Peranan H. Affandi Tungkang Dalam Pendidikan Islam Di Ujung Tanjung-Rohil
oleh: Agustami
Bersempena ulang tahun PGRI ke- 69 ini, rasanya perlu sekali kita ketengahkan terkait tokoh yang peduli pada dunia pendidikan. Berikut kisahnya: Barawal dari penulis mutasi tepatnya, tanggal 1 Januari 2011 dari SMA Negeri 1 Ukui, Pelalawan ke MTs Negeri Ujungtanjung, Rohil. Betapa terkejutnya. Ternyata MTs Negeri Ujungtanjung cukup luas yang menurut perkiraan penulis ketika itu mungkin ada 2 Ha (itu semua hibah dari alm H. AFFANDI TUNGKANG). Masih suasana mengantar SK Mutasi, maka ”lesieng-lesieng” bercakap-cakappun terjadi. Terceplos sebuah pernyataan penulis ”ini bangunan siapa dulu, Pak, sebelum Madrasah ini dinegerikan? sambil menunjukan bangunan bertingkat dua itu. Langsung dijawab pak Salim, salah seorang guru MTs negeri ujung tanjung yang cukup lama mengabdi sejak madrasah ini yayasan al-kautsar lagi, lalu dijawabnya ”itu bangunan hibah dari alm pak H.Affandi”, penulis nanya lagi ”kalau Mushalla dan rumah itu siapa, pak?” spontan dijawabnya ”masih H. Affandi jugo”. Mendengar penulis ketika itu agak nyinyir, langsung dijawabnya dengan pintas” nanti bisa dilihat di profil MTs Negeri Ujungtanjung, disitu dimuat sekilas tentang perjuangan alm pak H. Affandi Tungkang.
Akhirnya, pembicaraan ini terhenti begitu saja, namun terbesit sebuah pemikiran betapa besar perjuangan mengembangkan pendidikan Islam di Ujungtanjung oleh H. Affandi Tungkang. Selanjutnya, 16 bulan kemudian, pada acara perpisahan kelas IX TP 2011/2012 terulang lagi. Kata sambutan penulis melenceng, sebenar bukan target dari yang akan disampaikan dalam pidato/ sambutan Kepala Madrasah (Kamad) ketika itu. Beberapa kalimat diluar dugaan yaitu, mengajak hadiran untuk menulis terkait upaya alm.H.Affandi Tungkang terhadap pendidik di Ujungtanjung, kebetulan bapak/ibu kepala TK, SDN, SMP dan SMA se-Ujungtanjung hadir. Dengan lantang penulis menyampaikan “Sungguh apa yang telah dibuat Alm.H. Affandi tungkang dalam pendidikan tidak berbeda dengan tokoh daerah lain bahkan usahanya melebihi”.
Biografi Singkat
Sebelum membentangkan apa saja peranan H. Affandi Tungkang dalam pendidikan Islam di Ujungtanjung, rohil rasanya perlu sekali kita kenal biagrafi singkat H. Affandi Tungkang.
H. Affandi Tungkang, lahir di Ujung Tanjung tanggal 13 Juli 1936. Omaknya bernama Hj.Intan dan Ayahnya H. Tungkang. H. Affandi Tungkang merupakan anak ketiga dari empat bersaudara yakni pertama Rokiah, kedua Bogot/KH Makmur dan ke-empat Muntong. Beliau wafat pada hari Jumat 13 September 2002 (6 Rajab 1423 H) pukul 03.00 WIB di Pekanbaru.
Isterinya Hj. Zauyah. Dari pernikahan tersebut dikurniakan 11 putra/i dan satu wafat pada usia kanak-kanak 5 tahun namanya Suhaimi. Sedangkan yang 10 yaitu: Sulung/tertua H. Syamsuri,AF, H. Syamsul,AF, Drs.H. Aznur Affandi, M.BA, Hj.Rusnarwati, S.Pd, Hj. Yusmidar,S.Pd, H. Alzami,SE, H. Ahmad Zuruli, Hj.Nurhamidah,SP, Zamzamir AF, SE.MM dan Sibungsu dr.Hj Nurhamidi.
Tentang riwayat pendidikannya tidak banyak penulis dapatkan, namun keinginan untuk memperoleh ilmu keislaman cukup tinggi seperti pernah bersuluk dan tanggal 13 Dzulkaidah 1386 H/25 Pebruari 1967, jam 05.30 WIB pagi setelah Shalat Shubuh mendapat gelar Khalifah oleh guru Tuan Syech Abdul Rahim di Madrasah Ujung Tanjung. Selain itu, melakukan ritual haji yang dilaluinya: tahun 1985, 1990, 1993, 1995 dan 2002.
Seterusnya, semasa hidupnya termasuk orang gigih dan bekerja keras serta tidak pernah putus asa. Bukti-bukti menunjukkan itu, dapat dilihat dan pernah: Pertama, Kepala Desa Ujung Tanjung dari tahun 1967 hingga akhir hayatnya. Kedua, Anggota Veteran pejuang Kemerdekaan RINPV:4.004.485,gol C. sejak tahun 1982. Ketiga, Direktur Utama PT.Hamida Hamidi 1989 sampai akhir hayatnya. Keempat, Ketua yayasan Al-Kautsar Ujung Tanjung dari tahun berdiri 1992 sampai hayatnya.
Peranan H. Affandi Tungkang Dalam Pendidikan Islam
Apa saja peranan Alm. H. Affandi Tungkang Dalam Pendidikan Islam Di Ujungtanjung, Rohil terlebih dahulu, dirasa perlu kita menjelaskan apa itu peranan dan pendidikan Islam. Adapun Peranan, menurut kamus bahasa Indonesia merupakan : keterlibatan atau keikut sertaan seseorang atau kelompok dalam mengembangkan ide-ide. Sedangkan pendidikan Islam pengupayaan, bimbingan orang dewasa kepada anak didik untuk mencapaii kedewasaan dalam pendidikan Islam, sehingga mereka menjadi manusia yang berilmu, beramal dan bertaqwa kepada Allah SWT.
Jadi, dari pengertian diatas bahwa peranan dalam pendidikan Islam itu adalah keterlibatan atau keikut sertaan seseorang atau kelompok dalam mengembangkan ide-ide. Dalam pengupayaan, bimbingan kepada anak didik untuk mencapai kedewasaan dalam pendidikan Islam, sehingga mereka menjadi manusia yang berilmu, beramal dan bertaqwa kepada Allah SWT.
Salah satu tokoh kenamaan di Ujungtanjung, Rohil terlibat melakukan, membuat, mengembangkan untuk mencapai kedewasaan dalam pendidikan Islam bagi anak didik bagi masyarakat ujungtanjung itulah: Alm H. Affandi Tungkang, beliau selain selaku Kepala Desa Ujung Tanjung dan pengusaha yang sukses di Kabupaten Bengkalis, Riau maupun Nusantara semasa hidupnya, ternyata beliau seorang pemerhati pendidikan terutama terhadap pendidik Islam. Hal ini terbukti dengan mendirikan: Yayasan Pendidikan Perguruan Islam (YPPI) Al Kautsar Ujung Tanjung. Melalui yayasan ini diantara, satuan pendidikan Islam formal yang didirikan:
1. MTs Al-Kautsar Ujung Tanjung
Kalau kita membicarakan tentang sejarah berdirinya Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Ujung Tanjung, maka tidak akan terlepas dari Sejarah Berdirinya Madrasah Tsanawiyah Al Kasutsar ( MTs AL Kautsar ) Ujung Tanjung, karena MTs Al Kautsar Ujung Tanjung merupakan cikal bakal berdirinya MTs Negeri Ujung Tanjung. MTs Al Kautsar Ujung Tanjung didirikan pada tahun 1992, yang diprakarsai oleh H . AFFANDI TUNGKANG, selaku Kepala Desa Ujung Tanjung dan termasuk Pengusaha yang sukses di Kabupaten Bengkalis waktu itu.Ujung Tanjung terletak ditepi Sungai Rokan dan ditengah tengahnya terdapat jalan lintas negara menuju ke/dari Sumatra Utara, dengan berkat jalan lintas tersebut Ujung Tanjung pada mulanya berpenduduk 15 KK, maka pada tahun 1992 jumlahnya mencapai 450 KK dengan jumlah penduduk lebih kurang 1500 jiwa . Sedangkan jenjang pendidikan yang ada hanya Sekolah Dasar Negeri 012 Ujung Tanjung Kecamatan Tanah Putih Kab. Bengkalis ( pada waktu itu ), sehingga untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi terpaksa menempuh jarak yang jauh dengan berjalan kaki, sebab sarana transportasi belum ada.
H. AFFANDI TUNGKANG selaku Kepala Desa sangat memperhatikan hal tersebut, oleh sebab itu beliau sangat berkeinginanan dan bermaksud untuk mendirikan sebuah sekolah lanjutan yang bisa menampung anak anak tamatan SD dan sekaligus dapat menambah ilmu agama pada generasinya.
Usaha tersebut dilanjutkan dengan diadakan musyawarah Desa, dan beliau menyarankan dan bermaksud untuk mendirikan Madrasah Tsanawiyah di Ujung Tanjung. Diantara pro dengan kontra MTs tersebut tetap didirikan dan untuk menggerakkan Madrasah ini beliau mendirikan Yayasan yang diberi nama YAYASAN PENDIDIKAN PERGURUAN ISLAM ( YPPI ) AL KAUTSAR Ujung Tanjung yang dipimpin beliau sendiri , maka pada tahun ajaran 1992/1993 MTs ini pun didirikan yang diberi nama MTs Al Kautsar Ujung Tanjung dengan jumlah siswa pertamanya adalah 13 anak dan gurunya 5 orang dan kepala MTs ini adalah sdr Drs. Abdul Haris dan ruang belajarnya adalah bekas kantor Desa Ujung Tanjung.
Dengan usaha yang maksimal dari pihak Yayasan, pada tahun 1994 dibangunlah gedung baru berlantai dua yaitu 6 ( enam ) lokal, dan kegiatan belajar mengajar pindah ke gedung baru ini pada tahun ajaran 1995/1996 dan pada awal tahun 1995 keluarlah legalitas Madrasah ini dengan keluarnya Piagam terdaftar yaitu nomor C/III/PP.03.2/02/1995 tanggal 25 Januari 1995. dari Kanwil Dep. Agama PROP. Riau.
Pada tahun 1996 untuk memenuhi sarana dan prasarana guru, maka dibangunlah Kantor MTs Al Kautsar dan 2 ( dua ) buah rumah Guru (4 ruang ), dan pada tahun1997 dibangun pula Mushalla dan 3 (tiga) ruang belajar dan 1 (satu) ruang TU. Semua bengunan tersebut masih atas usaha dari Yayasan. Usaha yayasan tidak sampai disitu saja, tetapi PimpinanYayasan yang dimotori oleh H.Affandi Tungkang sangat berkeinginan pula MTs tersebut supaya dapat ditingkatkan satatusnya dari Swasta ke Negeri.
Hal ini sesuai dengan jumlah penduduk, dan jumlah sekolah dasar yang semangkin bertambah , dan minat masyarakat untuk melanjutkan pendidikan anaknya ke MTs ini juga menunjukkan peningkatan, serta adanya kepedulian Pemerintah untuk menegerikan MTs Swasta menjadi Negeri. Maka pada tanggal 22 September 1999 dibuatlah permohonan penegerian tersebut ke Kanwil Dep Agama Propinsi Riau.
Namun dengan berbagai kendala, serentak pula dengan perobahan roda pemerintahan yang ditandai dengan adanya reformasi dan otonomi daerah penegerian tersebut sempat tertunda.
Walaupun demikian status terdaftar MTs ini dapat ditingkatkan menjadi disamakan, dengan keluarnya piagam persamaan No : A/III/PP.03.2/40/2002, tanggal 9 Agustus 2002. dan pada tahun ini juga MTs ini mendapat tambahan ruang belajar 3 (tiga ) ruang dari Pemda Rokan Hilir.
Pada tahun ini pulalah keluarga besar Ujung Tanjung berduka cita, yaitu atas berpulang kerahmatullah pimpinan Yayasan: Haji Affandi Tungkang, ( semoga arwah beliau ditempatkan disisiNYA dengan baik).- Selanjutnya pengganti beliau untuk memimpin Yayasan ini telah disepakati pula yaitu putra beliau Haji SYAMSURI AF.
Pada awal Tahun 2003 penegerian MTs ini kembali muncul, dan pada akhir tahun 2003 keluarlah Surat Keputusan Menteri Agama Nomor : 558 Tahun 2003, tentang Penegerian 250 (dua ratus lima puluh) Madrasah, tanggal 30 Desember 2003, termasuk MTs Al Kausar Ujung Tanjung, menjadi MTs Negeri Ujung Tanjung. Dan diresmikan pada tanggal 5 Mei 2004 oleh Bapak Bupati Rokan Hilir, HAJI WAN TAMRIN HASYIM.
Sejak 30 Desember 2003 bertempat di jalan Al-Kautsar Ujung Tanjung oleh Ka.Kanwil Departemen Agama Propinsi Riau, atas nama Menteri Agama mengukuhkan MTs Al-Kautsar Ujung Tanjung menjadi MTs Negeri Ujung Tanjung, Rokan Hilir.
Sedikit ungkapan putrinya alm H.Affandi Tungkang, Hj.Rusnarwati, S.Pd, sekarang kepala SMA Negeri 2 Tanah putih kepada penulis, “ketika keluar SK penegerian MTs alkautsar menjadi MTs Negeri Ujungtanjung. Waktu itu Abah sedang sakit di Rumah sakit Awal Bros, Pekanbaru. Betapa bahagia Abah ketika itu, MTs Alkautsar kini telah menjadi Negeri bersama 250 MTs yang di negeri se-Indonesia. Kebtulan Piagam tersebut dibawa oleh anaknya H. Aznur. Tidak lama hanya hitungan hari Abahpun wafat”. Sempat juga putri ini bercerita bahwa Abah selalu membandingkan umurnya dengan baginda Nabi Muhammad SAW yakni 63 tahun. Kata abah, “Abah kini udah 65 mau masuk 66 tahun”. Kami, putra/ri pun bilang umur Nabi segitulah Bah, umur orang Indonesia 80 an. Namun Abah berkali-kali membandingkan demikian.
Sekarang Alhamdulillah, madrasah ini sejalan dengan waktu ternyata terus berkembang. Berikut nama kepala, tenaga pendidik dan jumlah peserta didik serta rombel madrasah negeri Ujung tanjung terkini.
2. Madrasah Aliyah (MA) Al-Kautsar Ujung Tanjung
Madrasah Aliyah (MA) Alkautsar Ujungtanjung ini didirikan tahun 1995 dengan Kepala Madrasah (Kamad) yang dipercayai al H. Affandi yakni bapak Drs. Ilyas Jamal. Peserta didik dari madrasah ini ditamatkan dua tahun ajaran saja. Bagi peserta didik kelas IX dan X ketika itu disilakan kemana mau pindah dan pihak madrasah yang mengurus kepindahan tersebut.
Tepat tahun 1999 berdirilah SMA Alkautsar Ujungtanjung. Waktu itu kelas jauh dari SMA 2 Duri dengan kepala Drs.Bakri. Seterusnya bapak Ilyas selaku kepala Madrasah Aliyah ketika itu, melanjutkan kisah asal muasal sebelum berdiri SMA ini, bahwa, sesuai perkembangan antusias masyarakat tampaknya lebih berrminat ke Sekolah Menengah Atas/Umum (SMA/U). Memang benar awal berdiri saja yang mendaftar sampai 29 peserta didik, termasuk siswa pertama SMA Alkautsar saudara jasmizar sekarang telah menjadi tendik MTs Negeri Ujung tanjung. Memang diakui pak Ilyas bapak alm H. AFFANDI TUNGKANG berkeinginan bertahan dengan Aliyah bahkan konsep awal yayasan adalah pesantren sampai-sampai meminta guru dari Jawa. Namun perjuangan belum berpihak, akhirnya jadilah seperti apa yang kita lihat ini.
Sempat juga pak Ilyas menceritakan “kami dulu memang majlis guru “menjat” manja, apa yang diminta kepada yayasan selalu dikabulkan seperti adanya berkala 2 tahun sekali, Baju seragam dan kegiatan-kegiatan keagamaan.Rupanya wawancara/cerita ini diketahui oleh saudara Jasmizar, tidak ketinggalan pula dia berucap “Angkatan kamilah Pak, siswa pertama Alkautsar sejumlah 29 dan Alhamdulillah hingga tamat sebanyak itu tidak kurang sedikitpun” dengan kepala bapak Drs.H. Nasri Somad”. Sejalan dengan perkembangan waktu, Alhamdulillah SMA Alkautsar telah menjadi satuan pendidikan Negeri yaitu SMAN 2 Tanah Putih dan berkembang sangat pesat.
Hemat penulis telah terlahir sebuah konsep pemikiran mendirikan lembaga Madrasah Aliyah, yang didalamnya memuat telaah terhadap kajian Islam seperti: Fiqih, Aqidah Aklak, SKI, Bahasa Arab, Alqur’an dsb. Walaupun berjalan 5 tahun berarti kepadulian cukup tinggi terhadap kelangsungan terkait ilmu keislaman di Ujung tanjung. Apalagi konsep awal pesantren.
Yayasan yang dicetus/dipelopori oleh Alm. H. Affandi Tungkang ini, Ada MDA/Kuttab 4 tahun dan MTs 3, jadi kesemuanya menuntut ilmu keislaman 7 tahun sebagai modal dasar sepertinya “Pardhu Ain” ini harus dikuasai setiap anak Muslim ini diperoleh ditangga pendidikan awal (Kuttab/MDA) dan menengah pertama (MTs). Seterusnya barulah mendalami ilmu-ilmu umum pada level lanjutan Sekolah Menengah Atas (SMA Alkautsar).
Sekiranya kita melirik kepada konsep tokoh kenamaan Islam Syed Naguib al-Attas menyebutkan kurikulum pendidikan muatan atau isi adalah sejumlah pengetahuan yang harus dikuasai yang terbagi kepada dua, yaitu: ilmu-ilmu agama: Al-qur’an, Sunnah, Asyariah/ fiqih, ilmu lingusitik, bahasa (fardhu ain) dikuasai peserta didik sedangkan ilmu rasional, intelektual dan filosof: ilmu alam, kemanusian, terapan dan teknologi (fardhu kifayah) dikuasai peserta didik.
Pada lembaga yang didirikan oleh H. Affandi Tungkang pandangan syed Naguib diatas, kurikulum ilmu keislaman harus dikuasai seprti Fiqih, Aqidah Aklak, SKI, Bahasa Arab, Alqur’an dan muatan lokan serta eskul keislaman (pardhu ain) oleh yayasan Alkautsar dilalui/diperoleh pada Kuttab/MDA dan MTs. Sedang pendalaman ilmu umum seperti PKN, MTK, Sosiologi dsb (fardhu kifayah) muatan umum ini pada lanjutan Sekolah Menengaha Atas (SMA).
3. Madrasah Diniyah Awaliyah (MDA) /Kutab
Madrasah Diniyah Awaliyah (MDA) atau lebih dikenal/pamiliar oleh alm H. AFFANDI TUNGKANG waktu itu adalah dengan sebutan “Kutab” dirikan pada tahun 1999 M. dengan kepala bapak Hilman Syah Lubis dan tenaga pendidik bapak Misran BA. Kemudian pada tahun 2005 dalam hitungan bulan pimpinannya ibu Karmina, S.Ag, dan dilanjutkan oleh bapak Ngabdi S.Ag. serta pada tahun 2007 kepala MDA oleh ibu Zul’aida, S.Pdi hingga sekarang.
Adanya penyebutan Kutab oleh alm H. AFFANDI TUNGKANG, apakah terinspirasi bahwa kutab merupakan lembaga pendidikan Islam yang bersipat formal sejak awal Islam. Bahkan sampai pada abad 2 h lembaga kuttab semakin banyak didirikan oleh kaum muslimin atas prakarsa mereka sendiri atau lepas dari campur tangan pemerintah. Kuttab ini dapat bermanfaat sebagai sarana untuk menimba ilmu pengetahuan Islam. Orang kaya dan miskin mempunyai kesempatan yang sama untuk belajar di Kutab.
Walaupun sebutan kutab tidak berkembang. Selanjutnya masyarakat lebih mengenal MDA dan sekarang Pendidikan Diniyah Takmiliyah Awaliyah (PDT) setidaknya alm H. AFFANDI TUNGKANG punya impian tempat yang akan dibuat untuk belajar anak-anak ini terkait pengajaran Alqur’an dan dasar-dasar ajaran Islam. Hal ini sejalan pembagian fungsi kuttab menurut Asari yang kedua yaitu: “kutab berfungsi sebagai tempat pengajaran qur’an dan dasar-dasar agama Islam ”bukan fungsi kutab pertama yaitu kutab berfungsi mengajar tulis baca dengan teks dasar puisi-puisi arab.
Dari pernyataan diatas jelaslah bahwa lembaga yang dibentuk lembaga mengaji Alquran dan pengajaran tentang dasar Islam bukan lembaga seperti kuttab yang pertama tempat belajar berpuisi. Jadi menurut penulis lembaga yang didirikan alm H. AFFANDI TUNGKANG walaupun namanya MDA/PDT sesuai nama sekarang maka tetap sebuah lembaga Pendidikan Islam, sebab ia berfungsi sebagai tempat mengaji qur’an dan pengajaran dasar Islam.
Ada sebuah pemikiran atau ide yang dikemukan oleh alm H. AFFANDI TUNGKANG agar lembaga ini berjalan. Salah seorang anggota rapat ketika itu dan kini dipercayai yayasan sebagai kepala PDT Al-Kautsar bercerita kepada penulis, “ketika itu saya masih salah seorang guru MTs Alkautsar Ujungtanjung tempatnya tahun 1999 M, awal mendirikan Kutab/MDA ini. alm Atuk Haji saking melibatkan diri dengan pendidikan Islam pada MDA/Kuttab ini sampai-sampai mengaturan keuangan MDA setiap 20 siswa satu guru dengan gaji Rp. 150.000 waktu itu”. Begitulah keinginan alm atuk tersebut agar anak-anak di Ujungtanjung ini jangan buta aksara Aqur’an dan hukum serta pelaksanaan ibadah yang terkait dengan pardhu ain.
Seiring berjalan waktu MDA yang disebut oleh alm H. AFFANDI TUNGKANG “Kutab”/ MDA kini berubah nama menjadi Pendidikan Diniyah Takmiliyah Awaliyah (PDT) ternyata bukan sebutan saja berubah namun telah berubah/berkembang pesat anak-anak ujung tanjung mengaji disini. Kalau dulu dari hitungan jari perserta didiknya, belakangan ini mencapai 150 siswa/i dan mereka terbagi dari kelas 1 sampai 4.
Bantuan, kepedulian alm H.Affandi Untuk Pendidikan Islam di Luar Ujungtanjung
H. AFFANDI TUNGKANG kepedulian terhadap pendidikan Islam bukan saja untuk daerah kekuasaan atau wilayah Ujungtanjung melainkan berbagai daerah. Berikut cerita Salim Sireger:
Pada waktu sekira tahun 1995, (saya dan Muklis, BA anak bapak H.Tulis) dari MTs Alkholidiyah Sedinginan. Namun sebelum kami berjumpa H. AFFANDI TUNGKANG ketika itu kami berjumpa dengan anaknya H. Aznur Affandi. “Pak gimono kalau kami minta papan untuk membangun MTs Alkholidiyah Sedinginan, ketika itu dijawab oleh pak H. Aznur Affandi “kami siap untuk membantu”. Ternyata darah kepedulian terhadap pendidikan Islam mengalir kepada anaknya, namun pak H. Aznur Affandi bilang “jumpai abah, maksud bapak yakni, H.Affandi” mendengar jawaban tersebut lansung kami jumpai bapak. Jawab singkatnya Pak H.Affandi adalah “bapo, berapa kebutuhan untuk MTs Alkholidiyah silakan, tinggal mengambil”. Sungguh luar biasa, sebuah kepedulian terhadap pendidikan Islam tidak ada sejenak berpikir, langsung spontan dijawab sambil tersenyum tawa “bilo butuh dan bapo butuh silakan ambik”. Kapan dibutuhkan silakan diambil.
Kepedulian terhadap Kelangsungkan Pendidikan Islam (Non Formal) Dan Terhadap Rumah Ibadah
Kepedulian terhadap rumah ibadah cukup tinggi. Dalam pembangunan Masjid Baiturrahman Ujung Tanjung dan Madrasah Suluk thariqat Naksabandi/Monosyah Ujung Tanjung, sebagai contoh pernyataan H. Zainal Abidin dan yang beliau saksikan, bahwa Masjid Baiturrahman yang didirikan tahun 1974 berdinding papan dengan ukuran 8m x 8m. Tahun 1982 dibongkar total digeser agak kedepan berukuran 14×14 semi permanen dengan bahan batu pungkang. Pendanaan yang terbanyak adalah sumbangan bapak H.Affandi Tungkanglah. Begitu juga, Madrasah Suluk thariqat Naksabandi/Monosyah Ujung Tanjung, ketika itu dibantu Rp. 10.000.000,-. Nilai angka ini ketika itu cukup tinggi. Dan Monosyah ini berlangsung proses ritual keislaman, ujar bapak H.zainal selaku P3N Ujung tanjung ini.
Selain pendanaan untuk membangun fisik rumah ibadah, terhadap kelansungan beragama tidak ketinggalan menjadi perhatiannya. Kepedulian terhadap pendidikan Islam anak-anak sangat tinggi. Hal ini terbukti sebagai ungkapan bapak H. Zainal Abidin, P3N Ujungtanjung “disu’uhnyo, aku mengaja mengaji, dan ilmu-ilmu keislaman seperti mengaja Shalat serta hukum Islam di Masjid Baiturrahman Setiap bulan pak H.Affandi member hadiah kepada saya 10 Kg beras”.
Menurut pak H. Zainal maupun pak Joharuddin Sebenarnya, banyak pemberian alm H.Affandi Tungkang, namun rasa segan menyebutkan, biarlah Allah SWT yang tahu dan yang bersangkutan. Mendengar pernyataan mereka ini, membuat penulis teringat sebuah kitab 30 pesan di bulan Ramdhan oleh Drs.M.Said, M.Hum menyebutkan: Tujuh Amal kebaikan Setelah Wafat. Berdasarkan hadis, Riwayat Imam ibnu Majah:
Artinya: Abu Hurairah r.a.berkata Rasulullah SAW, bersabda,” sesungguhnya setelah kematiannya seorang mukmin akan bertemu dengan amal kebaikannya, yaitu ilmu yang dijarkan dan disebarkannya, anak shaleh yang ditinggalkan, mushaf Alqur’an yang diwariskan atau diwakafkannya, Masjid atau rumah yang dibangunnya untuk ibnu sabil, sungai yang di alirkannya dan sedekah dari hartadikeluarkannya dalam keadaan dirinya sehat semasa hidupnya. Ia akan menjumpainya setela kematiannya. (HR.Ibnu Majah)
Dari hadis ini memberi pemahaman kepada kita bahwa siapa saja melakukan amalan diatas maka akan bertemu dengan amal perbuatannya setelah wafat yaitu, pertama, Ilmu yang diajarkan dan disebarkan luaskan. Kedua, Anak yang shaleh yang ditinggalkan. Ketiga, Alqur’an yang ditinggalkan atau diwakafkan. Keempat, Masjid yang dibangun. Kelima, Rumah untuk Ibnu sabil. Keenam, Sungai yang di alirkan. Ketujuh, Sedekah yang dikeluarkan dari hartanya di kala sehat dan selama hidup.
Amalan diatas, pada umumnya oleh Bapak H.Affandi telah melakukannya. Semoga menjadi ladang amal bagi alm H.Affandi Tungkang.
Pendidikan Islam Di Rumah (Informal), Tunjuk Ajar Abah
Hanya sedikit percikan alm H.Affandi Tungkang yang dapat penulis curahkan disini. Mengingat banyak belum diketahui, namun ada beberapa didikan yang didapatkan oleh putera/i Abah, berikut, Hj.Rusnarwati,S.Pd berkisah:
“Kami ngaji dengan omak dan sebagian ada yang ngaji pindah maksudnya selain omak. Sekiranya kami tidak ngaji maka, Abah mengertak kami dengan tiga batang lidi supaya kami ngaji”. Tidak itu saja ketika Udo H. Kemit praktek shalat Abah memperhatikan secara teliti dan bila anaknya main-main maka tidak segan memarahi dengan gertak, akhir kamipun menekuni dan serius.”
Selain itu, tunjuk ajar Abah terhadap kami, anak-anaknya: pertama, jangan memburuk, zuuzun kepada orang lain, jangan menjelekkan orang lain biarlah orang memburuk, menjelekkkan kita. Kedua, jangan mengeluh, kalau mau lebih carilah dengan bekerja keras dan jangan lupa berdoa. Ketiga, Tentang nama anak hendaklah kalian menggunakan pangkal hurup tertentu.
Tentang nama ini kisah kebahagian dari anaknya H. Syamsul, AF/Cupak sedikit ceritanya: Salah satu cucu dipanggil Abah dengan Amat Rahim namanya Jhon Charles, oleh Alang “bialah namu anakku dua, bila dewasa nanti pergi ke luar negeri sekolah bagian barat maka ia tidak mengalami kesulitan di sana, karena namanya Jhon Charles. Seterusnya, bila ke timur tengah namu uyang Arab, Amat Rahim” ternyata apa yang diucapkan dulu, menjadi kenyataan ternyata Jhon Charles merasakan belajar/kuliah di sana. Betapa bahagianya ternyata bual – bual dulu menjadi kenyataan.
Keempat, cari jodoh hendaklah se-Akidah maksud se-Agama, masalah keturunan, kekayaan jangan sekali-sekali menjadi prioritas/diutamakan. Kelima, jangan membela anak sendiri walaupun ia benar, bila berkelahi dengan anak tetangga. Agar mereka, anak kita itu tidak “mengkek” merasa dibelakan/dilindungi kuatir menjadi manja, suka berkelahi dan berbuat jahat.
Selain itu, sempat juga putrinya Hj.Rusnarwati,S.Pd menyebutkan cita-cita, keinginan Abah:
1). Mendirikan Masjid NurAffadi.
2). Pesantren dan
3). Mendirikan Rumah sakit.
Harapan semoga melalui ini masyarakat mudah beribadah, menyekolahkan putra/i dan berobat tidak jauh-jauh. Sehingga terbantu masyarakat.
