Beradab Sebelum Berilmu
Oleh: Ihsanul Hadi Al-Harzi, S.Ud
Kenapa mesti tema ini yang harus dibahas disaat masyarakat yang semangat menuntut ilmu? Karena tema inilah yang sekian lama terkubur ditengah-tengah para penuntut ilmu. Berapa banyak orang yang menuntut ilmu agar kelak menjadi pekerja sukses, guru, ustadz, kiyai atau ulama, hal ini tidak salah, tapi akan menjadi salah jika ilmu didahulukan sebelum adab. Karena urutan adalah sebuah aturan yang harus ditaati dan dilalui. Jika urutan dilanggar maka hasilnya sia-sia.
Adab mencari ilmu selama ini sering diabaikan. Sebagai contoh, hubungan antara murid dan guru tak ubahnya penjual dan pembeli. Si murid merasa telah membayar SPP dan uang gedung dengan nilai nominal yang tidak murah sehingga penghormatan kepada guru dianggap sebagai hal yang bukan acuan utama. Di lain sisi, diantara orang yang sibuk meuntut ilmu namun lupa akan belajar adab dan akhlak adalah ia mudah menggibah gurunya, tidak hormat pada guru, terlambat ketika menghadiri majlis ilmu. Dan penyakit lainnya yang melanda para penuntut ilmu. Padahal dengan adab yang baik maka ilmu tersebut menjadi berkah. Bagaimana ingin mendapatkan keberkahan ilmu jika adabnya saja tidak diperhatikan. Ilmu tersebut mungkin tidak akan bertahan lama atau tidak akan mendapatkan berkah.
Padahal Al-Qur’an, As-Sunnah dan para ulama sangat memperhatikan akan pentingnya adab sebelum ilmu diantaranya di dalam surat Thaha ayat 11 sampai 14 sangat jelas tentang hal itu. Disebutkan dalam kisahnya, sebelum menerima wahyu, Allah ta’ala mengingatkan Nabi Musa ‘alaihissalam akan sebuah adab, yaitu melepas alas kaki di lembah suci Thuwa. Inilah adab sebelum menerima ilmu. Kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir yang Allah jelaskan dala surat Al-Kahfi. Lihat pula pada keteladanan Jibril ‘alaihissalam saat hadir di majlis Rasulullah, bagaimana berpakaian, berjalan, dan duduk di majlis ilmu sebagaimana terdapat dalam kitab al-Arba’in an-Nawawi nomor hadits dua. Ini semua mencerminkan betapa pentingnya adab sebelum ilmu. Sehingga para ulama sangat perhatian terhadap adab. Diantara wasiat Luqman kepada anaknya adalah tentang adab berjalan dan berbicara.
Penulis mengumpulkan nukilan-nukilan dari berbagai sumber tentang pentingnya akhlak. Berikut kisah-kisahnya secara singkat dan ringkas;
Imam Adz-Dzahabi menceritakan dalam kitabnya yang terkenal Siyar A’lam an-Nubala’, dikisahkan oleh Ahmad bin Sinan mengenai majelis Abdurrahman bin Mahdi, guru Imam Ahmad, beliau berkata, “Tidak ada seorangpun berbicara di majelis Abdurrahman bin Mahdi, tidak ada seorangpun yang berdiri, tidak ada seorangpun yang mengasah/meruncingkan pena, tidak ada yang tersenyum.”
Imam Malik rahimahullahu mengisahkan, “Aku berkata kepada ibuku, ‘Aku akan pergi untuk belajar.’ Ibuku berkata,‘Kemarilah!, Pakailah pakaian ilmu!’ Lalu ibuku memakaikan aku mismarah (suatu jenis pakaian) dan meletakkan peci di kepalaku, kemudian memakaikan sorban di atas peci itu. Setelah itu dia berpesan, ‘Sekarang, pergilah untuk belajar!’ Dia juga pernah mengatakan, “Pergilah kepada Rabi’ah (guru Imam Malik, pen)! Pelajarilah adabnya sebelum engkau pelajari ilmunya”.
Abdullah bin Al-Mubarak Rahimahullah Ta’ala berkata : “Hampir saja adab menjadi dua pertiga ilmu. Salah seorang Salaf berkata : “Kita lebih butuh adab yang sedikit dibandingkan ilmu yang banyak”.
Sufyan bin Sa’id Ats-Tsaury rahimahullah Ta’ala berkata : “Para Ulama tidak mengizinkan anaknya keluar untuk menuntut ilmu sampai mereka beradab dan beribadah selama duapuluh tahun.
Muhammad bin Sirin Rahimahullah Ta’ala berkata : “Mereka para salafus saleh belajar al-Hadyu (adab) seperti mereka belajar ilmu”.
Abu Zakariya Yahya bin Muhammad Al-Anbary rahimahullah ta’ala berkata : “Ilmu tanpa adab bagaikan api tanpa kayu, dan adab tanpa ilmu bagaikan jasad tanpa ruh”.
Isa bin hamadah rahimahullahta’ala berkata : “Saya mendengar Al-Layyits bin Sa’ad berkata; “Sungguh para ahli hadits sangat dimuliakan, ketika aku melihat sesuatu pada diri mereka maka aku berkata; “Kebutuhan kalian pada adab yang sedikit lebih butuh dibandingkan ilmu yang banyak”.
Ibrahim bin Habiib Asy-Syahid Rahimahullah berkata : “Wahai anakku datangilah para ahli fiqih dan ulama, dan belajarlah dari mereka, ambilah adabnya, akhlaknya, karena hal itu lebih aku suakai dibandingkan hadits yang banyak”.
Yusuf bin Al Husain berkata, “Dengan mempelajari adab, maka engkau jadi mudah memahami ilmu”
Ibnul Mubarok berkata, “Kami mempelajari masalah adab itu selama 30 tahun sedangkan kami mempelajari ilmu selama 20 tahun.”
Ibnu Sirin berkata, “Mereka -para ulama- dahulu mempelajari petunjuk (adab) sebagaimana mereka mempelajari ilmu.
‘Abdullah bin Wahab berkata, “Yang kami nukil dari (Imam) Malik lebih banyak dalam hal adab dibanding ilmunya.”
Berkata Adz-Dzahabi rahimahullahu, “Yang menghadiri majelis Imam Ahmad ada sekitar 5000 orang atau lebih. 500 orang menulis [pelajaran] sedangkan sisanya hanya mengambil contoh keluhuran adab dan kepribadiannya.” Mari kita perbaiki adab kita dalam menuntut ilmu dan mengikhlaskannya kepada Allah.
Demikianlah kisah-kisah nukilan bagaimana urgensinya etika yang penulis temukan dari berbagai sumber bacaan. Intinya, adab itu sangat penting bagi manusia-manusia terutama bagi mereka yang khusus menceburkan dirinya dalam lautan ilmu. Ambillah ilmu yang hendak kita miliki sebanyak-banyaknya namun janganlah kita adab. Insya’Allah dengan adab tersebut, ilmu menjadi berkah untuk semua.
***Pegawai Kantor Kemenag Kab. Siak
