Pantas Raudhah itu Dirindui

Ditulis Oleh adminriau Jum'at, 23 Januari 2015, 15:42

oleh Agustami

Ketika, berlangsung pernyataan “Mak,.. doakan aku di Raudhah besok, ya” itulah kalimat demi kalimat saat menyalami Abah saya, berangkat haji 1991 dan 2005. Ternyata ketika Umrah 2009, 2010 dan 2011 serta Pebruari 2013 kemaren begitu juga, termasuk kepada saya sambil menyalami “Selamat ya, semoga sehat dan menjadi umrah yang berkah” kemudian disambungnya “Doakan aku di Raudhah, ya”, spontan saya jawab, Insya Allah.

Saya jadi berpikir dan bertanya dalam hati “Apa itu raudhah dan apa hasiat/fadhilahnya” sehingga begitu keinginan. Sedangkan informasi tentang raudhah belum pernah terbaca, ketika itu. Tulisan ini berupaya menjawab hal itu. Sesuai temuan kasat mata dan konsep yang sedikit penulis peroleh.

 

Assalamu ’ alaikum wr wb

Tepatnya, tanggal 11 Pebruari 2013, rombongan jamaah umroh berangkat dengan rute perjalanan Pekanbaru-Batam-Singapore dan Jeddah. Seterusnya, dari Jeddah ini jamaahpun diberangkatkan menggunakan bus dan sampai sekira Jam 4.30 waktu Madinah dan mau memasuki subuh di Royal Al-Andalus Suites, Madinah. Alhamdulillah ternyata antara hotel dengan Masjid Nabawi sangat berdekatan. Keluar dari hotel tampak tugu, belokkan badan ke ke kiri langsung masuk arena Masjid Nabawi.

Betapa terpesona melihat kegagahan Masjid Nabawi dan mendengar Azan Madinah secara langsung. Selama ini hanya melalui media televisi. Kebahagian bercampur sedih dan menangispun tidak bisa dibendungi (hanya sebatas menangis) karena kami sekeluarga teringat almarhum Omak, Hj. Nurhayati binti KH. M. Kayo yang baru meninggal yang masih hitungan bulan. Terlebih bagi saya terasa sekali, karena jauh sebelumnya, bahkan tahun 2011 alm omak mengajak saya umroh, langsung ketika itu saya tolak. Pada giliran tepatnya, akhir 2012 ajakan ini terulang lagi dan langsung saya terima, kemudian kami mendaftar. Persiapan demi persiapan sudah rampung namun takdir menghendaki lain, omak wafat/ dipanggil oleh Allah SWT. Semoga omakku masuk surga Firdaus, Amiin. Dalam pemikiran yang demikian terngianglah firman Allah SWT “Apabila Telah datang ajal mereka, Maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukan(nya)”. (Q.S. Yunus: 49) sehingga kesedihanpun bisa terobati dan hal ini termasuk taqdir yang wajib diImani.

Pintu yang kami masuki bernama Babul Abdul Faht, doa masuk masjidpun dibacakan. Abah, Ulung dan sayapun mendapat syaf agak belakang, sekitar 5 meter dari depan pintu agak ke-kanan dan di depan kamipun sudah berdesakan/penuh syaf-syaf jamaah. Akhirnya kami melakukan shalat sunnat Tahiyyatul dan Fajar di Masjid Nabawi. Selepas melaksanakan ibadah sunnah ini, tidak lama kemudian Iqamahpun dikumandangkan dan shalat Subuh dimulai. Ayat yang begitu panjang dibacakan oleh imam, ternyata tidak terasa dan desakan orang yang ramai ternyata tidak melelahkan walaupun dari Pekanbaru hingga pagi ini sampai di Madinah hampir tidak ada istirahat. Bahkan Abah saya yang sudah usia 73 th bisa menyaingi semangat usia anaknya (saya) 40 th ini. Semua ini berkat pertolongan yang maha Kuasa.

Begitulah celoteh awal dulu, kembali ke subtansi mengapa Raudah diidolakan/dirindui banyak orang. Apa benar demikian. Sekira ia, ada apa disitu?. Penasaran ini semakin tinggi sebab saya sudah masuk dalam masjid bahkan sudah shalat. Sehingga selesai shalat subuh saya langsung mengajak “Ulung dan Abah” Abang dan Ayah ke Raudah, tidak ingat lagi pemberitahuan dari ustaz Sirajuddin ketika di Bus “setelah shalat subuh langsung sarapan pagi kemudian pembagian kamar hotel”. Kelupaan ini lalu dibantah oleh Ulung, kita ke hotel dulu sarapan dan pembagian kunci “gi mana Adinda ni, “lupo”, lupa.. ya”. Kata ustaz tadi pagi. Akhirnya pandangan mata tajam ini yang tertuju ke depan, arah Raudah ini berbalik 180 derajat. Hanya bisa mendengar dan melirik telunjuk ulungku yang mengatakan sambil menunjuk dengan tangan “raudhah depan kito, “dokek”, dekat..tu”. Keinginan ini seperti tertelan “air liur” larut bersama kesibukkan lain yang mesti diutamakan.

Memang benar, kesibukkan telah menyita waktu sehingga shalat zuhur tiba pula. Kamipun shalat Zuhur dan salat jenazah bersama di Masjid Nabawi serta dilanjutkan zikir pendek. Setelah itu saya mengira dalam hati “kali ini Abah dan Ulung bisa mengajak ke Raudhah” baru kata hati demikian. Ulungpun mengatakan “jangan kita memaksakan diri” nanti ajalah, waktu masih panjang. Kamipun langsung ke hotel untuk makan sekaligus istirahat.

Rupanya ada magnet raudhah, mata tidak mau dipejamkan, kalimat demi kalimat acap kali keluar “Bah, kata orang, Raudhah tempat mustajab berdoa dan banyak pulo kawan-kawan minta didoakan di tompek itu”. Disahut oleh Ulung “Adinda, bagaimana menuut kaji, menurut kajian” saya jawab “itulah masalah lung..eh, pemaleh te.. sampai kinen konsep, dalil terkait dengan Raudhah olun aku baco-le”. Akhirnya diskusi ringan ini “dipending” terhenti ketika itu juga, namun dalam hati akan mencari informasi Raudhah. Kemudian Abah yang bijaksana ini tau tentang kegelisahan anaknya terkait dengan raudhah. Lansung saja, Abah mengatakan “kita berangkat sekarang ke Raudhah” kami langsung menuju raudhah, betapa terkejutnya saya ternyata tempat ini ramainya luar biasa. Saking ramainya, jangankan melakukan shalat, berdiri saja sulit. Ulung yang sudah berpengalaman ini (sudah berkali-kali, kesini) menyuruh saya dulu dan sekalian shalat sunnah serta berdoa. Ada sebuah pemandangan dari samping kanan, ulung memberi tanda dilarang lewat dengan menggunakan tangan dan kaki agak dilebarkan, supaya saya bisa sujud agar tidak dilewatkan orang.

Alhamdulillah, sungguh luar biasa secara bergantian saya, Ulung dan Abah dapat shalat serta berdoa di tempat ini dengan cara yang sama. Walaupun begitu sesak banyak manusia, air mata tidak bisa dibendung, menangis. Hati ini mau menambah waktu untuk iktikaf dan zikir lagi. Oleh Abah “sudahlah gus” biar bagian orang lain pula dan masih ada lagi yang perlu kita ziarahi. Mendengar masih banyak orang lain mau disini maksudnya, Rauhdah, maka saya berpindah. Namun dalam hati masih memiliki tekat dan keinginan agar bisa ditempat ini lagi, apalagi waktu masih ada tiga hari di Madinah. Selanjutnya, kami ziarah ke makam Rasulullah SAW, Abu Bakar dan Umar bin Khattab.

Pada giliran malamnya, sekira jam 1.30 waktu Madinah. Abah langsung mengajak saya ke Raudhah. Kebetulan cuaca waktu itu agak dingin. Tapi dengan semangat walaupun jalan agak mengelilingi separoh Masjid, sebab Babul Abd Faht depan hotel kami tertutup. Rupanya semangat tetap eksis termasuk Abahku. Sambil jalan menuju Babussalam tersebut dalam hati saya berkata “Semoga Abahku dan Aku diberikan kesehatan dan keberkatan serta pahala”. Perjuangan ini belum seberapa bila dibandingkan para pendahulu penegak Islam, itulah yang muncul dalam pikiran. Pegangan tangan Abahku membuat saya teringat kisah orang mulia ayah dan anak dalam Alqur’an seperti Nabi Ibrahim as dan Ismail as, Yakup as dan Yusuf as serta Zakariya as dan Yahya as. Mengapa tidak teringat kisah ayah mulia, sebab sejak tanah air lagi semua kebutuhan dari sekecilnya hingga besar disiapkan. Saya jadi malu dengan saudara/i, kini ia tuntun lagi ke tempat mulia, Raudhah bahkan mencium Hajar Aswad Abahlah membantu saya.

Akhirnya, sampailah kami Babussalam. Lansung jalan terus menuju Raudhah. Pada waktu ini keramaian agak berkurang. Disinilah beberapa ibadah banyak yang bisa dilakukan. Sekira pukul 2.15 kamipun mengambil inisiatif melakukan iktikaf dan melanjutkan shalat Subuh posisi syaf kedua disamping polisi Arab, Sebab belakang imam baik syaf pertama maupun kedua sebanyak tujuh petugas. Sehingga Abah dan saya dapat leluasa melihat kondisi Imam dan petugas lainnya. Usai Shalat subuh, kamipun ingin sekali menyalami imam namun imam dikawal ketat oleh polisi dan semangat untuk mengikuti terus berlansung sehingga kami keluar dari pintu masjid yang tidak bernama. Selama ini saya berpikir semua pintu ada nama ternyata ada pintu masjid Madinah Nabawi yang tidak bernama. Hajat menyalami imam tidak tewujud, hanyut bersama kerumumunan orang banyak. Sesampainya kami diluar ternyata permadani tempat shalat berjamaah diluar basah dan dinginnya cukup mencekap kulit.

Pada giliran berikutnya usai makan siang. Posisipun berbeda kini Ulung dan saya ke Raudhah lagi dan Abah biar istirahat buat beberapa menit di hotel. Tidak terasa juga dengan dikerumunan orang ramai di Raudhah, waktu Asarpun tiba. Ulung dapat melaksakan shalat Asar di Raudhah. Barulah pada malam berikutnya, sekira jam 1.30 waktu Madinah. Saya sendiri tanpa ditemani oleh Abah dan Ulung ke Raudhah, ketika inilah saya di Raudhah agak lama, setelah itu saya lanjutkan melihat berbagai tempat seperti Makam rasul, Abu Bakar dan Umar. Kemudian masuk melalui pintu Babul Jibril (pintu Jibril) rupanya Masjid Nabawi ada nama pintu tersebut, Ahlussuffah atau yang disebut Abahku dengan “katil” tempat ditinggikan dari jamaah lain. Di sini suasana ada perbedaan. Shalat sunnah, iktikaf dan salat subuh terasa “sesuatu” kebahagian. Gak percaya… coba dech.

Dari pertama saya memasuki Raudhah baik bersama Abah, Ulung dan sendiri rata-rata keramaian tempat ini tidak pernah surut dan diperkuat lagi kalimat kawan ketika mau berangkat kemaren serta sebelumnya terhadap Abah juga, minta doakan di Raudhah. Seperti ungkapan mereka “Mak,.. doakan aku di Raudhah Suk, yo” itulah kalimat demi kalimat saat menyalami Abah saya, berangkat haji 1991 dan 2005. Begitu juga kenyataan ketika Umrah 2009, 2010 dan 2011 serta Peb 2013, termasuk kepada saya sambil menyalami seperti “Selamat ya, semoga sehat dan menjadi umrah yang berkah” kemudian disambungnya “Doakan aku di Raudhah, ya”, spontan saya jawab, Insya Allah.

Saya jadi berpikir dan bertanya dalam hati “Apa itu raudhah dan apa hasiat/fadhilahnya” sehingga demikian keinginan orang-orang. Sedangkan ketika itu informasi tentang itu belum pernah terbaca, ketika itu. Setelah menyaksikan dan mendapat sedikit ini bahwa, raudhah itu dan hasiat/fadhillahnya”.

Dalam buku “Raudhdah: Batasan, Keutamaan, Monument-Monumenny dan Peristiwa- Pristiwa Penting Yang Terjadi Disana” oleh Ahmad Muhammad Sya’ban menyebutkan, sebagai berikut:

Raudhah secara bahasa merupakan tanah hijau atau taman yang indah. Lalu batasannya raundhah adalah terletak di antara hujrah (kamar) Aisyah radhiyallahu’anha dan mimbar Nabi shalallahhu’alaihiwassalam. Hal ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Zaid al Maazini Ra, bahwa rasulullah bersabda: ”Apa yang berada antara rumahku dan mimbarku adalah raudhah (taman) dari taman-taman surga”.

Adapun bentuknya persegi panjang dimulai dari hujrah sampai ke pilar/tiang Wufud. Dari arah barat mulai dari mimbar hingga setengah tempat Azan, utaranya mulai dari pilar Wufud sampai ke setengah tempat Azan. Panjangnya dari timur ke barat 26,6 m dan pagar yang mengelilingi hujrah telah menutupi sebagian raudhah. Sehingga yang tersisa dari panjangnya 22 m. lebarnya dari selatan ke utara 15 m. Sehingga luas keseluruhan raudhah 397,5 m2. Namun ada sebagian ulama berpendapat Raudhah itu memanjang sampai ke Mushalla untuk shalat ‘ied yang dikenal sekarang dengan masjid Ghamamah. Sebagian lagi menyebutkan raudhah itu seluruh masjid Nabawi yang di masa kenabian.

Selanjutnya, adapun keutamaan/hasiat/fadhillah tempat ini, Raudhah dari beberapa hadis menyebutkan, sebagai berikut:

Pertama, dari Abdullah bin Zaid al-mazini ra bahwa rasulullah bersabda: ”Apa yang berada antara rumahku dan mimbarku adalah Raudhah (taman) dari taman-taman surga”. (Muttafaq ‘alaihi). Kedua, dari Abu Hurairah Ra. Dari rasulullah SAW bersabda: ”Apa yang berada antara rumahku dan mimbarku adalah Raudhah (taman) dari taman-taman surga, dan mimbarku berada di atas telagaku”. (Muttafaq ‘alaihi). Ketiga, dalam riwayat Ahmad dengan lafaz “sesungguhnya Mimbarku berada di atas salah satu pintu dari pintu-pintu surga dan apa yang di antara mimbarku dan kamarku adalah taman dari taman surga. (Isnad Shahih) dan Keempat, dari Said al Khudri ra. Bahwa Rasulullah SAW bersabda “Mimbarku berada di atas pintu dari pintu-pintu surga, dan apa yang di antara mimbarku dan rumah Aisyah adalah taman dari taman-taman surga”. (HR.Thabrani al Awsath dan Thahawi)

Dari beberapa hadis diatas, memberikan pemahaman kepada kita bahwa, selain menyebutkan batasnya/ tempat raudhah yakni dari rumah Nabi SAW dan mimbarnya sekaligus Raudhah (taman) dari taman-taman surga dan mimbarnya berada di atas telagaku serta salah satu pintu dari pintu-pintu surga.

Tentang makna raudhah disini, para ulama berselisih pendapat, ada mengatakan “Sesungguhnya tempat itu adalah taman-taman surga dalam hal turunannya rahmat dan didapatnya kebahagian dengan apa yang dilakukan didalamnya seperti: istiqamah dalam halaqah zikir, apalagi di masa Nabi dan sebagian lagi menyebutkan “siapa yang selalu melakukan ketaatan kepada Allah SWT di tempat ini, raudhah niscaya akan berada di taman dari taman-taman surga yang hakiki”. Sedangkan jumhur Ulama menyebutkan “makna raudah itu hakiki, yakni tempat yang diisyaratkan dalam hadis memang bagian yang diambil dari surga sebagaimana sama halnya dengan Hajar Aswad, sungai Nil dan Efrat..kelak tempat tersebut tidak akan fana seperti bumi, kelak akan dipindah… ke surga dan akan dijadikan taman surga, seperti batang pohon korma yang menambakan Nabi SAW”.

Pendapat terakhir ini dengan merujuk terkait nas hadis yang menetapkan keistimewaan tempat ini, Raudhah. Melihat dari temuan banyaknya manusia di tempat ini dan merujuk ke konsep-konsep terkait tentang Raudhah di Masjid Nabawi, Madinah maka tidak salah lagi dan layak serta pantas "Raudhah Dirindui". Bagi mereka yang belum kesini sangat merindukan sekali sehingga mohon didoakan di tempat ini. Sedangkan yang langsung berada disana kecanduan, ketagihan. Maunya berada terus lagi di Raudhah ini. Namun etika dan adab bagi jamaah maupun akan menjadi jamaah Haji/Umroh tetap di nomor satukan, seperti yang tercantum pada tulisan Abangda Rialis “Memetik Hikmah Raudhah” pada majalah dinamis, menyebut beberapa adab untuk para jamaah memasuki masjid Nabawi, yaitu:

1. Masuk dengan kaki kanan sekaligus membaca doa.

2. Tidak duduk didekat pintu dan menghalangi jemaah lain, karena ramainya jemaah lain.

3. Shalat Tahiyyatul masjid di raudhah atau di tempat lain Masjid

4. Tidak melangkah pundak orang

5. Kemudian memberi salam kepada Rasulullah dan dua sahabatnya (Abu bakar dan Umar)

6. Tidak berdesak-desakan saat keluar masuk Masjid

7. Tidak bersuara keras

8. Mengahadap kiblat dan berdoa untuk diri, orang tua, sanakl keluarga dan kaum muslimin.

9. Tidak menyentuh dinding makam, apalagi menciumnya.

Semoga dengan membaca ini menjadi vitamin sehingga keinginan kesana yang dibuktikan dengan perbuatan semakin nyata bukan sebaliknya cakapnya mau ke Madinah dan Makkah tapi bilang ”bolun ado sou” belum ada panggilan padahal kenyataan sehari-hari masih menomor duakan Makkah dan Madinah, yang pertama dan utama sekali memikirkan dan melaksanakan yang wah-wahkan: beli mobil, karyawisata, rumah cantik dsb., Luoh…

wassalamu ’ alaikum wr wb. (Guru MTsN Ujung Tanjung, Rohil, Riau)