Lomba Baca Kitab Kuning Bagi Penghulu Resmi Dibuka Kakanwil

Ditulis Oleh vera Minggu, 18 Juni 2017, 23:32

(Inmas) - Riau. Bertempat di Hotel Mutiara Merdeka, Minggu (18/06) Kanwil Kemenag Riau melaksanakan pembukaan kegiatan lomba baca kitab kuning bagi penghulu se-Riau. Kegiatan tersebut diikuti oleh Kepala KUA dan penghulu yang mewakili kabupaten dan kota masing masing. Kegiatan tersebut dibuka secara resmi oleh Kakanwil Kemenag Riau Drs H Ahmad Supardi MA yang diikuti oleh 12 orang peserta.

Selaku ketua panitia M Kamil menyampaikan dalam laporannya kegiatan tersebut terlaksana hingga tanggal 20 Juni mendatang dengan berdasarkan surat keputusan Kanwil Kemenag Riau Nomor 303 tentang panitia, dewan hakim, panitera, dan peserta lomba baca kitab penghulu. Dikatakannya kegiatan ini bertujuaan untuk meningkatkan dan mendorong kecintaan penghulu kepada KUA dan pelaksana membaca literatur bahasa arab, meningkatkan kompetensu penghulu dan Kepala KUA dan pelaksana kepenghuluan dalam melakukan kajian dan pendalaman ilmu ilmu agama Islam, dari sumber kitab berbahasa arab, selain itu juga untuk meningkatkan keilmuan Islam bagi penghulu, Kepala KUA dan pelaksana kepenghuluan, serta meningkatkan pelayanan kepenghuluan kepada masyarakat terkait dengan problematika perkawinan sesuai dengan ajaran Islam, lebih dari itu untuk meningkatkan kecerdasan penghulu dalam ide dan gagasan melalui ilmu penilitian dan evaluasi.

Salah satu penyebab kemunduran umat Islam adalah ketika para ahli dalam membaca kitab kuning semakin jarang Hal tersebut yang diungkapkan Kakanwil mengawali sambutannya. Menurutnya dengan makin bertebaran dan banyaknya para ulama maupun tokoh Islam yang dapat membaca dan memahami kitab kuning, maka cahaya Islam akan bangkit. 

Ahmad mengaku sangat apresiatif dengan terselenggaranya kegiatan baca kitab kuning atau lebih dikenal dengan kitab gundul tersebut. Perkembangan ilmu pengetahuan yang luarbiasa sepanjang zaman hingga sekarang ini tidak terlepas dari peran umat Islam yang sangat istimewa. 

Menurutnya kitab kuning memiliki kandungan dan makna luarbiasa. Namun saat sekarang ha tersebut yang mulai  hilang. Di pondok pondok pesantren yang masih tradisional mewajibkan membaca kitab kuning. Guna berlanjut ilmu yang didapatkan ke tahapnyang lebih tinggi, ujarnya. Hal ini juga patut diberikan apresiasi dan digalakkan terus. Kakanwil mengajak para penghulu agar meningkatkan kompetensi dan kapasitasnya dalam mempelajari kitab kuning. "Jika betul betul dipahami dengan serius, sebetulnya bahasa arab tersebut tidaklah sulit, tinggal kitanya mau atau tidak mempelajari dan memahami, yang terpenting tekad dan mau belajar secara terus menerus, pesannya kepada seluruh peserta yang hadir.

"Apalagi satu kata dalam bahasa arab bisa berkembang menjadi sepuluh kata yang berbeda makna dan memiliki banyak makna, kita hanya perlu belajar tasrifnya, ujar pria yang sangat humoris ini memberi motivasi.(vera)





kembali ke daftar berita

Berita Lainnya