“Ramadhan Spesial Bagi Milenial”

Oleh: Ihsanul Hadi Alharzi
Milenial, ungkapan ini semula asing di dengar, tetapi lama kelamaan menjadi familiar yaitu untuk menyebut mereka yang lahir tahun 2000-an ke atas walaupun istilah itu juga cocok dan sesuai untuk generasi kelahiran 90-an. Jadi sebenarnya jika diartikan secara lebih luas, Milenial adalah para remaja dan pemuda yang hidup di setiap zamannya. Berbicara tentang pemuda dan remaja (red-Islam), hakikatnya mereka hendaknya memiliki karakter kuat dalam keagamaan, dan ini merupakan suatu perjuangan yang tidak mudah dan sederhana. Sebab pertentangan yang paling berat dan sulit serta menantang dalam fase kehidupan para Milenial adalah menundukkan masa muda untuk tumbuh dalam beribadah kepada Allah (syaabun nasya-a fi ‘ibadatillah).
Dalam realitasnya, justru tantangannya adalah dorongan kebaikan dan keburukan sama kuatnya. Semakin sering generasi Milenial kalah dalam menghadapi godaan, seperti itulah akhir kehidupan mereka. Semakin sering Milenial menang dalam pertarungan melawan musuh internal dan eksternal, akan seperti itulah akhir/ending kehidupannya. Itulah sebabnya, Rasulullah pernah menyebutkan di antara tujuh golongan yang memperolah naungan pada saat tiada naungan kecuali naungan dari-Nya pada hari kiamat adalah Milenial yang tumbuh dalam kerangka beribadah kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Dahsyat bukan,?
Milenial yang ingin sukses adalah mereka yang pandai memanfaatkan peluang masa mudanya untuk maju dan berubah. Ia menyadari bahwa peluang itu tidak akan berulang. Ia memanfaatkan masa muda sebelum datang masa lemahnya (tua), masa sehat sebelum sakitnya, masa lapang sebelum sempitnya, masa terang sebelum masa gelapnya. Ada ungkapan dalam sastra Arab yang melukiskan sebuah penyesalan di masa beruban. “Aduhai alangkah indahnya jika masa muda kembali lagi hari ini, (sekarang) aku (hanya) akan menceritakan kepahitan pada masa beruban”.
Mencermati dinamika kehidupan yang fluktuatif (naik-turun) dan terus berubah, para pemuda Muslim dituntut memiliki modal kuat khususnya dari ajaran Islam, agar kelak di masa tua tak menyesal. Setidaknya ada beberapa kemampuan yang perlu dimiliki para pemuda Muslim hari ini; daya pikir (ijtihad) plus kritis, daya kalbu (mujahadah), dan daya raga (jihad) dalam arti yang seluas-luasnya. Termasuk dalam hal ini adalah jihad peradaban (kehidupan) di mana memilih hidup dalam kemuliaan Islam dan meninggal dalam keadaan husnul khatimah.
Fakta Sumbangsih Milenial Dalam Fase Sejarah
Peristiwa Rengasdengklok sebagai contoh, sebagaimana ditulis Begawan Sejarawan Indonesia, Ahmad Mansur Suryanegara dalam buku masterpiece-nya “Api Sejarah” dimana beliau menyebutkan tidak bisa dipungkiri bahwa perubahan yang terjadi di negeri ini adalah hasil peran serta para pemuda. sebuah peristiwa penting di penghujung perjuangan meraih kemerdekaan adalah salah satu contohnya. Pada peristiwa itu para pemudalah yang mendesak para tokoh pencetus kemerdekaan Indonesia untuk secepatnya menyusun naskah proklamasi dan pada 17 Agustus 1945 dibacakanlah naskah proklamasi untuk menyatakan bahwa bangsa Indonesia merdeka dan telah terbebas dari para penjajahan.
Selain di Indonesia, peran pemuda juga terlihat di berbagai perubahan peradaban dunia ini. Sebagai contoh adalah penaklukkan Konstantinopel yang merupakan ibukota Romawi Timur (Bizantium), Napoleon Bonaparte pernah mengatakan, “Apabila dunia ini adalah sebuah Negara, maka Ibukotanya adalah Konstantinopel”.
Ali Muhammad Ash-Shallabi dalam bukunya “Sejarah Turki Utsmani” mengatakan bahwa Kota Konstantinopel itu ditaklukkan oleh seorang pemuda berumur 23 tahun, dialah Muhammad Al-Fatih. Dalam catatan Kiblat.Net, Pada zaman Rasulullah juga banyak pemuda hebat, sebut saja Usamah bin Zaid (18 tahun) yang memimpin pasukan untuk menghadapi pasukan terbesar dan terkuat di masa itu dan beliau menjadi Jenderal termuda yang ditunjuk Rasulullah SAW. Sa’ad bin Abi Waqqash (17 tahun) yang melindungi Rasulullah di perang Uhud. Memiliki kedewasaan dan kematangan berpikir sehingga termasuk dari enam orang ahlus syuro.
Pemuda hebat dan berani lainnya adalah Al Arqam bin Abil Arqam yang berumur 16 tahun. Rumahnya dijadikan sebagai markas dakwah Rasul SAW selama 13 tahun berturut-turut. Selain itu ada Zubair bin Awwam yang berumur 15 tahun dan Thalhah bin Ubaidillah yang berumur 16 tahun karena pengorbanannya untuk Rasulullah dan perjuangannya untuk Islam, Rasul Shallallahu’alahi wasallam menyampaikan bahwa mereka berdua akan menjadi tetangga beliau di surga.
Pemuda belia berumur 13 tahun tidak kalah cemerlangnya, beliau adalah Zaid bin Tsabit seorang penulis wahyu (Al-Qur’an) dan hafal kitabullah dan ikut serta dalam kodifikasi Al Qur’an. Ada juga pemimpin muda bernama Atab bin Usaid yang diangkat oleh Rasulullah sebagai gubernur Makkah pada umur 18 tahun. Pemuda hebat lainnya yang tampil heroik di perang Badar yakni Mu’adz bin Amr bin Jamuh 13 tahun dan Mu’awwidz bin ‘Afra 14 tahun yang berhasil membunuh Abu Jahal, jenderal kaum musyrikin pada perang Badar.
Selain itu ada pula penguasa muda Spanyol yakni Abdurrahman An Nashir yang diangkat menjadi kholifah saat berumur 21 tahun. Pada masanya Andalusia mencapai puncak kejayaannya. Dia mampu menganulir berbagai pertikaian dan membuat kebangkitan sains yang tiada duanya. Penakluk lainnya adalah Muhammad Al Qasim yang saat itu ditunjuk menjadi panglima perang saat umurnya baru 17 tahun. Beliau memimpin 20.000 pasukan menuju India dan menaklukkannya. Di negeri Melayu, negeri Istana, Siak Sri Indrapura, Sultan yang mendapat gelar Pahlawan Nasional yang menyatakan diri bergabung secara ikhlas dengan harta dan jiwanya kepada NKRI kemudian menjadi penasehat peribadi Proklamator Soekarno, dialah Assayidus Syarif Kasim Tsani Abdul Jalil Jalaluddin Syah, dikenal dengan nama Sultan Syarif Kasim II. Berapakan usia beliau ketika menjadi Sultan yang memiliki kekuasaan terbesar di pesisir Sumatra Timur,? 21 tahun. Diukur usia sekarang beliau baru tamat S1.
Sejarah emas yang ditorehkan oleh para pemuda di atas begitu menakjubkan. Hal ini berkebalikan dengan kondisi sebagian pemuda zaman sekarang. Para pemuda cenderung melakukan aktivitas yang kurang produktif bahkan terkadang malah bersikap negatif dengan melakukan berbagai aktivitas dosa. Pemuda sekarang terjebak dalam lingkaran setan, seperti narkoba, pergaulan bebas, kemrosotan moral, tindakan kriminal dan tindak kemaksiatan lainnya.
Ramadhan, Momen Bangkitnya Milenial Rabbani
Ibnu Abbas r.a. berkata: “Tidak ada seorang Nabi pun yang diutus Allah, melainkan ia (dipilih) dari kalangan pemuda saja (yakni antara 30 – 40 tahun). Begitu pula tidak ada seorang ‘alim pun yang diberi ilmu, melainkan ia (hanya) dari kalangan pemuda saja. Kemudian Ibnu Abbas r.a. membaca firman Allah swt. dalam surat Al Anbiya ayat 60: “Mereka berkata: ‘Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim. (Tafsir Ibnu Katsir III, halaman 183).
Musthafa Al Ghalayaini berkata: “Adalah terletak di tangan para pemuda kepentingan umat ini, dan terletak di tangan pemuda juga kehidupan umat ini.”Imam asy-Syafii juga pernah berpendapat tentang pemuda, beliau mengatakan bahwa: “Sesungguhnya kehidupan pemuda itu, demi Allah hanya dengan ilmu dan takwa (memiliki ilmu dan bertakwa), karena apabila yang dua hal itu tidak ada, (maka dia) tidak dianggap hadir (dalam kehidupan).”
Ungkapan di atas secara jelas menggambarkan pada kita begitu pentingnya peran Milenial sebagai pemimpin perubahan. Milenial yang hebat adalah pemuda yang mampu menjadi pelopor dalam kemajuan bangsanya. Bukan malah menjadi pengekor yang hanya menjadi sapi perah peradaban yang rusak. Seorang Milenial harus memiliki ilmu dan ketakwaan, dan yang pasti mereka harus menjadi kebanggaan umat. Pemuda harus mampu menjadi teladan dalam kebaikan, bukan dalam kejahatan serta mampu memimpin perubahan menuju kebangkitan Islam.
***Pegawai Kantor Kemenag Kab. Siak
