MUHASABAH

Ditulis Oleh adminriau Kamis, 04 Mei 2017, 06:21

Oleh Drs H Ahmad Supardi Hasibuan MA
Kepala Kanwil Kemenag Prov Riau

Muhasabah atau disebut juga introspeksi ataupun evaluasi adalah salah satu unsur terpenting dalam sebuah manajemen organisasi, baik organisasi profit atau mencari keuntungan, maupun yang nirlaba atau tidak mencari keuntungan, seperti organisasi sosial.  Bukan hanya terhenti sampai di situ, muhasabah juga sangat diperlukan dalam menganalisa kinerja diri sendiri, sehingga mengalami peningkatan dari satu waktu ke waktu berikutnya. Hal ini sesuai hadits Nabi Muhammad SAW yang menyatakan, bahwa barang siapa yang kinerjanya hari ini lebih baik dari hari kemaren maka dia adalah termasuk orang yang beruntung. Dan barang siapa yang  kinerjanya sama dengan hari kemaren maka dia termasuk orang yang merugi. Dan barang siapa yang kinerjanya lebih jelek dari hari kemaren maka dia adalah termasuk orang yang  celaka.

Oleh karenanya, maka dalam perspektif agama, muhasabah merupakan salah satu bentuk keimanan, ketaqwaan dan amal soleh yg harus dan wajib ditingkatkan dan disempurnakan, baik dalm konteks hablum minallah maupun dalam konteks hablum minannas. Hal ini fimaksudkan, agar umat manusia tdk merugi dan menyesal selama-lamanya, baik dalam kehi upan dunia maupun dan terlebih lagi kehidupan yang abadi di akhirat jelak. Hal inilah yang dimaksudkan dalam firman Allah Swt, yang oleh para ahli tafsir dijadikan sebagai rujukan utama dslam hal muhasabah, introspeksi dan atau evaluasi, sebagai berikut :

 “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (Qs. al-Hasyr: 18-19 )

Jika diperhatikan ayat di atas, perlu menjadi perhatian khusus, dimana Allah Swt memerintahkan orang-orang beriman untuk bertaqwa sebanyak dua kali. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya kandungan ayat di atas dalam hidup dan kehidupan umat manusia.
Berkata Imam al-Qurthubi di dalam al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an (17/29): “Dikatakan bahwa Taqwa yang pertama, maksudnya adalah taubat dari dosa-dosa yang telah lalu. Adapun Taqwa yang kedua adalah menghindari dari maksiat di masa mendatang.“

Setelah Allah memerintahkan orang-orang beriman untuk bertaqwa, kemudian Allah memerintahkan setiap jiwa dari mereka untuk melihat apa saja bekal yang yang sudah disiapkan untuk menyambut hari esok, inilah makna sesungguhnya dari muhasabah, intropeksi, dan evaluasi. Artinya bahwa salah satu bentuk ketaqwaan kepada Allah adalah selalu bermuhasabah diri terhadap apa yang sudah dikerjakan selama ini.

Persiapan Untuk Hari Esok

Mempersiapkan diri untuk menghadapi hari esok adalah sesuatu yang diperintahkan oleh Allah SWT. Hari esok ada dua; hari esok yang dekat, dan hari esok yang jauh.

Adapun hari esok yang dekat adalah hari-hari mendatang di dalam kehidupan dunia ini bisa satu hari lagi, satu minggu lagi, satu bulan lagi, satu tahun lagi, sepuluh tahun lagi dan seterusnya. Yang jelas, setiap diri kita harus mempersiapkan diri untuk masa depan.
Ayat ini memerintahkan kita umat Islam untuk selalu mempunyai rencana dan rancangan yang matang dalam setiap aktivitas, tidak asal kerja, tidak asal beramal. Sehingga hasil kegiatan yang terencana dan terprogram dengan rapi akan menghasilkan sesuatu yang baik dan bermanfaat, baik di dunia ini maupun di akherat.

Adapun hari esok yang jauh maksudnya adalah hari akherat. Maka setiap diri kita hendaknya mempersiapkan bekal amal untuk dibawa ke akherat. Menurut Imam al-Qurtubi : “Hari esok adalah hari kiamat. Orang Arab menyebut sesuatu yang akan datang dengan esok hari.“


Macam-Macam Muhasabah Diri  

Dalam perspektif ajaran agama Islam, Muhasabah diri bisa dibagi menjadi beberapa macam:

Pertama: Muhasabah Sebelum Beramal.
Sebelum beramal hendaknya kita bermuhasabah, apakah amal yang akan kita kerjakan sudah benar-benar diniatkan karena Allah semata, atau ada niat lain?  seandainya sudah ikhlas, maka apakah sudah sesuai dengan tuntunan Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam?

Kedua: Muhasabah Pada Saat Beramal.
Ketika sedang beramal, hendaknya  kita terus berusaha agar amal kita tetap berada pada jalur yang telah digariskan Allah, jangan sampai lengah dan keluar dari jalur, maka kita akan celaka.  
Jika kita sedang sholat umpamanya, hendaknya tetap berusaha agar sholat kita tetap khusu’ dan diniatkan hanya karena Allah hingga akhir sholat. Jangan sampai di tengah-tengah sholat muncul hal-hal yang mengganggu kekhusu’an dan keikhlasan kita.

Ketiga: Muhasabah Setelah Beramal
Setelah melakukan suatu amal, hendaknya seseorang melakukan muhasabah kembali, apakah amalnya sudah bermanfaat bagi orang lain atau belum, jika sudah bermanfaat, sejauh mana manfaat tersebut, sedikit atau banyak, jika masih sedikit hendaknya ditingkatkan kembali.    

Melihat amal perbuatan yang dikerjakannya belum sempurna, maka hendaknya disempurnakan kembali di masa mendatang. Amal perbuatannya yang belum ikhlas, hendaknya diusahakan untuk benar-benar ikhlas karena Allah di masa-masa mendatang, dan seterusnya.  

Sangat penting unyuk direnungkan ucapan bijak dari Amirul Mukminin Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu yang menyatakan:
Bermuhasabalah atas diri kalian sendiri sebelum kalian dihisab pada hari kiamat, dan timbanglah amal kalian di dunia ini sebelum nanti ditimbang pada hari kiamat. Sesungguhnya kalian akan merasa ringan dengan bermuhasabah pada hari ini untuk menghadapi hisab kelak. Dan berhiaslah kalian (dengan amal sholeh) untuk menghadapi hari pameran agung. Pada hari itu perbuatan kalian akan ditampilkan tidak ada yang tersembunyi sedikitpun.

Semoga tulisan singkat ini dapat direfleksikan dan diaflikasikan serta diqiyaskan dalam berbagai bidang kehidupan sehari hari, sehingga hidup kita senantiasa berada dalam kontrol yang matang dari diri kita sendiri, sebagaimana dimaksudkan dalam untaian hikmah dari Umar Bin Khattab tersebut di atas. *Ash*

Dimuat pada harian umum Pekanbaru Pos, Jumat (3/2/2017).