Ahmad Supardi: Halal Bukan Hanya Sekedar Label

Ditulis Oleh novam Selasa, 21 Maret 2017, 10:12

Pekanbaru (Inmas) - Kegiatan Sosialisasi Undang-undang Jaminan Produk Halal yang ditaja Bidang Urais dan Binsyar Kanwil Kemenag Prov. Riau sudah memasuki hari kedua dalam memberikan materi kepada para peserta. Ka. Kanwil Kemenag Prov. Riau, Drs. H. Ahmad Supardi, MA, menjadi narasumber utama pada kegiatan ini dengan materi Kebijakan Kepala Kanwil Kemenag Prov. Riau tentang Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah, Senin (21/3), di Hotel Mutiara Merdeka Pekanbaru.

"Saat ini masih banyak restoran atau tempat makan yang tidak memiliki label halal apalagi yang memiliki bersertifikat halal. Tentunya membuat kita semua harus bermawas diri dalam memilih makanan dan minuman yang kita konsumsi. Hukum pasar yang membuktikan bahwa tempat makan yang ramai dikunjungi pasti makanannya enak tetapi yang lupa kita kaji apakah makanan dan minuman yang enak itu juga bernilai halal atau tidak," jelas Supardi.

Beliau juga menjelaskan bahwa didalam ajaran Islam sudah jelas batasan halal dan haram untuk makanan dan minuman yang kita konsumsi serta barang-barang yang digunakan, tentunya Allah SWT menghalalkan sesuatu pasti itu baik untuk umatnya begitu juga dengan sesuatu yang haram pasti itu tidak baik untuk umatnya.

"Kita tahu bahwa babi merupakan hewan yang bisa digunakan untuk apa saja yang dibutuhkan dari mulai daging, kulit, sampai dengan bulunya. Tetapi Allah SWT mengharamkan babi untuk digunakan apalagi dikonsumsi oleh umat Islam, tentunya Allah SWT lebih mengetahui bahwa babi tidak baik untuk umat Islam. Hal ini juga berdasarkan penelitian bahwa daging babi mengandung caci pita yang sudah dimatikan dan merugikan manusia dan mungkin ada hal-hal lainnya lagi," paparnya.

Halal dan haram tidak hanya terbatas pada makanan dan minuman yang dikonsumsi, lanjut Beliau, tetapi juga pada barang-barang kita gunakan seperti baju, sepatu, kosmetik, obat-obatan, vaksin, dan lain-lain, bisa saja itu semua terbuat dari bahan-bahan yang diharamkan seperti kuas blush on yang terbuat dari bulu babi atau sepatu yang terlihat halus dan lembut ternyata terbuat dari kulit babi.

"Peredaran produk yang masih belum berlabel halal sudah pada tahap yang luar biasa, maka dari itu kita semua yang ada disini sebaiknya sudah bertambah wawasannya untuk kemudian disosialisasikan kepada masyarakat terutama lingkungan sendiri," tutur Bang Ucok biasa disapa.

Beliau menambahkan bahwa sertifikat halal bukan hanya untuk memberikan label halal pada suatu produk baik yang dikonsumsi ataupun digunakan tetapi maknanya adalah untuk melindungi hak konsumen terutama konsumen muslim selain itu juga tidaklah cukup hanya halal tetapi harus dibarengi dengan thoyiban.

"Jadi biasanya untuk produk yang sudah bersertifikat halal pasti sudah terasumsi berkualitas sehat dan higenis serta baik untuk digunakan. Maka dari itu produk yang memiliki sertifikat halal harus dipantau terus untuk tetap terjamin kualitasnya," pukas Ka. Kanwil yang mantan Kasubbag Hukmas dan KUB.

Beliau juga mengingatkan, "Penggunaan produk halal merupakan faktor pembiasaan dan kesadaran dari diri sendiri, maka dari itu kita sebagai orang tua harus mengenalkan dan membiasakan diri pada anak-anak untuk waspada terhadap produk yang dikonsumsi dan digunakan sehari-hari."

Pada akhir materi, Ahmad supardi berharap bahwa dengan kegiatan sosialisasi ini bisa memberikan ilmu pengetahuan yang baru dan memantapkan wawasan peserta untuk diterapkan pada diri sendiri sekaligus memberikan informasi kepada masyarakat minimal lingkungan sendiri. (nvm)

kembali ke daftar berita

Berita Lainnya