Jumat, 3 Februari 2017, 15:19

SEJARAH RINGKAS SYEKH AIDARUS ABDUL GHANY

LAHIR TAHUN 1926 WAFAT TAHUN 1989
BERUMUR 63 TAHUN 5 HARI

I. MASA KECIL
Syekh Aidarus dilahirkan di Koto Tengah Kedesaan Batubersurat Kee. XIII Koto Kampar pads tanggal 15 Agustus 1926. Ayah beliau adalah Syekh Abdul Ghany Alkampari (Mursyid Thariqat Naqsyabandiyah Batubersurat) berasal dari Koto Tengah Batubersurat sedangkan ibu beliau Siti Maryam berasal dari Kenagarian Batu Gajah Tapung. Nama asal yang diberikan ayahnya Idrus kemudian diganti oleh gurunya Syekh Muda Wali dengan Aidarus, hal tersebut disetujui oleh ayah beliau.
Masa kecil beliau dididik dalam lingkungan keluarga yang agamis, Ayah beliau seorang Ulama dan Alim dibidang Tharigat Naqsyabandiyah dan ibu beliau seorang yang fasih membaca Al-Qur'an. Karena itu Syekh Abdul Ghany tertarik menikahi Siti Maryam. Siti Maryam berusia muda dibandingkan dengan Syekh Abdul Ghany yang sudah lanjut usia, namun beliau bersedia dikawini, karena menginginkan anaknya agar bisa menjadi ulama.

II. PENDIDIKAN
Syekh Aidarus menempuh pendidikan dasarnya di Batu bersurat dan melanjutkan pendidikan menengah dibidang Ilmu Pengetahuan Agama bersama Ayahnya, juga bela jar dengan kakak beliau yaitu Haji Muhammad Zen Ghany lulusan Madinah dan India yang mendirikan Madrasah Darussa'adah setingkat Tsanawiyah di Pulau Belimbing Kuok. Kemudian meneruskan pendidikannya di Tiakar bersama Syekh Ibrahim Tiakar Payakumbuh pada Madrasah setingkat Madrasah Aliyah.
Pada awal kemerdekaan RI sekitar bulan Oktober 1945 beliau berangkat ke Labuhan Haji Aceh Selatan untuk berguru kepada Syekh Muda Wali yang murid Syekh Abdul Ghany di bidang Thariqat. Selama di Aceh beliau tekun berlajar bersama gurunya dan dikenal sebagai murid yang rajin dan oleh kawan-kawannya Syekh Aidarus dikenal pintar dan memiliki daya tangkap yang kuat dan memiliki pemahaman yang mendalam. Syekh Aidarus disayangi oleh Syekh Muda Wali karena anak gurunya, dan dipercaya sebagai bendaharawan dan mengurus rumah tangga Syekh Muda Wali.
Syekh Aidarus sering mendampingi gurunya dalam setiap pengajian dan eeramah. Dan karena kepintarannya sering menggantikan gurunya mengajar dan mengisi wirid pengajian apabila Syekh Muda Wali berhalangan.
Syekh Aidarus mendapatkan 2 (dua) Ijazah dari gurunya Syekh Muda Wali yang terdiri dari :
1. Ijazah Bustanul Muhaqqin (Pesantren Tertinggi Darussalam) dalam bidang pendidikan dan
2. Ijazah Mursyid Tharigat Naksyabandiyah.
Setelah berlajar, mengajar dan mengabdi di Pesantren tersebut selama 11 (sebelas) tahun.


III. BERKELUARGA
Pada tahun 1955 Aidarus dipanggil pulang oleh Ayahnda beliau ke Batubersurat. Sesampai Batubersurat beliau dijodohkan dengan Rusyda putri Syekh Maksum Panampung Bukittinggi. Aidarus menyetujuinya untuk mengawini Rusyda Binti Maksum pada tahun 1955, beberapa bulan setelah kawin Aidarus kembali ke Aceh.

IV. KEMBALI DARI ACEH
Pada tahun 1956 Aidarus memohon izin kepada gurunya untuk kembali ke Batu bersurat untuk mengabdikan dirinya kepada agama dan masyarakat dan berhubungan atas kelahiran putra pertama beliau di Bukittinggi. pada tanggal 17 Maret 1956 yang diberi nama Alaiddin (mengambil berkah kepada nama salah seorang masyaikh Thariqat Naqsyabandiyah yaitu Alaiddin Al-Atthory.


V. MENDIRIKAN SEKOLAH AGAMA
Syekh Aidarus menyampaikan niatnya kepada ayahandanya Syekh Abdul Ghany bahwa akan mendirikan lembaga pendidikan. Hal tersebut mendapat dukungan dari ayahnd beliau dan mayarakat Koto Tengah Batubersurat. Maka pada tanggal 9 Juli 1956 dimulailah pembangunan sekolah Agama diatas lahan wakaf masyarakat seluas 2000 M2 dengan mendirikan sebuah rumah sekolah terdiri dari 4 (empat) lokal belajar ukuran 28 m x 7 m yang sangat sederhana sekali, terdiri dari bahan tiang kayu bulat, dinding dari anyaman bambu dan atap dari daun sikai pondok yang ditinggalkan petani setelah selesai berladang. Dalam beberapa bulan sekolah tersebut selesai dibangun dan kemudian bangunan tersebut diserahkn oleh ninik mamak dan tokoh masyarakat kepada Tengku mudo Aidarus sebagai tempat belajar para santri. Waktu itu diberi nama dengan STI (Sekolah Tarbiyah Islamiyah).
Pendirian lembaga pendidikan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman agama kepada masyarakat yang disebut denganTafagquh Fiddin dan mencerdaskan bangsa. Dengan 3 (tiga) prinsip dasar yaitu :
? Baraqidah ahlussunnahwal jamaah,
? Bermazhab kepada Iman Syafi'I RA, dan
? Berthariqat Nagsyabandiyah.
Santri mulai berdatangan dari berbagai daerah terutama dari anak-anak jama'ah Thariqat dari 3 (tiga) aliran sungai Kampar, Tapung, Rokan dan Kabupaten lain di Riau bahkan juga datang dari Sumbar dan Aceh. Sebagai tempat mengaji dan kegiatan Ibadah santri dilaksanakan di Surau Suluk Syekh Abdul Ghany yang berdekatan dengan rumah sekolah,sedangkan tempat tinggal mereka dibuatkan rangkang (asrama) disekitar Surau dan sebagian lagi mereka bertempat tinggal di rumah-rumah masyarakat.
Disamping melaksanakan pendidikan agama dan mengisi wind pengajian dan ceramah agama Syekh Aidarus aktif membantu ayahanda beliau dalam kegiatan Jama'ah Thariqat Naqsyabandiyah. Syekh Abdul Ghany berwasiyat bahwa kepemimpinan Thariqat setelah beliau wafat diserahkan kepada Syekh Aidarus (putranya) untuk meneruskannya.
Sejarah Syekh Aidarus dipandang dari dua sisi, pertama berliau sebagai guru dalam pendidikan agama dan kedua sebagai mursyid didalam amalan Thariqat Naqsyabandiyah. Seperti yang dilaksanakan dan diamanahkan oleh guru beliau Syekh Muda Wali bahwa disamping adanya lembaga pendidikan agama beliau mendirikan Surau Suluk sebagai tempat pengamalan Syariat dan Tharigat. Karena berpedoman kapada kata Iman Ghazaly. Bersyariat tanpa bertasauf tanpa bersyariat ditakuti amalan akan kosong dari pahala sedangkan bertasauf tanpa bersyariat ditakuti akan menyimpang dan sesat. Maka 2 (dua) hal ini harus sejalan antara pendidikan syariat dan pendidikan tasauf.

VI. PEMBANGUNAN SEKOLAH / MADRASAH BARU
Oleh karena sekolah di Koto Tengah sering dilanda banjir sehingga mengganggu kegiatan belajar, maka ayahanda beliau menyarankan agar Syekh Aidarus membangun Madrasah di tempat yang aman dari banjir. Maka pada tanggal 15 Januari 1958 dimulainya pembangunan madrasah baru dan diresmikan nama baru dengan MTI (Madrasah Tarbiyah Islamiyah) terletak di RK lI Batubersurat diatas lahan yang diwakafkan oleh salah seorang ninik mamak batubersurat yaitu Begok dan Karim Datuk Pakomo seluas 0.9 Ha. Dengan membangun ruang belajar semi permanen dengan ukuran 40m x 8m. Pada tahun 1960 kegiatan mulai belajar dilaksanakan ditempat bare sementara Syekh Aidarus masih berniukim di Koto Tengah Batubersurat. Pada hari Senen tanggal 9 Januari tahun 1961 (21 Rajab 1380 H) Ayahanda beliau Syekh Abdul Ghany meninggal dunia, sehingga kepemimpinan Jama'ah Thariqatberpindah kepada beliau.

Pada tahun 1961 beliau difitnah membuat kerusuhan dengan adanya selebaran yang dibawa oleh murid Madrasah yang berisi mimpi Syekh Ahmad penjaga kubur Nabi Muhammad SAW yang mengatakan kiamat tak lama lagi akan terjadi. Atas dasar tuduhan tersebut beliau ditahan di rumah tahanan Bangkinang selama beberapa bulan tanpa diproses hokum. Kemudian dipindahkan kerumah tahanan Pakanbaru. Dan beberapa bulan kemudian beliau dikeluarkan dan dikenakan tahanan rumah wajib melapor. Dan selama beliau dirumah tahanan guru dan murid madrasah tetap belajar seperti biasa. Sehingga sampai berita ke guru dan murid madrasah agar pulang saja atau pindah sekolah karena guru kalian tidak akan kembali lagi. Masih ada guru dan murid yang bertahan dan ada yang berhenti dan pindah. Pada tahun 1963 kegiatan belajar dapat kembali seperti semula.

VII. MEMBANGUN SURAU SULUK I
Dan pada tahun 1966 Syekh Aidarus dan keluarga pindah dari Koto Tengah ke lokasi MTI di RK II Batubersurat. Dan pada tahun 1966 tersebut dibangun surau Suluk tempat kegiatan Tharigat Naqsyabandiyah dengan ukuran 10m x 15m.

VIII. MELAKSANAKAN IBADAH HAM PERTAMA
Pada tahun 1970 Syekh Aidarus melaksanakan Rukun Islam ke 5 (lima) naik haji ke tanah suci bersama H. Abdul Karim Air Tiris (ayah BHR Air Tiris) hanya 2 (dua) orang jama'ah Kampar pada waktu itu dengan memakai kapal laut. Yang keberangkatannya diantar langsung ke Pelabuhan Laut Dumai oleh Bupati Kampar saat itu Bapak Letkol. Sumbrantas. Beliau berada dalam perjalanan, ke tanah suci dan kembali ke tanah air selama 3 (tiga) bulan.

IX. MEMBANGUN SURAU SULUK II
Pada tahun 1970 sekembali dari tanah suci dimulainya pembangunan Surau Suluk dengan ukuran 9m x 15m bertingkat dua.

X. ZIARAH KE ACEH
Pada tahun 1974 Syekh Aidarus berziarah ke makam guru beliau Syekh Muda Wali di Pesantren Darussalam Labuhan Haji Aceh Selatan bersama putra beliau Alaiddin Athory dan murid beliau Amiruddin Tgk. Saleh. Dalam kunjungan ziarah tersebut beliau sempat singgah berkunjung ke berbagai daerah/Pesantren di Aceh yang di dirikan dan di Pimpin oleh teman beliau semasa belajar di Labuhan Aceh Selatan, seperti Tgk Abu Bakar Maulaboh, Tgk Ibrahim Tenom, Tgk Hasbi Lamno, Tgk Hasan Kreng Kale, Tgk Abdul Aziz Samalanga, Tgk Abdullah Tanah Merah, Tgk Muhammad Amin Pantan Labu, Tgk Kemala Medan Sumatera Utara. Dan bersilaturrahmi dengan KH. Abdullah Mustafa pimpinan PP. Ustafawiyah Purba Baru. Dan berziarah ke Syekh Muhammad Sa'id Bonjol di Bonjol Pasaman.

XI. NAIK HAJI KEDUA
Pada tahun 1984 Syekh Aidarus kembali melaksanakan ibadah haji kedua kalinya bersama istri beliau Umi Hj. Rusyda dan mertua beliau Hj. Aisyah (Daenan). Di sana beliau disambut oleh anaknya H. Alaiddin yang pada waktu itu sedang menuntut ilmu di Universitas Al-Azhar Cairo Mesir.

XII. MENGURUS PERSAMAAN IJAZAH
Pada tahun 1986 putra beliau H. Alaiddin Athory pulang ke tanah air mengurus persamaan ijazah Pondok Pesantren (PONPES) Darussalam untuk ke Al-Azhar Cairo Mesir. Untuk tujuan tersebut beliau berangkat ke Jakarta bersama anaknya untuk menemui Duta Besar Mesir untuk Indonesia guna mendapatkan rekomendasi permohonan persamaan ijazah. Dan pada tahun 1987 Ijazah Madrasah Aliyah PP. Darussalam Batubersurat dapat dipersamakan dengan ijazah Madrasah Aliyah Al-Azhar sehingga Alumni PP. Darussalam dapat meneruskan pendidikannya di Universitas Al-Azhar Cairo Mesir. Dan pada tahun 1987 sampai 1993 mendapat beasiswa untuk 2 (dua) orang calon mahasiswa dari Direktorat Perguruan Tinggi Kementrian Wakaf Mesir.

XIII. KEGIATAN SYEKH AIDARUS DAN KEUTAMAANNYA
Kegiatan Syekh Aidarus sehari-hari :
1. BERIBADAT : beliau dikenal sebagai orang yang Alim, Abid dan Mukhlis. Beliau selalu tekun beribadat dan berwirid zikir sehingga terlihat
tingginya wibawa beliau dimata muridnya dan masyarakat. Beliau banyak memiliki keutamaan dan kelebihan yang disebut dengan keramat buah dari keikhlasannya. Sebagai moto Thariqat yang beliau pegang "ILAIH ANTA MAKSUDI WA RIDIIAKA MATHL UBI ".

2. MENGAJAR.
Menurut pengakuan dari murid beliau apabila mengajar mudah dipahami oleh muridnya dan lama ingatnya. Beliau tidak mengenal capek dan lelah kalau mengajar sampai jam 12 malampun beliau mengajar muridnya. Beliau mendorong muridnya agar bias mengajar adik-adiknya yang dibawah tingkatannya disebut muzakarah agar mereka terbiasa mengajar dan nanti bias pula mendirikan Madrasah atau pondok dimana mereka berada. Saat ini terdapat 17(tujuh belas) Pondok dan Madrasah yang di dirikan dan di Pimpin oleh alumni Darussalam murid-murid Abuya Syekh Aidarus Ghani yang tersebar di Riau dan Sumatera Barat.
Disamping memimpin madrasah, mengajar di madrasah dan mengadakan pengajian di surau sebagaimana kegiatan di pondok-pondok pesantren. Beliau juga melaksanakan pengajian khusus ibu-ibu dan wanita yang disebut dengan nama Pengajian Majelis Taklim (SASWAN) yaitu Safinatus Salama wan Najah. Kegiatan pengajian ini juga, dilaksanakan oleh murid-murid beliau yang terdapat di Kampar, Tapung dan Rokan.
3. BERDAKWAH. Beliau sering melaksanakan dakwah keberbagai daerah dan juga wind rutin tahun ke Kampar Lulu, Tapung dll. Apabila berdakwah beliau menyampaikan dengan bahasa yang baik, mudah untuk dipahami dan santun menjadikan murid-muridnya dan masyarakat simpatik dan menerima nasehat dan taushiyahnya senang hati tanpa merasa digurui dan tersinggung.

4. MEMIMPIN JAMA'AH THARIQAT NAQSYABANDIYAH.
Beliau mengadakan wind mingguan diisi dengan pengajian dan tawajuh (zikir bersama). Dan juga mengadakan kegiatan bai'ah jama'ah thariqat yang Baru pada setiap malam Jum' at. Pada setiap bulan Ramadhan dan bulan Zulhijjah beliau memimpin kegiatan Thariqat Nagsyabandiyah berupa suluk di Surau Suluk Darussalam dan mengirim wakilnya untuk memimpin suluk diberbagai daerah yang ada jama'ahnya. Beliau telah membai'ah beberapa orang mursyid (pimpinan Thariqat Naqsyabandiyah) dan menunjuk khalifah (pembantu Mursyid) diberbagai daerah di Riau dan Sumatera Barat.
Saat ini terdapat sekitar 50 (lima puluh) Surau Suluk yang dipimpin oleh murid beliau yang terdapat di Kan par, Tapung Rokan, dan Kaunsing Siak, Propinsi Riau secara umum dan bahkan terdapat di Kabupaten 50 Koto, Pasaman, Agam, dan Pariaman Sumatera Barat.
Beliau mendorong dan mengajak muridnya untuk melaksanakan kegiatan ziarah ke makam para Ulama Sholihin. Seperti ziarah ke makam Abuya Syekh Abdul Ghany pada setiap tanggal 21 Rajab setiap tahunnya, ke makam Syekh Burhanuddin Kuntu pada setiap tanggal 9 Syawal dan berziarah ke makam para uama Sumatera Barat.

XIV. MURID DAN ALUMNI
Murid-murid beliau di bidang ilmu Syari'ah dan ilmu Tasauf (Thariqat) telah tersebar diberbagai bidang antara lain, Bidang Pendidikan dengan mendirikan Ponpes dan Madrasah dan sebagai dosen di Perguruan Tinggi Negeri/Swasta. Lembaga Sosial Keagamaan, di Pemerintahan , Politik dan Wiraswasta.

XV. BELIAU WAFAT
Pada hari Sabtu tanggal 19 Agustus 1989 M, bertepatan tanggal 18 Muharram 1411 H beliau berpulang ke Rahmatullah di Batubersurat dalam usia63 Tahun 5 Hari. Dan di makamkan di Komplek PP. Darussalam Batubersurat. Pada tanggal 16 Maret 1995 berhubungan dengan adanya genangan air proyek PLTA Koto Panjang maka lokasi Ponpes Darussalam di pindahkan ke lokasi PP. Darussalam Baru di Saran Kabun kecamatan Kabun Kabupaten Rokan Hulu. Berdasarkan amanat Abuya Syekh Aidarus Abdul Ghany, Makam Abuya Syekh Aidarus Abdul Ghany di pindahkan ke lokasi PP. Darussalam Baru di Saran Kabun kecamatan Kabun Kabupaten Rokan Hulu pada tanggal 5 Juni 1955.

XVI. PENUTUP
Demikian ringkasan sejarah hidup Syekh Aidarus Abdul Ghany sebagai kenangan bagi muridnya dan kaum muslimin. Dan kita berdoa semoga arwah beliau Berta. Amal Shaleh serta pengabdian beliau diterima oleh Allah SWT. Dan mengapuni segala dosanya dan di masukkan ke dalam golongan hambaNya yang diredhoi. Amin.


Saran Kabun, 1 Desember 2012 M / 17 Muharram 1434 H


Penulis,

H. ALAIDDIN ATHORY AIDARUS, Lc


Beliau meninggalkan :

1 (satu) orang Isteri Hj. Rusyda Maksum dan 8 (delapan) orang Putra/Putri :

1. H. Ala iddin Athory Aidarus, Lc (Pimpinan/Mursyid Darussalam)
2. Hj. Nel Amani Aidarus (Ibu Rumah Tangga)
3. Dra. Hj. Hemyati Aidarus (Bendahara/Guru Darussalam)
4. Dra. Hj. Nur Aini Aidarus (Guru di Pekanbaru)
5. Ahmad Damyati, SH (Kepala MA/Guru Darussalam)
6. H. Fakhrul Razy Aidarus, Lc. M.Ag (Wakil Pimpinan/ Guru Darussalam)
7. Asparaini Aidarus, S.Ag (Ka TU/ Guru Darussalam)
8. Hj. Rista Aidarus, Lc. MA (Dosen STAI Tembusai Pasirpangaraian)

30 (tiga puluh) orang cucu, dan 3 (tiga) cicit.

*edit by adi dan novam

Berita Lainnya
Selasa, 31 Januari 2017, 13:59

KESUNGGUHAN

Jumat, 27 Januari 2017, 10:11

Pemuda Mesin Pengerak Bangsa

Jumat, 30 September 2016, 11:55

Mengapa Harus Berkata Kotor

Jumat, 30 September 2016, 11:47

Pensiun SMART

Kamis, 29 September 2016, 08:39

Virus Rumah Tangga