Safari Ramadan 1447 H di Pekaitan, Peranan ASN KUA Berdampak dalam Pembinaan Umat

Rokan Hilir (Kemenag) - Dalam rangka menghidupkan syiar dan memperkuat pembinaan umat di bulan suci Ramadan 1447 H, telah dilaksanakan kegiatan Safari Ramadan yang diinisiasi secara kolaboratif oleh MWC NU Kecamatan Pekaitan, MUI Kecamatan Pekaitan, GP Ansor Kecamatan Pekaitan, Banser Kecamatan Pekaitan, dan KUA Kecamatan Pekaitan. Kegiatan yang berlangsung pada Rabu, (25/2/2026) bertepatan dengan malam ke-8 tersebut dipusatkan di Masjid Ashofa Kepenghuluan Rokan Baru.
Kehadiran unsur ulama, tokoh masyarakat, serta jemaah dari berbagai kalangan menunjukkan kuatnya semangat kebersamaan dalam menyemarakkan bulan penuh keberkahan ini.
Safari Ramadan kali ini menghadirkan Penghulu KUA Kecamatan Pekaitan, Habil Dela Fadzillah, sebagai pengisi tausiyah utama. Turut membersamainya, Penyuluh Agama Islam Kecamatan Pekaitan, Waliono, selaku perwakilan Kepala Kantor KUA Kecamatan Pekaitan. Sinergi keduanya mencerminkan peran strategis institusi keagamaan dalam membina dan mengarahkan kehidupan spiritual masyarakat.
Dalam tausiyahnya, Habil Dela Fadzillah menegaskan bahwa Ramadan merupakan "Ayahrul Qur’an", bulan diturunkannya Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup, sumber nilai, dan pedoman transformasi peradaban. Karena itu, umat Islam diajak untuk kembali kepada Al-Qur’an secara kaffah mentadabburinya secara mendalam, serta mengaktualisasikan ajarannya dalam kehidupan personal maupun sosial.
Ia menekankan bahwa puasa adalah proses tazkiyatun nafs dan riyadhah ruhiyah, latihan spiritual yang bertujuan membentuk pribadi muttaqin. Ramadan hendaknya dipandang sebagai kesempatan terakhir dalam kehidupan, sehingga setiap ibadah dilaksanakan dengan kesungguhan dan keikhlasan optimal.
"Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi merupakan proses latihan spiritual untuk membentuk pribadi yang muttaqin. Mari jadikan Ramadan sebagai kesempatan terakhir dalam hidup, sehingga setiap ibadah dihalankan dengan penuh keikhlasan dan optimal" ujarnya dihadapan jemaah.
Lebih lanjut, dalam tausiyahnya ia menegaskan bahwa ibadah malam, sedekah, serta berbagai amal kebajikan lainnya tidak semestinya berhenti saat Ramadan berakhir, melainkan harus dijaga konsistensinya dalam kehidupan sehari-hari.
"Qiyamullail, sedekah, dan berbagai amal kebajikan hendaknya dijadikan kebiasaan yang berkelanjutan, sehingga nilai-nilai Ramadan tetap hidup dan membekas dalam diri, meskipun bulan suci telah berlalu," pesannya kepada jemaah.
Acara kemudian dilanjutkan dengan pelaksanaan salat Tarawih dan Witir berjemaah dalam suasana khusyuk dan penuh kekhidmatan, sebagai penegasan bahwa Ramadan bukan hanya ruang refleksi intelektual, tetapi juga momentum penghambaan total kepada Allah Swt.
Kehadiran Penghulu sebagai penceramah sekaligus menegaskan bahwa Peran Penghulu, tidak hanya sebatas menikahkan calon pengantin saja. Lebih dari itu, Penghulu juga hadir dalam pembinaan umat, terutama dalam momentum spiritual malam Ramadan. Kehadirannya menegaskan bahwa ASN Kemenag meberikan dampak positif ditengah masyarakat. (HBL/Humas)
