PERANG SALIB DAN DAMPAK YANG DITIMBULKANNYA
Oleh : Drs. H. Ahmad Supardi Hasibuan, MA.
PENDAHULUAN
Perang Salib adalah merupakan satu sejarah yang tidak dapat dilupakan oleh agama-agama Samawi yang pernah hidup dan berkembang di dunia ini, sebab perang ini berjalan dalam waktu yang cukup lama, memakan korban yang cukup banyak, menghabiskan dana yang tidak terhitungkan, mendatangkan kerugian yang tak dapat dinilai dengan uang dan bahkan mengakibatkan dampak yang negatif dan destruktif bagi hubungan ummat beragama, namun demikian tak dapat dipungkiri bahwa sesungguhnya Perang Salib telah membawa perubahan peradaban yang signifikan khususnya bagi peradaban Barat yang nota bene beragama Kristen.
Namun demikian perang salib ini adalah merupakan peristiwa bersejarah yang tidak bisa dilupakan begitu saja dan bahkan perang salib ini adalah merupakan salah satu bentuk rangkaian interaksi sosial ummat manusia di abad pertengahan dalam rangka membangun peradaban modern. Charles H. Haskin menyatakan bahwa, Zaman pertengahan adalah merupakan sejarah yang penting dan kompleks. Dalam kurun waktu seribu tahun, saling berinteraksilah berbagai suku, institusi dan kebudayaan. Semuanya itu merupakan suatu proses perkembangan sejarah yang menjadi basis dari peradaban modern.
Perang Salib adalah merupakan sebuah peristiwa sejarah yang dialami ummat manusia dan bahkan tidak dapat dilupakan oleh siapapun yang memiliki kepedulian terhadap perkembangan ummat manusia. Para ahli menyebutkan bahwa ada tiga teori tentang sejarah, yaitu :
1. Teori Siklus. Teori ini menyebutkan bahwa perkembangan sejarah berjalan secara melingkar yang berjalan antara zaman keemasan dan kehancuran. Dengan demikian teori ini menganggap bahwa pengulangan masa lalu pada masa kini atau masa depan adalah merupakan sesuatu yang lumrah.
2. Teori Linier. Teori ini menganggap bahwa pengulangan sejarah tidak pernah terjadi. Proseses sejarah berjalan lurus mengikuti babak baru yang tidak pernah dikenal pada masa lalu.
3. Teori Gabungan. Teori ini menggabungkan kedua teori tersebut di atas, yaitu menyatakan bahwa pengulangan sejarah akan terulang, namun bukan dalam bentuk yang sama.
Berdasarkan teori ketiga tersebut di atas, terdapat beberapa unsur-unsur utama yang melekat pada setiap babakan sejarah, yaitu sebab, proses dan dampak yang ditimbulannya. Oleh karena itulah maka tulisan ini akan menggambarkan Perang Salib sebagai sebuah proses interaksi yang meliputi sebab-sebab, mekanisme dan dampak yang ditimbulkannya.
SEBAB TERJADINYA
Ada satu kenyataan sejarah yang tidak dapat dipungkiri oleh siapapun juga, bahwa setiap berdirinya sebuah kerajaan Islam dimana sajapun tempatnya, maka pastilah orang-orang Kristen ataupun penganut agama yang lainnya diberikan keleluasaan untuk menjalankan ajaran agamanya dengan baik dan benar. Bukan hanya itu para ummat beragama yang non Islam tersebut diberikan juga peluang untuk memegang berbagai jabatan dalam pemerintahan. Hal ini dapat dilihat dimana-mana kerajaan Islam berdiri, atau ummat Islamnya mayoritas dalam suatu negeri, maka ummat beragama lainnya memiliki kebebasan yang sangat luas untuk menjalankan ajaran agamanya dan bahkan memegang tampuk pemerintahan.
Berbeda halnya dengan kerajaan-kerajaan lainnya ataupun mayoritas penduduknya beragama Kristen ataupun non Islam, maka ummat Islam hampir tidak memiliki kebebasan untuk menjalankan ajaran agamanya dengan baik dan benar, apalagi untuk memegang tampuk pemerintahan. Yang terakhir ini menjadi sesuatu yang mustahil untuk diberikan. Hampir pada semua negara yang penduduknya mayoritas ummat Kristen, maka ummat Islamnya akan menjadi masyarakat yang terpinggirkan, kalau bukan disebut sebagai masyarakat kelas dua. Hal ini sebagaimana terlihat dari beberapa negara di kawasan Asia Tenggara seperti di Philifina dan lain sebagainya.
Kebebasan yang diberikan oleh ummat Islam terhadap orang Kristen ini sering dimanfaatkan oleh ummat Kristen untuk melakukan tindakan sebaliknya. Hal inilah yang terjadi ketika Jerusalem dan Syria di bawah kekuasaan Dinasti Fatimiyah dari Mesir. Penguasa Mesir mendorong perniagaan dan perdagangan Kristen. Akan tetapi sebagaimana disebutkan oleh Ajid Thohir dalam bukunya, Perkembangan Peradaban di Kawasan Dunia Islam, Segala keistimewaan dan toleransi yang diberikan ummat Islam tersebut tidak menentramkan hati orang Kristen yang menganggap bahwa kehadiran orang Islam di Yerusalem sebagai suatu hal yang tidak disukai. Dan hal inilah sesungguhnya yang menjadi penyebab utama terjadinya perang salib.
Amir K. Ali dalam bukunya, Study of Islamic History, sebagaimana dikutif oleh Ajid Thohir menyebutkan bahwa yang menjadi penyebab-penyebab terjadinya perang salib itu adalah sebagai berikut :
1. Perang salib terjadi karena adanya konflik lama antara Timur dengan Barat, dalam hal ini antara orang Islam dengan orang-orang Kristen, untuk saling menguasai. Pemunculan Islam yang cepat menimbulkan suatu goncangan bagi seluruh Eropa Kristen sehingga pada abad XI pasukan orang Kristen Barat diarahkan untuk melawan Islam.
2. Pelaksanaan ziarah orang Kristen di Jerusalem semakin bergairah pada abad XI dibanding dengan waktu-waktu sebelumnya. Karena Jerusalem dan Palestina berada di bawah kekuasaan Turki, tidak jarang para Jamaah Kristen mendapat perlakuan yang tidak baik dan dirampok. Informasi mengenai perlakuan demikian cenderung berkembang dan secara berlebihan sehingga menimbulkan reaksi keras orang Kristen di seluruh dunia. W. gomery Watt menyatakan penyebab perang Salib ini didorong oleh praktek ziarah keagamaan. Khususnya ke tanah suci, yaitu Jerusalem.
3. Pada masa itu, Eropa Kristen ditandai oleh kekacauan feodalisme. Raja dan Pangeran terlibat perang satu sama lain. Sehubungan dengan itu, orang Kristen dengan dukungan Paus berusaha memanfaatkan semangat perang internal agama menjadi perang antar agama. Dalam hal ini semangat perang orang Kristen disalurkan untuk memerangi orang Islam.
Namun demikian Dr. Badri Yatim, MA. menyebutkan bahwa terjadinya Perang Salib adalah disebabkan ekspansi yang dilakukan oleh Alp Arselan yang dikenal dengan peristiwa Manzikart, tahun 464 H (1071 M). Tentara Alp Arselan yang hanya berkekuatan 15.000 prajurit, dalam peristiwa ini berhasil mengalahkan tentara Romawi yang berjumlah 200.000 orang terdiri dari tentara Romawi, Ghuz, Al-Akraj, Al-Hajr, Perancis dan Armenia.
Peristiwa besar ini menurutnya menanamkan benih permusuhan dan kebencian orang-orang Kristen terhadap ummat Islam. Yang kemudian mencetuskan Perang Salib. Kebencian ini bertambah setelah Dinasti Saljuk dapat merebut Baitul Maqdis pada tahun 471 H dari kekuasaan Dinasti Fatimiyah yang berkedudukan di Mesir. Menurutnya penguasa Saljuk menetapkan beberapa peraturan bagi ummat Kristen yang ingin berziarah ke sana. Peraturan ini dirasakan sangat menyulitkan bagi mereka. Oleh karena itu maka untuk memudahkan dan memperoleh kembali keleluasaan berziarah ke tanah suci Kristen itu, pada tahun 1095 M, Paus Urbanus II berseru kepada ummat Kristen di Eropa supaya melakukan perang suci.
Sementara itu Dr. Yusuf Qordhowi menyatakan bahwa Perang Salib adalah perang yang dilakukan oleh orang Eropa dengan dorongan para Paus dan pemuka agama Eropa seperti Petrus Nesk. Mereka datang memerangi Timur Islam dengan beberapa alasan. Luarnya agama tetapi dalamnya adalah penjajahan. Oleh karena itulah maka para sejarawan muslim menyebut peperangan tersebut dengan nama “Perang Bangsa Eropaâ€. Sebagai isyarat bahwa peperangan tersebut adalah penjajahan yang dilakukan oleh bangsa Eropa untuk memerangi negeri-negeri Islam, serta merampas dan menguasainya.
Namun demikian bangsa Eropa menyebut peperangan tersebut dengan nama Perang Salib, karena mereka menggunakan salib dalam peperangan tersebut sebagai tanda. Mereka mengklaim bahwa kedatangan mereka adalah untuk menyelamatkan “Kuburan Al-Masih†dari tangan ummat Islam. Padahal kuburan, gereja-gereja, dan hal-hal lainnya yang dianggap suci oleh ummat Nasrani dijaga dan dipelihara dengan baik oleh kaum muslimin. Tempat-tempat tersebut tidak pernah diganggu, sebab orang yang melakukan hal tersebut berhak mendapatkan hukuman dari khalifah dan mendapat cercaan orang banyak. Islam memandang bahwa menjaga tempat-tempat suci Al-Masih dan ummat Nasrani adalah termasuk dalam perjanjian dengan Ahli Dzimmah. Memenuhi perjanjian tersebut adalah termasuk kewajiban yang harus dilakukan oleh ummat Islam, baik pemimpin maupun rakyatnya.
PRIODISASI PERANG SALIB
Perang Salib yang terjadi dengan latar belakang sebagaimana tersebut di atas berlangsung dalam beberapa priode. Para ahli sejarah berbeda pendapat dalam menetapkan priodisasi dari Perang Salib ini. Dr. Yusuf Qardhowi menyatakan bahwa Perang Salib itu berlangsung sembilan priode atau sembilan kali. Berbeda dengan ini, Dr. Badri Yatim, MA. menyatakan bahwa Perang Salib itu berlangsung selama tiga priode. Pendapat Badri Yatim ini senada dengan Philip K. Hitti yang menyatakan bahwa Perang Salib itu berlangsung selama tiga priode, yaitu pertama, masa penaklukan yang berjalan sampai dengan tahun 1144 M. Masa kedua, masa timbulnya reaksi Islam terhadap penaklukan itu, ketiga, masa perang saudara kecil-kecilan dan berakhir pada 1291 M. Sedangkan Ajid Thohir dengan mengutip pendapat Amir K. Ali, berpendapat bahwa Perang Salib itu berlangsung selama delapan priode. Sebagai berikut :
1. Perang Salib I
Pada musim semi tahun 1095 M., 150.000 orang Eropa, sebagian besar bangsa Perancis dan Norman, berangkat menuju Konstantinopel, kemudian ke Palestina. Tentara Salib yang dipimpin oleh Godfrey, Bahemond, dan Raymond ini memperoleh kemenangan besar. Pada tanggal 18 Juni 1097 mereka berhasil menaklukkan Nicea dan tahun 1098 M menguasai Raha (Edessa). Di sini mereka mendirikan Kerajaan Latin I dengan Baldawin sebagai rajanya. Pada tahun yang sama mereka dapat menguasai Antiochea dan mendirikan kerajaan Latin II di Timur. Bohemond dilantik menjadi rajanya. Mereka juga berhasil menduduki Baitul Maqdis pada tanggal 15 Juli 1099 M dan mendirikan kerajaan Latin III dengan rajanya, Godfrey. Setelah penaklukan Baitul Maqdis itu, tentara Salib melanjutkan ekspansinya. Mereka menguasai kota Akka pada tahun 1104 M, Tripoli pada tahun 1109 M dan kota Tyre pada tahun 1124 M. Di Tripoli mereka mendirikan kerajaan Latin IV dengan rajanya adalah Raymond. Dari pihak Islam, Imanuddin Zangi (1123-1146 M) memainkan peran penting dalam sejarah Perang Salib. Zangi berhasil membebaskan Aleppo dan Hammah dari tangan tentara Salib. Penaklukan terbesar dari Zangi adalah merebut Edessa (salah satu kota keuskupan yang paling mulia) bagi orang Kristen.
2. Perang Salib II
Jatuhnya Edessa menimbulkan berbagai ketegangan di seluruh Eropa. Hal ini menyebabkan munculnya Perang Salib II (1147-1149 M) di bawah pimpinan Raja Jerman, Conrad III dan Raja Perancis, Louis VII. Namun kekuatan gabungan militer ini tidak membuahkan hasil. Bahkan akhirnya, Sultan Salahuddin mampu menguasai kembali Damaskus, Jerusalem dan Acre (Pos utama tentara Kristen).
3. Perang Salib III
Kegagalan di atas membangkitkan protes orang Kristen. Selanjutnya, Kaisar Frederick Barbarossa dari Jerman, Raja Philip Augustus dari Perancis dan Raja Richard I dari Inggris menyusun kembali tentara gabungan untuk menyerang Jerusalem. Setelah berperang selama tiga tahun (1189-1192 M), akhirnya tentara Kristen mengajukan perdamaian. Dasar perjanjian tersebut antara lain bahwa daerah pesisir akan menjadi milik orang-orang latin, daerah pedalaman menjadi milik orang-orang muslim, dan bahwa rakyat dari kedua belah pihak boleh saling memasuki wilayah tanpa diganggu.
4. Perang Salib IV
Dua tahun setelah Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi wafat, Perang Salib keempat dibuka kembali atas anjuran Paus Colestine III. Pada tahun 1195 M, tentara Salib merebut Sycilia dan Beirut. Akan tetapi Aadil (Anak Shalahuddin) berhasil mengalahkan tentara Salib. Selanjutnya diadakan gencatan senjata selama tiga tahun.
5. Perang Salib V
Perang Salib lima (1201 M) terjadi di bawah pimpinan Innocent III. Pada perang Salib lima ini tentara Salib berhasil menguasai Konstantinopel.
6. Perang Salib VI
Perang Salib enam berlangsung pada tahun 1216 M, pasukan Salib terdesak oleh tentara Islam. Akhirnya terjadi perjanjian perdamaian di antara kedua belah pihak.
7. Perang Salib VII
Perang Salib tujuh dimulai pada tahun 1238 M, pasukan Kristen di bawah pimpinan Gregory IX berusaha merebut kembali Jerusalem, akan tetapi digagalkan oleh Abu Nasar Daud.
8. Perang Salib VIII
Perang Salib delapan terjadi pada tahun 1244 M di bawah pimpinan Louis IX dari Perancis. Pada perang inipun Louis mengalami kegagalan.
Adapun tokoh-tokoh ataupun Panglima Perang Islam dalam Perang Salib yang berlangsung sebagaimana tersebut di atas secara ringkas dapat digambarkan adalah Imaduddin Az-Zanki dari Turki yang memulai jihad melawan pasukan Salib, yang kemudian dilanjutkan oleh anaknya Nuruddin Muhammad yang bergelar “Asy-Syahidâ€, dan setelah itu dilanjutkan oleh muridnya Shalahuddin Yusuf bin Ayub atau yang lebih terkenal dengan Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi yang di dunia Barat dikenal dengan Sultan Saladin. Di tangan Salahuddin inilah puncak kemenangan ummat Islam melawan tentara Salib, termasuk membebaskan Palestina setelah sembilan puluh tahun di bawah kerajaan tentara Salib. Selain itu di Mesirpun, peperangan melawan bangsa Eropa terus berlanjut, yang terkenal adalah peperangan Al-Manshuroh yang menyebabkan ditawannya Raja Perancis, Louis IX. Para panglima perang Mamalik di Mesir dan Syam terus menerus selalu berhasil menghalau pasukan Salib, hingga akhirnya mereka semua bisa diusir dan tidak tersisa sedikitpun di negeri Islam.
Penjelasan tersebut di atas menunjukkan bahwa sesungguhnya pasukan Salib hampir tidak pernah berhasil menguasai dunia Islam kecuali hanya sementara. Hal itupun sebagaimana diungkapkan oleh W. Montgomery Watt, tingkat keberhasilan yang diraih itu adalah lebih disebabkan oleh perpecahan di kalangan kaum muslimin sendiri. Perpecahan itu terjadi di seluruh wilayah, karena para pemmpin mereka saling baku hantam satu sama lain.
DAMPAK PERANG SALIB
Apabila diperhatikan dampak daripada Perang Salib itu adalah lebih banyak menguntungkan dunia Barat apalagi dibandingkan dengan dunia Timur khususnya ummat Islam. Ummat Islam tidak melihat arti penting apapun dalam peristiwa Perang Salib itu. Pengaruh dari Perang Salib itu hanya sedikit seperti ornamen-ornamen gereja berpengaruh terhadap seni gaya bangunan masjid sebagaimana terlihat pada masjid An-Nashr di Kairo. Secara umum bagi ummat Islam sebagaimana disebutkan oleh Yusuf Qardhowi, Perang Salib adalah merupakan fitnah bagi ummat Islam. Sedangkan bagi orang Kristen yang dalam hal ini dunia Barat, bisa disebut sebuah “rahmat†sebab dengan Perang Salib ini telah membawa dampak yang luar biasa dalam kehidupan dunia Barat pada umumnya. Dan bahkan Perang Salib ini mengantarkan renaissance di Perancis.
Perang Salib telah menimbulkan dampak-dampak penting dalam sejarah perkembangan dunia karena telah membawa Eropa ke dalam kontak langsung dengan dunia Islam yang telah lebih dahulu maju dan berperadaban, sementara Eropa / Barat berada dalam abad kegelapan. Melalui inilah hubungan antara Barat dengan Timur terjalin. Kemajuan orang Tumur yang progresif dan maju pada saat itu menjadi daya dorong yang besar bagi pertumbuhan intelektual Eropa / Barat. Hal itu memerankan bagian yang penting bagi timbulnya renaissance di Eropa.
Dampak positif yang ditimbulkan oleh adanya Perang Salib itu bagi dunia Barat dapat dilihat dalam kenyataan berikut ini :
1. Secara kultural, pasukan Perang Salib di Timur menjumpai beberapa aspek yang menarik dari kehidupan Islam. Ketika pasukan tersebut kembali ke tempat asal mereka, mereka berusaha untuk menirunya. Sejumlah terjemahan bahasa Arab ke bahasa Latin dikerjakan di wilayah-wilayah di mana Perang Salib berlangsung.
2. Gagasan Perang Salib memberi kontribusi kepada gerakan eksplorasi yang berujung pada ditemukannya Benua Amerika oleh Colombus dan ditemukannya rute perjalanan laut ke India dengan mengelilingi Tanjung Harapan (Cape of Good Hope). Akibatnya orang Barat menyadari bahwa selain adanya negara-negara Islam dan Barat, ada juga negara-negara lain yang bukan negara Islam dan bukan negara Barat.
Adapun dampak positif lainnya bagi dunia barat dengan adanya Perang Salib adalah menambah keuntungan Eropa di lapangan perniagaan dan perdagangan. Sebagai hasil dari Prang Salib, orang Eropa dapat mempelajari dan memodifikasi serta mengaplikasaikan beberapa temuan penting yang telah dihasilkan oleh orang-orang Islam pada masa sebelumnya. Hal ini lebih banyak terutama berkaitan dengan masalah-masalah seni, industri, perdagangan dan pertanian.
Dalam bidang seni, gaya-gaya bangunan dan cara berpakaian Timur mempengaruhi seni gaya bangunan dan berpakaian orang Barat. Demikian pula halnya dalam bidang agrikultur, banyak pasukan Perang Salib yang terbiasa dengan produk agrikultur Timur, dan yang terpenting adalah gula; karena gula telah menjadi makanan termewah di Barat. Hal ini berkaitan dengan pembentukan pasar Eropa baru untuk produk-produk agrikultur Timur. Orang-orang Barat mulai menyadari kebutuhan akan barang-barang Timur. Karena kepentingan ini, berkembanglah perdagangan antara Timur dan Barat.
Bersama-sama dengan keperluan transportasi para peziarah dan pasukan Perang Salib telah merangsang kegiatan maritim dan perdagangan internasional. Aplikasi kompas terjadi pada kegiatan maritim saat itu, yang sekalipun jarum magnetik ditemukan orang Cina, namun penemuan jarum navigasi mulai dikembangkan oleh Islam.
Melihat kenyataan-kenyataan tersebut di atas, maka sesungguhnya dunia Barat berhutang budi pada ummat Islam, hanya saja utang budi ini tidak pernah diakui oleh dunia Barat secara terbuka kepada ummat Islam. Sikap ini berbeda dengan sikap ummat Islam yang secara terbuka dari dulu mengakui bahwa filsafat dipinjam dari Yunani, matematika dipinjam dari India, kimia dipinjam dari Cina, dan seterusnya. Itu semua diakui tanpa ada halangan sama sekali.
Ketidak mauan mengakui utang ini pada ummat Islam menurut Max Dimont, sebagaimana disebutkan oleh Nur Cholis Madjid, orang Barat menderita narcisime, artinya mereka mengagumi diri sendiri, dan kurang memiliki kesediaan untuk mengakui utang budinya kepada bangsa-bangsa lain. Mereka hanya mengatakan, bahwa yang mereka dapatkan itu adalah warisan dari Yunani dan Romawi. Padahal sesungguhnya dalam kajian yang lebih objektif dan luas, utang orang Barat kepada Islam luas biasa besarnya.
KESIMPULAN
1. Perang Salib adalah perang yang diprakarsai dan dilakukan oleh orang-orang Kristen terhadap orang Islam yang berlangsung sebanyak delapan priode yang dimulai sejak tahun 1095 sampai dengan 1244 M.
2. Perang Salib terjadi dilatar belakangi oleh berbagai faktor, antara lain adalah disebabkan adanya konflik lama antara Timur dengan Barat, dalam hal ini antara orang Islam dengan orang-orang Kristen; Pelaksanaan ziarah orang Kristen di Jerusalem yang semakin bergairah dan terkadang mendapat rintangan dari penduduk lokal; dan mengalihkan semangat perang internal agama menjadi perang antar agama. Dalam hal ini semangat perang orang Kristen disalurkan untuk memerangi orang Islam.
3. Perang Salib telah mendorong orang Eropa / Barat untuk melakukan renaissance di Eropa, untuk selanjutnya membangun dunia Eropa / Barat sesuai dengan apa yang mereka lihat dan pelajari di dunia Islam. Eropa / Barat banyak berutang budi pada dunia Islam dalam hal peradaban dan ilmu pengetahuan.
P E N U T U P
Demikianlah makalah ini kami sampaikan sebagai pengantar awal bagi kita untuk berdiskusi lebih lanjut, mudah-mudahan makalah ini bermanfaat bagi kita semua dalam rangka mengantarkan kita untuk mengetahui lebih jauh dan secara mendalam tentang Perang Salib yang terkenal itu.***
