada kita, dengan menjadikan seluruh ranting-ranting kayu yang ada di muka bumi sebagai penanya dan menjadikan seluruh air yang ada di lautan sebagai tintanya, kita tuliskan nikmat-nikmat Tuhan itu sampai kering air di lautan dan bahkan ditambah tujuh kali lipat lagi, belum dapat dituliskan semua nikmat Allah SWT itu. Begitulah bagi orang yang kepekaannya tinggi, dia dapat merasakan betapa besarnya nikmat dan balasan yang telah diberikan Allah SWT kepadanya. Dan ini pulalah yang dirasakan oleh Mubarak si Pejaga Kebun Delima. Kejujuran dan kepercayaan akan menjaga amanah yang diberikan oleh tuannya, dia mendapatkan hasil luar biasa, bukan hanya dapat menguasai seluruh kebunnya, tetapi dia juga dapat memiliki pemeilik kebunnya sekaligus. Inilah buah ketaqwaan dari seorang penjaga kebun delima. Allah SWT memberikan balasan yang berlipat ganda kepadanya. Maha Benar Allah atas segala firmanNya, yang telah menjanjikan kepada orang=orang yang berbuat di jalan Allah dengan memberikan balasan tujuh ratus kali lipat, bahkan lebih dari itu lagi yaitu sesuai dengan kehendakNya. Berapa besarnya, hanya Allah lah yang dapat mengetahuinya. Wallohu Aklam Bishshowaab.***