KESUNGGUHAN

Ditulis Oleh adminriau Kamis, 04 Mei 2017, 06:25

Oleh : Drs H Ahmad Supardi Hasibuan MA
(Kepala Kanwil Kemenag Prov Riau)

Suatu ketika dalam sebuah pertemuan bersama anak anak sekolah dan madrasah, saya ditanya tentang lebih penting mana antara kesungguhan dan kepintaran. Mana diantara keduanya yang paling menentukan untuk menjadi penopang kesuksesan bagi seseorang di masa depan.

Pertanyaan ini bagi saya sangat penting dan sangat dahsyat dampaknya bagi cara berfikir seseorang. Jika seorang siswa atau santri salah dalam menempatkan kedua hal ini, maka dapat dipastikan akan berdampak buruk dalam cara bertindak dan mengambil langkah langkah strategis untuk masa depannya. Sebaliknya, jika tepat dalam menempatkan keduanya, maka akan berdampak sangat dahsyat pula dalam kehidupannya.

Bagi saya, semua umat manusia telah dibekali dan dikaruniai oleh Allah Swt Tuhan Sang Maha Pencipta, akan otak yang terdiri dari jutaan sel sel yang teratur, yang memiliki kekuatan yang sangat tinggi, serta mampu menyimpan memori yang tidak terhingga, melebihi dari memorinya komputer tercanggih pada masa kini.

Yang membedakan antara setiap orang pemilik otak tersebut, adalah terletak pada pemanfaatan dari otak yang super canggih tersebut. Semakin banyak orang menggunakan otaknya, maka akan semakin cerdas dan cemerlang yang bersangkutan. Sebaliknya, semakin sedikit seseorang menggunakan otaknya, maka semakin bodoh dan semakin lamban yang bersangkutan.

Atas dasar hal tersebut di atas, makin dapat dipastikan bahwa pintar dan bodohnya seseorang, sangat tergantung pada sebesar apa dia menggunakan otaknya.

Besar kecilnya penggunaan otak inilah yang disebut dengan kesungguhan. Semakin sungguh seseorang, makan akan semakin pintar dan cemerlang dia. Sebaliknya, semakin malas yang bersangkutan, maka akan semakin bodoh pulalah yang bersangkutan.

Dalam perspektif ajaran agama Islam, kesungguhan mendapat perhatian serius dari Nabi Muhammad SAW, sehingga beliau bersabda : Barang siapa yang bersungguh sungguh untuk mendapatkan sesuatu, maka dipastikan dia akan mendapatkannya.

Dalam hadis ini, Nabi Muhammad Saw tidak menyatakan bahwa untuk mendapatkan sesuatu diperlukan otak yang pintar, tetapi Nabi justru menyatakan diperlukan kesungguhan.

Oleh karena itu, jangan terkecoh dengan otak yang pintar pada orang lain, sebab kepintaran otak tersebut sangat tergantung pada kesungguhan. Sejarah mencatat, ternyata keberhasilan seorang Thomas Alfa Edison dalam menemukan aliran listrik, adalah terletak pada kesungguhannya dalam melakukan percobaan demi percobaan, sehingga menghasilkan karya besar yang sangat bermanfaat bagi manusia dan kemanusiaan.

Hal yang sama dapat dilihat pada tetesan air yang lembut ke atas batu besar yang sangat keras. Tetesan airnya hanya satu persatu, tetapi karena berlangsung lama, maka tetesan air tersebut berbekas dan bahkan menjadi lobang besar pada batu tersebut.

Oleh karena itu sesungguhnya, kata kunci keberhasilan bagi seseorang adalah terletak pada kesungguhannya dalam menggunakan otak dan pikirannya untuk mendapatkan sesuatu, sehingga ia mendapatkannya. Hal ini jugalah mungkin yang dimaksudkan pada hadits Qudsi bahwa Tuhan berada pada persangkaan hambanya. Artinya, jika seorang hamba berkeyakinan dan bersungguh sungguh untuk mendapatkan sesuatu ciptaan Tuhan, maka Tuhan akan dengan senang hati membantu hambanya untuk mendapatkannya atau justru langsung memberikannya. *Ash*

*Dimuat pada harian umum Pekanbaru Pos, Jumat (27/1/2017).