Mengilhami Makna Qurban, Hilangkan Sifat Kebinatangan

Ditulis Oleh imuss Selasa, 05 September 2017, 07:24

Gema takbir, tasbih, dan tahmid berkumandang membesarkan serta meninggikan asma Allah Subhanahu wa Ta'ala di masjid, mushala, rumah masing-masing, dan lapangan atau tempat khusus yang disiapkan pemerintah dalam menyambut Hari Raya  dalam agama Islam yakni Idul Adha.


Umat di seluruh dunia, menyelenggarakan ibadah  haji  tanah suci  dan tempat suci  makkah serta medinah, dibarengi dengan beribadah qurban yang bermakna mengorbankan harta yang paling dicintai, seperti bukti kesetiaan Nabi Ibrahim AS pada Allah SWT mengorbakan putranya Ismail, namun Allah SWT menggantikannya dengan seekor domba.


Kepala Kanwil Kemenag Riau, Ahmad Supardi Hasibuan mengatakan,  ibadah qurban  dalam perspektif awal mulanya diperintahkan Allah SWT  pada masa Nabi Adam AS, maupun pelaksanaannya pada masa Nabi Ibrahim AS dan pelembagaannya pada masa Nabi Muhammad SAW, tidak dapat dipisahkan dari pengembangan ekonomi kerakyatan.


Qurban pada masa Nabi Adam AS diwujudkan dalam bentuk hasil pertanian yang diqurbankan oleh Qabil dan hasil peternakan yang diqurbankan oleh Habil.  Qurban Qabil memang tertolak karena memberikan yang terjelek dari hasil usahanya, sedangkan qurban Habil diterima karena memberikan yang terbaik dari hasil usahanya.


Sedangkan qurban pada masa Nabi Ibrahim AS adalah anak beliau sendiri Ismail AS. Tetapi sejarah mencatat, bahwa Ismail anak Nabi Ibrahim AS itu digantikan dengan seekor domba yang besar lagi sehat, karena memang manusia adalah makhluq tertinggi ciptaan Allah, terlalu mulia untuk dijadikan qurban.


Mencermati pada qurban Nabi Ibrahim AS itu, maka qurban pada masa Nabi Muhammad SAW dan pengikutnya hingga hari qiamat adalah sapi, lembu, kambing atau domba peliharaan dan perintah berqurban ini dilakukan sekali setahun.


Ahmad Supardi menekankan, bahwa ibadah qurban  memiliki peran yang sangat besar dalam pengembangan ekonomi kerakyatan  karena yang menjadi subyek qurban adalah orang kaya. Kekayaan harus dimiliki baru bisa berqurban. Dengan demikian maka ibadah qurban memberikan motivasi bagi umat Islam untuk giat bekerja sebab hanya dengan bekerjalah maka dapat berqurban. Kedua, yang menjadi obyek qurban adalah sapi, lembu, kambing dan domba. Keempat hewan ini adalah binatang jinak peliharaan manusia dan sumber ekonomi kerakyatan.


Qurban ini pada dasarnya memerintahkan umat Islam untuk membuka peternakan secara professional. Akan tetapi Ahmad Supardi sangat menyayangkan, ternyata hewan qurban saat ini justru banyak disuplai dari hasil peternakan orang lain yang tidak beragama Islam."Mungkinkah ini sebuah pertanda bahwa orang lain lebih peka menangkap substansi ajaran agama Islam dari pada orang Islam itu sendiri. Wallohu Alam Bish-showab ?," katanya.


Ia menyedari bahwa dengan berqurban, maka meningkatnya rasa kepedulian sosial masyarakat, khususnya kepedulian antara yang berpunya dengan yang tidak berpunya, dengan demikian maka akan terjalin hubungan yang harmonis dan sinergis antara semua pihak, khususnya yang berpunya dengan yang tidak berpunya.


Ahmad Supardi lebih lanjut menyatakan menyembelih hewan qurban mengilhami bahwa secara fisik adalah menyembelih binatang yang hendak diqurbankan, tetapi secara non fisik adalah menyembelih sifat-sifat kebinatangan yang melekat pada setiap diri yang berqurban, seperti sifat serakah, mau menang sendiri, menindas yang lemah, dsb.


Sifat-sifat kebinatangan tersebut, secara simbolis disembelih oleh orang yang berqurban, sehingga sifat tersebut terlepas dan dilepaskan dari diri yang berqurban. Dengan demikian, lahir diri baru, individu baru, dan bahkan masyarakat baru, yang bersih dari sifat-sifat kebinatangan.


"Inilah makna terpenting dari pelaksanaan ibadah qurban yang dilaksanakan oleh umat Islam setiap tahun. Ibadah ini sebenarnya ibadah kuno, tetapi merupakan ibadah yang relevan masa dahulu, relevan masa kini, dan bahkan relevan masa yang akan datang, ujar Ahmad Supardi.


Membangun kepedulian sesama melalui kurban supaya daging qurban  juga bisa diberikan untuk warga yang beda agama sehingga silaturahim terjalin erat antara sesama agama Islam dan non Islam artinya hubungan tetap terjalin dengan umat sesama keturunan Nabi Adam AS itu yang kini berasal dari bereda agama itu.


Setiap orang memiliki tanggung jawab untuk menghormati pemeluk agama lain dan tidak boleh disinggung oleh pemeluk agama berbeda biarlah itu menjadi tangungjawabnya masing-masing. Hindari perselisihan dan pertengkaran. Pemerintah telah mengayomi masyarakat dan masyarakat berkewajiban menjalani aturan ditetapkan pemerintah.


Qurban di masjid Paripurna


Bertepatan hari tasyrik tanggal 11 Dzulhijjah 1438 Hijriah di beberapa tempat dimasjid atau  mushalla warga melaksanakan penyembelihan hewan qurban seperti di Masjid Paripurna Nurul Iman Khairat  Kelurahan Kampung Tengah Kecamataan Sukajadi,Pekanbaru,Riau.


Anwar Jhoni Sekretaris Masjid Paripurna Nurul Iman Khairat, Kelurahan Kampung Tengah Kecamataan Sukajadi menyebutkan panitia membagikan 370 kupon pengambilan daging qurban pada warga. Tahun 2017 masyarakat masjid ini atau warga RW 5 hanya berqurban sebanyak delapan ekor sapi dan seekor kambing atau mengalami penurunan sebanyak dua ekor dibandingkan tahun 2016 mencapai 10 sapi itu.


"Pembelian sapi dilakukan oleh 57 peserta qurban dan sapi didatangkan dari Sumatera utara usia 2,5 tahun.  warga RW lima  harapan tentu kebersamaan  lebih banyak tahun berikutnya melalui tabungan warga di masjid dan ibu-ibu majlis taklim, bahkan ada satu ekor sapi di qurbankan oleh  satu keluarga. Sisanya peserta lama dan peserta baru.


Masjid paripurna disebut sebagai masjid percontohan karena keberadaan sarana ibadah itu dengan SK Wali Kota Pekanbaru dan mendapatkan bantuan APBD Kota Pekanbaru setiap tahun. Ciri masjid paripurna mendapatkan seorang imam besar yang harus hafiz Al Qur'an dan memiliki pengetahuan ilmu agama yang memadai karena keberadaannya juga sebagai tempat bertanya umat (mufti) dalam memecahkan berbagai persoalan kemaslhatan umat.


Imam besar Masjid Paripurna Nurul Iman Khairat, M Taufik  mengatakan,  yang paling penting memaknai ibadha berqurban adalah niat berkurban yang harus diperbaiki oleh peserta qurban yakni keiklasan karena Allah SWT dana bukan karena ria.  Hanya ingin mendapatkan keberkahan dari Allag SWT. Qurban akan diganti oleh Allah SWT dengan balasna berkalilipat.


Sapi Pemberian Jokowi 


Sapi pemberian Presiden Joko Widodo (Jokowi) dikurbankan di Kelurahan Pematang Pudu Kecamatan Mandau.Secara simbolis, sapi seberat 870 Kilogram itu diserahkan oleh Gubernur Riau (Gubri), H Arsyadjuliandi Rachman kepada salah seorang tokoh masyarakat di wilayah tersebut, pada Jumat (1/9).


Penyembelihan tersebut disaksikan Ketua TP PKK Provinsi Riau, Hj Sisilita Arsyadjuliandi Rachman, Bupati Bengkalis, Amril Mukminin, Ketua TP PKK Kabupaten Bengkalis, Kasmarni dan sejumlah anggota DPRD Kabupaten Bengkalis Daerah Pemilihan Kecamatan Mandau - Pinggir.

Arsyadjuliandi Rachman berharap daging qurban dari Presiden Jokowi, dapat dibagikan kepada mereka yang berhak menerima.