Selasa, 27 September 2016, 11:11

Haji dan Qurban: Aktualisasi Nilai Ketaatan Idividual dan Sosial

Sulit untuk memisahkan antara Hari Raya Idul Adha, Ibadah Haji, dan Qurban. Meskipun seorang yang merayakan Idul Adhatidak harus berangkat haji ke baitullah atau melaksanakan qurban. Namun hubungan antaranya sangat erat sebagai aktualitasi nilai ketaan individual dan social.

Hari raya Idul Adha yang diperingati setiap tanggal 10 Dzulhijjah merupkan hari raya besar bagi umat Islam. Pada hari ini seluruh umat Islam di dunia mengumandangkan takbir, tahmid dan tasbih.

Hari raya idul Adha disebut akbar karena terkait dengan dua ibadah penting dalam islam, yaitu ibadah haji dan qurban. Kedua ibadah ini berkaitan erat dengan perjuangan dan perjalanan hidup Nabi Ibrahim AS sebagai Bapak tauhid beserta istrinya Siti Hajar dan anaknya Ismail AS. Apabila kita memperhatikan makna filososfis dari kedua ibadah ini, akan tampak bahwa keduanya sangat sarat dengan nilai-nilai Rabbani (ketuhanan) dan insani.

Ibadah haji adalah ibadah yang wajib dilakukan setiap umat Islam yang memiliki kemampuan. Ibadah haji mulanya telah diserukan Nabi Ibrahim AS semenjak sekitar 3600 tahun yang lalu. Sebagimana firman Allah:

Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh. (Q.S. al-Hajj (22): 27)

Imam Ibn Katsir Meriwayatkan dari ibn Abbas, Mujahid, Ikramah dan Saad bin Jubair yang mengatakan bahwa ketika Nabi Ibrahim menerima perintah ini, Ibrahim berkata: Ya Rabb-ku, bagaimana aku menyampaikan seruan ini kepada manusia, sedngkan suaraku tidak dapat mengjangkau mereka? Maka Allah menjawabnya: Berserulah dan Akulah yang akan menyampaikan. Maka Nabi Ibrahim berdiri di Maqam-nya dan berseru: Hai manusia, sesungguhnya Rabb kalian telah menjadikan sebuah rumah, maka berhajilah kalian. Maka saat itu, gunung pun tunduk, hingga suaranya sampai ke pelosok bumi dan Allah memperdengarkan sampai ke anak yang masih didalam Rahim ibunya dan di tulang sulbi ayahnya.

Semua yang mendengarnya berupa batu, pasir dan pohon-pohon serta siapa saja yang telah dicatat oleh Allah untuk pergi haji hingga hari kiamat (telah menjawabnya), Labbaik Allahumma Labbaik. Oleh sebab itu, tidak dibenarkan seorang mukmin yang telah memiliki kemampuan dan dia tidak menunaikan ibadah haji dengan alasan belum mendapatkan panggilan.

Pelaksanaan ritual haji, selain sebagai wujud ketaatan individual seorang hamba kepada Allah, tetapi juga mengandung nilai-nilai sosial yang harus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Nilai-nilai ketaatan individual dan social tersebut diantaranya;

Pertama, ibadah haji merupakan sarana untuk memperkokoh ukhwah Islamiyah dan silahturahmiantara sesama umat islam di seluruh dunia. Salah satu kunci yang memperkuat ukhwah Islamiyah dan silaturahim adalah karena adanya persamaan, yaitu semua kita sama diciptakan dan berada di bawah kekuasaan Allah dan kita sama-sama melakukan pengabdian kepadan-Nya.

Wujud persamaan ini tampak dari pakaian haji yang serba putih yang tidak berjahid. Ini adalah lambang kesucian hati orang yang melakukan ibadah haji bahwa mereka semata-mata melakukannya karena Allah. Pakaian ihram yang serba putih sekaligus menunjukkan bahwa semua manusia sama dihadapan Allah. Kalaupun Allah membedakan hambanya, itupun didasarkan pada kwalitas hati, amal dan ketakwaan setiap manusia.

Nabi SAW. Bersabda: Sesunggunya Allah tidak melihat bentuk rupamu dan hartamu. Tetapi dia melihat hati dan amalanmu (H.R. Muslim)

Kedua, Padang Arafah yang luas lagi gersang sebagai tempat wukuf (berhenti) jamaah haji sampai terbenam matahari pada tanggal 9 Zulhijjah, seharusnya menjadi tempat menemukan marifah (pengetahuan) sejati tentang jati diri, akhir perjalanan hidup, serta disini pula seharusnya setiap jamaah haji menyadari langkah-langkahnya selama ini. Disini pula seseorang harus menyadari kebesaran ini yang mengantarkan seseorang untuk menjadi arif (sadar) dan mengetahui.

Ketiga, pada malam 10 zulhijjah, seluruh jamaah mabit (melewati waktu tengah malam) di muzdalifah. Setelah itu berangkat ke Mina untuk melontarkan jumrah. Semua ini mengingatkan kita dengan peristiwa Nabi Ibrahim beserta Siti Hajar dan putranya Ismail AS yang digoda oleh syaitan agar mereka mengurungkan niatnya untuk menjalankan perintah Allah, yaitu menyembelih Ismail AS. Di tempat jumrah ula, wustha dan aqabah itulah Nabi Ibrahim AS melempari Syaitan. Hal ini mengajarkan kita semua bahwa ada syaitan yang harus diperangi. Karena dia adalah makhluk yang senantiasa berupaya menyesatkan manusia.

Setan akan mendatangi manusia dari empat penjuru, yaitu depan, belakang, kanan, dan kiri. Arah depan merupakan isyarat bahwa setan akan menyesatkan manusia dengan harapan dan angan-angannya yang menyenangkan serta apa yang ditakuti menimpanya di masa depan, seperti kemeskinan kalau dia menafkahkan hartanya. Adapun arah belakang, maksudnya adalah anak-anak dan keturunan. Kekhawatiran akan nasib anak dan keturunan pada masa akan datang,menjadikannya termakan oleh hasutan setan untuk mengumpulkan harta tanpa memperdulikan halal dan haram. Adapun arah kanan adalah sebagai symbol kebaikan yaitu agama. Setan akan menggoda manusia untuk memperbanyak dengan melampaui batas-batas yang telah ditetapkan Allah. Sedangkan arah kiri adalah lawan dari kanan. Setan datang dari arah ini dengan memperindah bagi manusia kekejian dan kemunkaran dan mengajak mereka untuk melakukan kemunkaran dan dosa tersebut.

Keempat, setelah melontarkan jumrah, jamaah haji pun melanjutkan ibadahnya dengan tawaf, yaitu mengelilingi kabah sebanyak tujuh kali putaran dengan tetap memposisikan kabah di sebelah kiri orang yang bertawaf. Begitulah sunnatullah yang telah menetapkan pergerakan alam semesta di dunia ini. Bulan berputar mengelilingi bumi, dan bumi berputar mengelilingi matahari.

Keteraturan dalam aturan Allah inilah yang menjad nilai penting dari ibadah tawaf tersebut. Sehingga, semua manusia yang ingin selamat dalam kehidupan dunia menuju kehidupan akhirat, mereka harus tertib dan teratur dalam mengikuti hukum-hukum Allah SWT.

Kelima, untuk mencapai kebahagian hidup didunia dan akhirat memerlukan perjuangan. Kita belajar dari usaha keras Siti Hajar mendapatkan air minum untuk anaknya tercinta Ismail dengan berlari-lari antara bukit shafadan marwah. Shafa, secara Bahasa berarti kesucian dan ketegaran. Ini melambangkan bahwa di dalam kehidupan, seseorang harus berusaha dengan kesucian hati dan ketegaran. Kalau ini telah dilakukan, maka kita akan memperoleh marwah yang berarti kepuasan, penghargaan dan murah hati. Dengan demikian, apabila kita telah berusaha dalam hidup ini dengan semaksimal mungkin, insyaallah hasil usaha akan diperoleh, baik melalui usahanya maupun melalui anugerah Allah seperti yang dialami Siti Hajar bersama putranya Ismail dengan mendapatkan air zam-zam.

Keenam, ibadah haji ditutup dengan tahallul. Hal ini sebagai symbol bahwa bagi mereka yang telah menjalankan ibadah haji dengan baik dan mengaktualisasikan nilai-nilai ibadah haji tersebut dalam kehidupan, maka mereka mendapatkan haji mabrur yang kemudian menjadikan mereka sebagai orang yang berhak mendapatkan surge. Karena Rasul SAW mengatakan bahwa Haji mabrur tidak ada balasannya kecuali surga. (HR. Bukhari dan Muslim)

Selain ibadah haji, umat islam pada hari ini dan selama hari tasyriq (11, 12, dan 13 Zulhijjah), mensyiarkan Idul Adha dengan menyembelih hewan qurban dan membagikannya kepada kenalan dan orang-orang yang membutuhkan. Allah SWT. Mensyariatkan ibadah qurban kepada mereka yang memiliki kemampuan. Hal ini dipahami dari firman Allah SWT :

Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nimat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu Dialah yang terputus (Q.S al-Kautsar (180): 1-3)

Begitulah pentingnya ibadah qurban tersebut, Imam SyafiI mengatakan bahwa sesulit-sulit hidup, upayakanlah minimal satu orang mewakili satu keluarga untuk ikut berqurban. Bahkan, imam Ahmad bin Hanbal membolehkan berutang untuk ikut berqurban, sepanjang diyakini dapat melunasi utang tersebut nantinya.

Ibadah qurban yang kita lakukan mempunyai banyak nilai penting dari ketaatan individual dan social yang patut diaktualisasikan dalam kehidupan, diantaranya: pertama, qurban yang secara Bahasa berarti pendekatan, berarti orang yang berqurban adalah orang yang berusaha untuk mendekatkan diri sedekat-dekatnya kepada Allah. Kenapa kita perlu mendekatkan diri kepada-Nya? Jawabanya, sederhana sekali, karena kita berasal dari Allah dan akan kembali kepada Allah. Namun, dalam perjalanan waktu, tidak jarang diantara kita melakukan dosa, dan ini berdampak pada menjauhnya kita dari Allah. Bila Allah telah jauh dari kita, tentu curahan kasih sayang-Nya pun jauh dan berkurang kepada kita. Oleh sebab itu perlu adanya upaya untuk kembali dekat kepada-Nya. Upaya ini harus dilakukan dalam bentuk perbuatan baik, sebab Nabi pernah mengatakan bahwa ikutilah perbuatan tercela yang kamu buat dengan perbuatan baik, sebab perbuatan baik itulah yang akan menghapus perbuatan tercela (H.R. at-Turmudzi). Qurban adalah salah satu perbuatan baik yang dapat menghapus perbuatan tercela manusia yang telah menjauhkan dirinya dari Allah, sehingga dia kembali dekat denga Allah SWT. Bila kita dekat dengan Allah, apapun yang kita harap kepada-Nya akan dikabulkan.

Kedua, Penyembelihan hewan hewan qurban bertujuan membantu saudara-saudara kita sesame muslim, terutama yang kurang mampu melalui pendistribusian daging qurban kepada mereka. Ini merupakan wujud kebersamaan muslim dengan muslim lainnya. Apalah hidup seseorang yang hanya hidup untuk makan sendirian, tanpa menoleh ke kanan dan ke kiri. Dalam islam, manusia tidak boleh hidup terisolir dalam lingkungannya sendiri. Mereka harus mengetahui siapa orang lain yang miskin dan membutuhkan bantuannya.

Mana mungkin dapat saudara dan saling mencintai, jika seseorang mempunyai segala-galanya, sementara ada orang yang tidak mempunyai apa-apa. Tidak ada arti persaudraan antara orang yang meletakkan tangannya di perut karna nyeri kelaparan. Persaudaran yang hakiki ialah jika manusia saling menyayangi, saling menyantuni, saling memberi, yang kaya memberi yang miskin dan yang kuat membantu yang lemah. Kekuatan yang kita miliki berasal dari Allah dan kelemahan si lemah adalah atas hikmah kebijaksanaan-Nya juga.

Jika ada diantara kita yang tidak peduli dengan penderitaan saudara seimannya, berarti keimanannya patut di pertanyakan. Sebab Nabi SAW bersabda: Tidaklah beriman seseorang diantara kamu sebelum dia bisa mencintai saudaranya layaknya dia mencintai diri sendiri.

Mereka yang beriman, bagaikan organ-organ yang terdapat dalam satu tubuh. Bila salah satu orang tubuh itu sakit, maka organ tubuh yang lainnya akan ikut kesakitan.

Oleh sebab itu, sudah seharusnya dalam situasi ekonomi yang serba sulit saat ini, mereka memiliki kemampuan dituntut untuk peduli kepada mereka yang miskin. Jika si kaya telah peduli kepada si miskin, ini merupakan jalina silahturahim yang sangat baik. Sillahturahim inilah yang dikatakan rasul dapat berfungsi membuka pintu rezki dan memperpanjang umur (H.R. Bukhari dan Muslim).

Melalui ibadah qurban mari kita berantas kemiskinan di negeri ini Dalam memberatas kemiskinan, setidaknya ada empat komponen yang harus bersinegri, yaitu: 1). Seluruh umat islam harus memiliki etos kerja yang baik. Untuk mewujudkan etos kerja yang baik, Islam mengajarkan prinsip-prinsip kerja, yaitu: kerja adalah suatu keniscayaan, kerja haruslah dengan kerjasama,danoptimism dalam bekerja; 2). Kebijakan pemerintah harus berpihak kepada rakyat kecil; 3). Kewajiban nafkah rumpun keluarga; dan 4). Kewajiban social melalui zakat dan wakaf.

Ketiga, sejarah ibadah qurban tidak bisa dilepaskan dari Nabi Ibrahim, Siti Hajar dan Ismail. Kedua manusia tersebut adalah orang-orang yang lulus dari ujian Allah. Nabi Ibrahim dan Istrinya Siti Hajar diuji kerelaannya untuk mau mengorbankan putra tercintanya,sedangkan Ismail diuji keimanannya dan kesabarannya untuk mau menjadi yang dikorbankannya. Hal ini memberikan pengajaran kepada kita bahwa suatu saat Allah akan menguji kesabaran kita, yang boleh jadi memang bentuk ujiannya berbeda, tetapi kita harus lulus melalui ujian tersebut. Karena keimanan itu baru terbukti kalau sudah teruji.

Keempat, ibadah qurban yang dilakukan menumpahkan darah hewan qurban, merupakan symbol agar kita menanggalkan dan melepaskan sifat-sifat kebinatangan yang melekat pada diri kita. Daintaranya sifat tersebut adalah sifat serigala yang melambangkan kekejaman dan penindasan, sifat tikus yang melambangkan kelicikan, sifat anjing yang melambangkan tipu daya dan sifat domba yang melambangkan penghambatan sesama makhluk, padahal islam hanya membenarkan penghabatan kepada Allah. Semua sifat-sifat buruk dijauhkan dari kehidupan umat Islam, kapan dan dimanapun.

Dari sejarah ibadah haji dan qurban yang tidak dilepaskan dari Keluarga Ibrahim AS, dapat disimpulkan bahwa keluarga Ibrahim AS merupakan potret rumah tangga Sakinah, mawaddah, dan rahmah yang patut disuritauladani. Keluarga seperti ini merupakan keluarga yang kita idam-idamkan saat ini. Apa gerangan rahasia keluarga tersebut? (1) Semua anggota keluarga Ibrahim adalah orang-orang yang taat dan patuh kepada Allah.

Sebagai seorang bapak, Ibrahim adalah seorang bapak yang taat dan saying kepada keluarganya. Sebagai anak, Ismail adalah anak kepada Allah dan orang tua; dan sebagai istri, Siti Hajar adalah istri yang taat kepada Allah dan suami. Oleh sebab itu, kalau kita ingin mendapatkan keluarga sakina, langkah utamanya adalah membentuk semua anggota keluarga menjadi hamba-hamba Allah yang taat. (2) Dalam keluarga Ibrahim terdapat keterbukaan, komunikasi, musyawarah, dan saling menghargai antara sesama mereka. Ketika akan menempatkan keluarganya di Makkah yang saat ini merupakan gurun pasir tandus yang tiada berpenghuni, terjadi dialog antara Ibrahim dan istrinya. Siti Hajar bertanya, apakah ini adalah perintah Allah, Ibrahim dengan tenang menjawab: benar ini adalah perintah Allah. Jawaban ini menenangkan hati Siti Hajar karena ia yakin Allah akan memelihara dan melindungi dirinya beserta anaknya Ismail. Begitu pula ketika perintah untuk mengorbankan Ismail dating, Ibrahim mengajak Ismail mendiskusikannya secara terbuka.

Demikianlah beberapa nilai-nilai penting dari ibadah haji dan qurban yang harus diaktualisasikan dalam kehidupan kita sehari-hari. (*)