MASJID RAMAH ANAK

Oleh : H. Qawiyun Awal, MA
JF. Analis Kebijakan Kemasjidan Bidang Urais Kanwil Kemenag Prov. Riau
Penulis
pernah membaca tagar di sebuah media, “#masjidramahanak”, lalu timbul
pertanyaan apakah masjid tidak ramah anak lagi ? Atau masjid selama ini ada
perilaku “kasar”, (maksudnya: Pengurus Masjid) ada kasus kekerasan pada
anak-anak selama ini di masjid?. Mungkin sepintas jawabnya ada atau tidak ada,
tetapi yang dimaksud dengan masjid ramah anak adalah sebuah ekosistem masjid
yang memiliki fasilitas layanan
beribadah kepada anak-anak atau remaja, untuk sarana bermain sekaligus masjid
tempat pembiasaan anak rajin ibadah sholat dan penempaan adab serta tempat
menimbah ilmu pengetahuan agama bagi anak-anak atau remaja di masjid.
Mensemangati
judul artikel di atas, masjid ramah anak ini bukanlah sesuatu yang baru atau
‘asing’, sebab sudah saatnya masjid lebih
banyak membuat ‘magnet’ bagi anak-anak atau remaja untuk bisa tertarik
ke masjid, dengan fasilitas atau sarana belajar agama via TPQ/TPA dan ada ruang (teras masjid yang difungsikan)
untuk belajar agama dan sarana bermain dalam konteks pembelajaran. Merujuk dan
mencermati Kebijakan Kementerian Agama RI via Keputusan Ditjen BIMAS
Islam Nomor: DJ.II/802/ Tahun 2014 tentang Standar Pembinaan Manajemen Masjid,
bagian diktum pembinaan Imarah; Kegiatan Remaja Masjid; bentuk kegiatan pengajian rutin mingguan atau
bulanan khusus untuk anak-anak dan remaja, dan kegiatan Pendidikan non-formal
berupa Taman Pendidikan Al-Qur’an di antaranya.
Sudah
semestinya Takmir Masjid, merencanakan program untuk anak-anak/ remaja kegiatan
pengajian pengetahaun agama; berupa fiqih ibadah, praktek sholat dan aqidah
akhlaq khusus 2 x sebulan, dengan mendatangkan guru-guru/ustazd yang
menarik menyampaikannya kepada anak-anak/remaja, sehingga kegiatan pengajian
bagi anak-anak ini, dapat meminimalisir anak-anak dari kecanduan video games,
play station, gadget yang hari ini tidak lepas dari genggaman mereka. Gadget (handphone) tidak
terlepas dari ‘nilai positif dan negatifnya’ alat tehnologi ini dua sisi mata
uang yang tidak bisa kita pungkiri realitasnya.
Masjid
ramah anak, hendaknya para Takmir Masjid
memikirkan masa depan agama anak-anak muslim, via masjid. Coba kita
berhitung Pendidikan anak-anak/ remaja kita usia sekolah SD- SMP/MTs bahkan
tingkat SLTA, persentase mereka belajar Pendidikan agama di sekolah umum sangat
minim. Anak-anak kita hari ini terbius oleh video games (Gadget),
keadaban anak/remaja ke orangtua, teman dan gurunya kurang, tutur sapanya
dengan orang tua-guru kurang keadaban akhlaqnya—tutur bahasanya ---mirip dengan
ke-kawan seusianya. Tapi ini realitas anak-anak/remaja kita hari ini. Kalaulah
saban hari anak-anak/remaja habis
waktunya main gamesnya, alamat anak-anak kita sudah dipastikan
hancur perilaku Islaminya di hari tua. Anak-anak/
remaja mampu berjam-jam dengan gamesnya. Oleh karena itu, kita berharap
dari salah satu fungsi masjid menciptakan
masjid ramah anak, dalam konteks mengembalikan fungsi memakmurkan masjid
secara holistic bagi kesejahteraan lahir dan bathin umat. Mental,
perilaku dan ajaran keadaban/akhlaq anak-anak/remaja mari kita sentralisasikan
kembali ke masjid. Masjid ‘bengkel’ moral dan keadaban anak-anak/remaja.
Masjid ramah anak/remaja, artinya takmir masjid merevitalisasi fungsi masjid
dengan membuat program kajian rutin agama
khusus untuk mendidik/ menghadirkan anak-anak di masjid. Mari Takmir Masjid berbagi kajian, misal dalam
seminggu 3 x pengajian dewasa/para orang tua, 1 x seminggu atau 2 x sebulan
jadwal kajian/ceramah agama khusus untuk anak-anak/ remaja yang berumur 6 – 15
tahun. Saling bersinerji Takmir Masjid, Ketua RW dan Ketua RT-nya mendorong
para anak-anak/remajanya ke masjid.
Penulis
sangat bangga masjid-masjid kita sudah mapan dengan program pengajian
orangtua/dewasa harian, minggun dan
bulanan dengan mendatangkan ustad-ustad tersohor. Tapi apa sempat mereka
menyampaikan ke anak-anaknya. Orang tua kita sibuk. Tapi cobalah cari masjid-masjid yang
mengadakan kegiatan; Pengajian rutin /bulanan buat khusus anak-anak/ remaja
kita, mungkin tidak ada!. Syukur-syukur ada didikan subuh bagi anak-anak
di masjid, tapi bisa dihitung dengan jari berapa masjid. Bahkan remaja masjid
pun ada hanya struktur papan namanya saja yang ada di SK kepengurusan, tapi aktivitasnya
wallahu’alam. Yang sudah ada aktivas
remaja masjidnya, Alhamdulillah. Disinilah peran Takmir Masjid yang kita
tunggu-tunggu di era millennial ini. Mari kita
menggandeng tangan-tangan anak-anak/remaja kita ke masjid.
Jangan
ada Takmir Masjid melakukan ‘kekerasan verbal’ kepada anak-anak/remaja,
yang membuat mereka takut datang ke masjid, seperti Bahasa atau pamphlet/banner
; ” Anak-anak yang belum sunat dilarang ke Masjid !. atau “ anak-
anak yang ribut saat sholat berjamaah, tidak usah sholat ke masjid”. Apalagi anak-anak dipukuli atau dengan
kata-kata kasar pada mereka. Ini bisa merusak mental anak-anak remaja.
Bagaimana kita mengatasi anak-anak/remaja yang ribut di masjid. Kita buat
aturan main yang elegant. Anak-anak yang ribut di masjid, bukan diteriaki, tapi
mereka diatur, dikendalikan ributnya, dengan cara apa?. Takmir Masjid mencari
orang tua, yang disegani oleh anak-anak (sebagai pembimbing mereka ketika
berada di masjid). Atau trik-trik lain yang bisa anak-anak tidak ribut
di masjid. Karena anak-anak/ remaja kita hari ini- adalah pengganti kita 10 -
20 tahun mendatang, ayo kita kenalkan masjid yang ramah anak kepada
mereka. Harus ada petugas/pembimbing anak-anak/ remaja yang ditunjuk oleh
Takmir Masjid. Boleh dari salah seorang pengurus masjid, atau orang yang lain
lebih piawai membimbing anak-anak tersebut, dengan syarat Takmir Masjid juga
memperhatikan kesejahteraan petugas/pembimbing anak-anak tersebut. Jangan hanya
Takmir Masjid maunya nyaman ibadah sholatnya, tapi kemakmuran petugas/
pembimbing anak-anak tidak diperhatikan. Masa depan agama dan akhlaq anak-anak/remaja saat ini, kita tidak boleh abai dan cuek. Ini makna “memakmurkan dan dimakmurkan masjid”.
Takmir
Masjid memliki layanan fasilitas masjid
ramah anak, dengan indaktor layanan, kegiatan pengajian rutin bulanan khusus buat anak-anak/ remaja terlaksana
dengan baik, misalnya di Riau masjid/mushalla terdata diaplikasi SIMAS 14.662
masjid/mushalla, sekiranya masing-masing Takmir Masjid memiliki 30 orang
anak-anak/remaja saja yang dididik, maka Takmir Masjid sudah mencerdaskan/
memakmurkan generasi Islam sebanyak 439.860 orang anak-anak/remaja dengan
harapan; anak-anak/remaja kita, kokoh ilmu agamanya dan memiliki keadaban
(akhlaq) di era globalisasi saat ini, yang merupakan misi dari sang Pembawa
Risalah Islam yakni Nabi Muhammad SAW. Masjid Digdaya, Indonesia Maju !.
Qawiyun
Awal adalah JF Analis Kebijakan Kemasjidan Bidang Urais
– Kanwil Kemenag Provinsi Riau, NIP. 197902222001121003.
