Kunjungan Ketum DPP PPP, Begini Orasinya

Ditulis Oleh vera Senin, 17 Juli 2017, 16:39

Riau (Inmas) –Bertempat di Aula besar Kanwil Kemenag Riau Sabtu, 15 Juli 2017  Ketua Umum DPP PPP mengunjungi Kanwil  Kemenag Riau. Pada  kesempatan tersebut Rommi mengatakan kunjungan ke Kanwil Kemenag Riau adalah dalam rangka silaturrahim dan pembinaan terhadap ASN Kemenag mengenai paham kebangsaan yang bertemakan Korelasi Pancasila dan Piagam madinah.

Istilah silaturrahim halal bi halal ini merupakan kekhasan Indonesia, yang  tak akan ditemukan di negara lain, istilah halal bi halal ini dicetuskan oleh Kiyai Abdul Wahab Hasbullah pada dekade Indonesia masih dipimpin oleh Bung Karno. Demikian yang diungkapkan Ketum DPP PPP ini mengawali orasinya.

Rommi  mengatakan bahwa keberadaan ormas yang sudah diakui di Indonesia, yang sudah mendapatkan pengakuan dan eksistensi bahkan dari badan hukum pemerintah, jangan sampai pengakuan itu justru menjadikan ormas tersebut membelakangi NKRI atau menggoyang pancasila,  hal tersebut yang disampaikan Rommi dihadapan seluruh ASN Kanwil Kemenag Riau.

Ia mengungkapkan dalam Orasi yang bertemakan “Korelasi Pancasila dan Piagam Madinah” tersebut disampaikan pada kunjungan ini karena diantara yang muncul sebagai latar historis, latar sosiologis terbitnya perpu yang baru beberapa hari ini adalah adanya ormas ormas yang yang berdasarkan pada ajaran agama, khususnya agama mayoritas yaitu Islam, tetapi mencoba menggoyang pancasila dan sendi sendi negara kesatuan. Sehingga menurutnya penting untuk kita pahami bersama, khususnya ASN Kemenag , bahkan dikhususkkan lagi bagi para penyuluh dan guru madrasah. Apabila hal ini muncul ditengah masyarakat kita, harusnya mampu memberikan jawaban yang persuasif  dan memiliki beberapa latar, baik itu  memiliki latar historis, yuridis, maupun teologis.

Ini penting, tekannya karena aparatur Kemenag merupakan rujukan pertama dari segala hal yang terkait dengan tema kegamaan. Ia mengaku tidak ingin memutlakkan pandangannya secara pribadi, karena mungkin ada kebenaran lain diluar sana. Tetapi paling tidak kita memiliki pertimbangan yuridis atau teologis dalam memahami sesuatu terkait pemahaman doktrin negara Pancasila.

Beberapa doktrin yang dikembangkan oleh kelompok kelompok radikal, berdasarkan kepada agama khususnya Islam mayoritas, radikalisme budha, Hindu bahkan Katolik. Radikalisme atas nama agama ini merupakan yang paling tua di dunia, karena menawarkan surga. Dan ini adalah penawaran tertinggi dalam setiap agama, terangnya. Menurutnya Ketuhanan Yang Maha Esa yang termaktub didalam Pancasila merupakan bentuk pengakuan terhadap seluruh agama di Indonesia.

Maka, penting untuk kita ingat ajak Rommi sesungguhnya negara kita sudah mengadopsi apa yang terkandung dalam Alquran, meyakini adanya Tuhan Yang satu. Ia mengajak agar kita sebagai warga negara dapat memahami kebhinekaan kita dalam negara kesatuan, kita imani agama bukan hanya dalam konsep teologis semata, namun dalam konsep sebagai bangsa . Perjuangan tidak boleh berhenti, bahwa  tetap berjuang sesuai kaidah. Jika ingin selalu berdebat, perdebatan tidak akan pernah selesai, tekannya.

 “Kalau tidak bisa mendapat semuanya, jangan ditolak semuanya, kalau tidak bisa secara nasional dalam dasar negara, maka turun  dari Undang Undang dasar yaitu UU. Negara telah mengintegrasikan nilai Islam dalam sebuah UU, sebut saja UU tentang perkawinan, tentang zakat, tentang muamalah dan sebagainya”, tegas Rommi penuh semangat mencontohkan.

“Jangan menyepelekan paham radikal yang masuk dalam negara ini, karena kemajuan teknologi melalui media online seperti sekarang ini. Mari kita bekali anak anak dengan pendidikan agama yang mumpuni dengan masuk ke pondok pesantren, madrasah maupun mengaji diluar pendidikan formal”, pesannya mengakhiri.(vera/adi/faj/jon)

 

 

 

kembali ke daftar berita

Berita Lainnya