Pengaruh Shalat Terhadap Perilaku
Oleh : Salmiyah Rum, M.PdI
Shalat memiliki peranan penting dan utama dalam kehidupan manusia, karena shalat sangat berpengaruh terhadap perilaku orang yang melaksanakannya.
Orang yang melaksanakan shalat dengan benar, dari wajahnya cahaya terpancar, rezekinya lancar, urusannya mudah kelar, nama baiknya ikut tenar. Begitu pentingnya ibadah shalat, Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Sesungguhnya amalan seorang hamba yang pertama kali dihitung adalah shalatnya maka jika shalatnya baik, maka sungguh ia telah beruntung dan sukses. Sebaliknya apabila shalatnya rusak maka ia celaka dan merugi,” (HR. Turmudzi)
Dari Hadits tersebut dapat kita ambil kesimpulan bahwa Shalat merupakan Ibadah yang paling utama yang harus dilakukan oleh seorang Muslim. Dalam keutamaannya, Ibadah Wajib yang paling utama adalah Shalat Wajib, Ibadah Sunnah yang paling utama adalah Shalat Sunnah. Namun dalam pelaksanaannya terdapat pertanyaan besar yang perlu dijawab oleh kita selaku ummat Islam. Pertanyaan tersebut adalah: mengapa uraian dan perintah mengenai shalat di dalam al-Qur’an terjadi berulang-ulang? apakah ia merupakan ulangan yang tidak dibutuhkan lagi, mengingat telah lamanya kewajiban ini dikenal ummat? Atau apakah ia merupakan uraian yang sangat dibutuhkan, mengingat banyaknya umat yang enggan atau malas dalam mendirikan shalat atau umat ingin shalat tapi tidak tahu ilmunya, atau mengerjakan namun keliru, atau mendirikan dan melaksanakan shalat namun tidak menghayati kandungan dan makna dalam shalat tersebut?
Pertanyaan-pertanyaan itu layak untuk dikemukakan, mengingat masih banyaknya umat Islam saat ini yang melaksanakan shalat, namun seolah shalatnya tidak memberikan dampak apapun dalam perilaku keseharian, baik perilaku individual maupun perilaku sosial.
Dalam QS. Al-Ankabut (29) ayat 45, Allah SWT berfirman memerintahkan kepada kita untuk mendirikan shalat:
Artinya : “Bacalah kitab (Al Qur’an) yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan laksanakanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Dan (ketahuilah) mengingat Allah (shalat) itu lebih besar (keutamaannya dari ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Ankabut : 45)
Surah al-Ankabut ayat 45, diawali dengan kata ‘utlu’ ( ??????) di ambil dari kata ’tilawah’ (????????) yang pada mulanya berarti mengikuti. Al-Qur’an membedakan penggunaan kata tilawah dengan kata qira’ah (????????) yang juga mengandung pengertian yang sama. Kata tilawah dalam arti membaca, menunjukan bahwa yang menjadi objek bacaannya adalah sesuatu yang Agung dan Suci, atau benar, sedangkan qira’ah objeknya lebih umum, mencakup yang suci atau tidak suci, kandungannya bisa jadi positif namun bisa juga negatif.
Disampaikan dalam QS. Al-Ankabut ayat 45 di atas, yang menjadi objek perintahnya adalah wahyu, sehingga perintahnya menggunakan kata utlu yang artinya ikuti ! Secara harfiah perintah tersebut mengisyaratkan bahwa apa yang dibaca itu yang dalam hal ini adalah wahyu Allah, maka diikuti dengan pengamalan. Setelahnya Allah SWT memerintahkan untuk membaca wahyu-Nya yaitu al-Qur’an dan mengamalkan isi al-Qur’an tersebut, kemudian Allah memberikan bayan atau penjelasan mengenai hal yang harus diikuti dan dilaksanakan tersebut, yaitu dengan perintah untuk mendirikan shalat.
Di dalam al-Qur’an, perintah melaksanakan shalat senantiasa dengan kata aqim (??????) atau yang seakar dengannya. Kata aqim dan yang seakar dengan kata tersebut, mengandung makna berkesinambungan dan sempurna. Hal ini memiliki pengertian bahwa shalat harus dilaksanakan secara berkesinambungan, mentaati syarat-syarat dan rukun-rukunnya, sehingga menjadi sempurna. Perintah untuk mendirikan shalat dengan sempurna tersebut, bukan hanya perintah yang tidak memiliki akibat dan hikmah, namun bahkan sebaliknya banyak akibat dan hikmah yang dapat diperoleh pelakunya. Akibat dan hikmah tersebut adalah tercegahnya pelaku shalat yang berkesinambungan dan sempurna dari perbuatan yang keji dan munkar.
Namun perlu diketahui pula, shalatnya orang beriman dilaksanakan dengan benar sesuai syari’at Islam, bukan shalat sekedar pelepasan dari kewajiban semata, disinilah kita perlu memahami terlebih dahulu makna dari shalat itu sendiri. Shalat menurut Bahasa (Etimologi) artinya adalah do’a. Sedangkan menurut Istilah/Syari’ah (Terminologi), shalat adalah “suatu ibadah yang terdiri atas ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatan tertentu/khusus yang dibuka/dimulai dengan takbir (takbiratul ihram) diakhiri/ditutup dengan salam dengan syarat-syarat tertentu.”
Artinya, shalat tidak hanya sekedar shalat tanpa adanya penghayatan atau tidak berdampak sama sekali dalam kehidupan, akan tetapi yang dimaksud adalah shalat yang didirikan dengan khusyu’ yakni shalat yang nantinya akan berimplikasi terhadap orang yang melaksanakannya. Shalat yang dimaksud adalah shalat menurut Ash Shiddieqy dari ta’rif shalat yang menggambarkan ruhus shalat (jiwa shalat); yaitu berharap kepada Allah dengan sepenuh jiwa, dengan segala khusyu’ dihadapan-Nya dan berikhlas bagi-Nya serta hadir hati dalam berdzikir, berdo’a dan memuji.
Jadikan shalat prioritas utama kita, ibadah yang membuat kita semakin dicintai oleh Allah SWT, jangan sampai ketika orang sibuk shalat berjama’ah kita tidak mau ikut berdiri di belakang imam, tapi malah di depan imam, jadi mayit yang di shalatkan, karena se umur hidup tidak mau shalat tapi hanya di shalatkan, na’udzubillahi min dzalik. Karenanya penting pula bagi kita menjaga waktu shalat kita, karena orang-orang yang punya waktu tapi menunda shalat termasuk kategori ???????? ?????????????? (fawailul lil mushollin) “celaka orang yang shala”. Kenapa dia celaka, karena menunda-nunda shalat.
Selain kewajiban, shalat juga merupakan koneksi dengan Allah SWT. Menunda shalat hanya karena jabatan, ingatlah bahwa sebelum kita mati, pejabat pengganti sudah siap. Menunda shalat hanya karena kerjaan, sadari bahwa rezeqi itu datang dari Allah SWT. Jika ingin rezeqi yang berkah, maka perbaikilah hubungan kita dengan yang punya rezeqi, yakni Allah SWT.
Oleh Sebab itu, Imam An-Nakho’i menjelaskan bahwa Surat Al-Ankabut ayat 45 tersebut berkaitan dengan surat Al-Ma’un ayat 4 dan 5:
Artinya: “Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari salatnya.” (QS. Al-Ma’un : 4-5)
Hal ini berarti seorang Muslim yang melaksanakan shalat yang akan dapat mempengaruhi perilakunya ialah orang yang melaksanakan shalat yang tidak lupa dengan nilai-nilai shalat dalam kehidupannya, dan diantara nilai-nilai shalat itu ialah :
Pertama, didalam shalat mengucapkan Takbir (Allahu Akbar) yang artinya dengan penuh kekhusyu’an dan kerendahan hati kita mengagungkan Allah SWT. Apabila hal ini kita lakukan baik di dalam shalat maupun di luar shalat kita akan bisa menjadi hamba Allah yang Tawadhu’ (rendah hati) dan selalu merasa di awasi oleh Allah SWT dan tidak akan termasuk kategori orang-orang yang lalai.
Sebagaimana Firman Allah SWT dalam QS. Al ‘araf ayat 205 yang artinya: “Dan sebutlah (nama) Rabbmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’raf : 205)
Kedua, shalat melatih manusia untuk disiplin. Sebagaimana Firman Allah SWT “Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (An-Nisa’: 103)
Ayat ini dipesankan bahwa shalat/sembahyang itu diperintahkan oleh Tuhan, diwajibkan oleh Tuhan menurut waktu yang telah ditentukan. Kerjakanlah shalat menurut waktu sehari semalam : subuh, dhuhur, ashar, maghrib, dan isya’. Secara tersirat ayat tersebut menjelaskan bahwa dalam melaksanakan shalat terdapat unsur pendidikan yakni sikap disiplin. Sikap disiplin ini diperoleh dari ketepatan waktu dalam melaksanakan shalat. Semakin disiplin shalat dikerjakan, maka semakin terhindar dari dosa.
Ketiga, Shalat mendidik agar seseorang bisa Fokus terhadap sesuatu. Itulah kenapa dalam shalat hendaknya dilakukan secara khusyu’. Khusyu’ akan diperoleh jika kita mampu memfokuskan diri ketika shalat yakni memfokuskan diri kepada Allah. Dengan shalat yang khusyu’ kita akan merasakan kedekatan dengan Allah serta merasakan kenikmatan shalat.
Sebagaimana firman Allah dalam QS.Al Mu’minun ayat 1 dan 2 :
Artinya : “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam salatnya.” (QS. Al Mu’minun : 1-2)
Timbul pula pertanyaan, bagaimana shalat khusyu’ itu? Khusyu’ menurut istilah syara’ adalah keadaan jiwa yang tenang dan tawadhu’ (rendah hati), yang kemudian pengaruh khusyu’ dihati tadi akan menjadi tampak pada anggota tubuh yang lainnya. Sedang menurut Imam Asyafi’i khusyu’ adalah menyengaja, ikhlas dan tunduk lahir dan batin; dengan menyempurnakan keindahan bentuk/sikap lahirnya, serta memenuhinya dengan kehadiran hati, kesadaran dan pengertian (penta’rifan) segala ucapan bentuk/sikap lahir itu.
Dari kekhusyu’an ini kita bisa mengambil pelajaran bahwa jika ingin meraih sesuatu maka harus memfokuskan diri pada apa yang diingin(niat)kan agar tercapai. Orang yang khusyu’ shalatnya, santun budi bahasanya, tidak kasar dan tidak pula menyakiti jika berbicara, kehadirannya dinantikan, ketiadaannya dirindukan.
Keempat, Shalat mengajarkan kita untuk bersikap selaras, sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Al Baqarah ayat 43, Allah SWT berfirman: “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’.” (QS. Al Baqarah : 43)
Allah perintahkan kita untuk mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan ruku’ bersama orang-orang yang ruku’, hal ini mengajarkan kepada kita untuk bersatu, bergerak bersama (selaras), tidak bergerak sendiri-sendiri, orang yang suka mengerjakan shalat berjama’ah adalah ciri dari perilaku hamba Allah yang tidak sombong, rendah hati mengikuti perintah Imam dan suka bekerja sama.
Shalat dikerjakan tidak menunggu kita menjadi baik baru shalat, tapi shalatlah agar kita menjadi baik, karena dengan shalat kita akan terjaga dari perbuatan keji dan munkar, dekat dengan pertolongan Allah SWT dan terhindar dari kemurkaan-Nya. Oleh karena itu, daripada kita saling hujat lebih baik kita semakin memperbaiki shalat kita, shalat di awal waktu dan khusyu’ dalam shalat kita, karena dengan begitu inshaAllah hidup tidak bimbang, jiwa tenang, hati lapang, pendirian tidak mudah goyang, rezeqi berkah datang, masa depan cemerlang, dunia bahagia, akhirat syurga, InshaAllah.
*** Penyusun Bahan Pembinaan PPAIW Kemenag Inhu
