Gus Wahid : Beri Kesempatan Pemerintah , Jangan Antipati Dulu

Ditulis Oleh vera Sabtu, 15 Juli 2017, 14:42

Riau (Inmas) – Pada hari Jum’at siang 14 Juli 2017, Kasubbag Informasi dan Humas Dedi Syahrul S Kom Msi bersama dengan para staff mengadakan bincang mengenai Program Full day school dengan Dr Kyai Haji Abdul Wahid Maktub Staf Khusus Bidang Kerjasama Dalam dan Luar Negeri kementerian Riset, Teknologi  dan Pendidikan Tinggi  pada saat menjadi narasumber pada kegiatan Kuliah Umum di Kampus Universitas Riau.

Dalam bincang tersebut pria yang akrab disapa Gus Wahid ini mengatakan full day school digagas sebagai bentuk upaya pemerintah dalam mengejar ketertinggalan, dalam bidang pendidikan. Secara pribadi beliau sangat apresiatif dengan gagasan mendikbud tersebut.

Program pendidikan kedepan sudah seharusnya lebih banyak menekankan pengembangan aspek karakter disamping kompeten. Selama ini kita hanya terfokus dengan kompeten sehingga pembentukan building karakter jadi terabaikan. Pada akhirnya akan berimbas terbentuknya sikap dan rasa ketidakpedulian dalam diri anak didik. Kita perlu mencontoh negara negara maju dalam menjalankan sistem pendidikannya, yang dibangun terlebih dahulu justru karakter dan solidaritas, tidak hanya kompetensi mereka, tuturnya menegaskan kepada salah seorang tim inmas.

Meskipun kenyataaannya, lanjut Gus Wahid gagasan dan ide full day school ini mendapatkan resistensi, penolakan dan perlawanan dari berapa kelompok masyarakat dan beberapa kepentingan, FDS harus dipahami secara komprehensif oleh semua stakeholder.

Tantangan kedepan untuk fds ini kita harus siap dengan segala macam bentuk evaluasi, koreksi sekaligus perbaikan, manakala ditemukan hal hal yang akan menghambat proses berjalannya program. Ini bukan hal gampang, bukan sekali jadi, tegasnya. Untuk itu pemerintah harus terus berupaya mencari terobosan terobosan.

Senada dengan yang diungkapkan Mendikbud, menurutnya dalam hal tertentu full day school dapat menjadi sebagai salah satu upaya preveting bagi anak didik terhadap berkembangnya pemahaman radikal saat ini. Namun bukan berarti juga dapat  di over generalisir. Mengingat sistem pendidikan di Indonesia yang sangat kompleksitas.

Ia menambahkan program FDS akan terus di evaluasi kedepannya. "Yang terpenting saat ini, berilah kesempatan dulu pada pemerintah dengan ide baru full day school ini bisa berjalan sesuai dengan rencana", imbuh Gus wahid.

“Jangan ganjal dulu, jangan terlalu cepat antipati dulu. Jangan belum apa apa sudah ditolak, dikritik. Harusnya ada mutual respect dan recognition dari masyarakat kita", ucapnya.

Sah-sah saja pemerintah untuk membuat sebuah gagasan, namun kita juga harus membuka ruang dialog baik itu dengan publik, maupun dengan kelompok lainnya. Mana tahu dengan adanya dialog yang intens mengenai hal tersebut akan muncul gagasan dan ide yang lebih baik lagi.(vera/novam/adi)

 

 

 

 

 

 

kembali ke daftar berita

Berita Lainnya