Senin, 3 Januari 2011, 12:00 –
Peran Strategis Kementerian Agama Mengawal Akhlak dan Moral Anak Bangsa

Pekanbaru (Humas)- Kementerian Agama (Kemenag) adalah instansi pemerintah yang menjalankan tugas pokok untuk memberikan pembinaan, pelayanan dan perlindungan kehidupan beragama kepada seluruh umat beragama di tanah air. Dimana, dalam kehidupan berbangsa dan bernegara Kemenag memainkan peran strategis dalam empat hal, yaitu dalam peningkatan pemahaman dan pengamalan agama, pembinaan kerukunan antar umat beragama, peningkatan pendidikan agama dan pendidikan keagamaan, dan yang terpenting adalah mengawal akhlak dan moral bangsa.

Hari ini, Senin (3/1) merupakan Hari Amal Bhakti (HAB) Kementerian Agama ke-65, dimana pada hari bersejarah ini mengingatkan keluarga besar Kekenag di seluruh Indonesia, terhadap tonggak bersejarah berdirinya Kementerian Agama Republik Indonesia pada tanggal 3 Januari 1946, dengan Menteri Agama pertama almarhum Haji Mohammad Rasjidi.

“Dalam kesempatan ini, marilah kita merenungkan kembali tujuan pembentukan serta misi yang diemban oleh Kementerian Agama yang berdiri sebagai pelaksanaan amanat Undang-Undang Dasar 1945. Kementerian Agama adalah instansi pemerintah yang menjalankan tugas pokok untuk memberikan pembinaan, pelayanan dan perlindungan kehidupan beragama kepada seluruh umat beragama di tanah air kita,” demikian ungkap Menteri Agama (Menag) Suryadharma Ali dalam amanat tertulisnya yang dibacakan oleh Gubernur Riau, Dr (HC) HM Rusli Zainal SE, selaku Pembina Upacara HAB Kemenag ke- 65 di Lapangan UIN Suska Riau, Senin (3/1).

Menurutnya, melalui perjuangan yang gigih dan tanpa pamrih para pendahulu kita, sejarah Kementerian Agama menyatu dengan sejarah NKRI. Bahkan dalam masa revolusi fisik dan diplomasi mempertahankan kemerdekaan, Kantor Pusat Kementerian Agama turut hijrah ke Daerah Istimewa Yogyakarta. Pergantian pemerintahan dan perubahan politik yang terjadi sepanjang sejarah Indonesia telah mengukuhkan misi dan tugas pokok Kementerian Agama yang tidak bisa tergantikan oleh instansi lain.

Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara Kementerian Agama memainkan peran strategis dalam empat hal, yaitu dalam peningkatan pemahaman dan pengamalan agama, pembinaan kerukunan antar umat beragama, peningkatan pendidikan agama dan pendidikan keagamaan, serta mengawal akhlak dan moral bangsa.

“Dalam masa 65 tahun perjalanan sejarah Kementerian Agama hingga kini, beberapa kali telah dilakukan penyempurnaan susunan organisasi, ruang lingkup tugas dan fungsi Kementerian Agama, seiring dengan dinamika yang terjadi dalam kehidupan umat dan bangsa. Namun persoalan utama yang dihadapi bangsa kita dewasa ini, adalah masalah kebodohan, pengangguran, kemiskinan, dan krisis akhlak yang belakangan ini memprihatinkan kita semua,” ungkapnya.

Melalui program pendidikan agama dan keagamaan, Kementerian Agama turut mencerdaskan kehidupan bangsa. Pemberdayaan lembaga pendidikan agama dan peningkatan kualitas pendidikan keagamaan telah mengalami banyak kemajuan seiring dengan tuntutan perkembangan zaman.

Selanjutnya dalam upaya menanggulangi masalah kemiskinan, Kementerian Agama sejauh ini telah turut berperan dan memberikan kontribusi melalui pemberdayaan lembaga-lembaga sosial keagamaan, seperti pemberdayaan rumah ibadah sebagai pusat kegiatan sosial kemasyarakatan. Kementerian Agama bersama instansi terkait juga mengembangkan kebijakan di bidang pengelolaan zakat, infak, sedekah, wakaf serta dana sosial keagamaan lainnya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan menanggulangi masalah kemiskinan. Peranan pranata keagamaan dalam 4 pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat perlu terus kita gerakkan di masa mendatang.

Di samping peran dan kontribusi sebagaimana disebutkan di atas, saya ingin mengingatkan kembali bahwa Kementerian Agama ke depan perlu lebih mempertajam substansi dan efektivitas tugas pokok yang telah dilaksanakan selama ini.

“Kita bersyukur bahwa penyelenggaraan ibadah haji sebagai bagian dari tugas pelayanan kehidupan beragama dari tahun ke tahun mengalami peningkatan, baik dari sisi sistem, manajemen, akuntabilitas maupun pelayanan kepada jemaah haji. Untuk itu, saya berharap berbagai kemajuan dalam penyelenggaraan ibadah haji yang telah dicapai terus dipelihara dan tingkatkan di masa mendatang,” harapnya.

Menyangkut kerukunan atau toleransi dalam kehidupan beragama, kita menyadari bahwa kerukunan merupakan kondisi yang penting diwujudkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Tidak boleh dilupakan bahwa prinsip dasar kerukunan dan toleransi beragama sebenarnya telah tertuang dalam Undang-Undang Dasar negara kita yang menjamin kemerdekaan setiap penduduk untuk memeluk agama dan beribadah menurut agama yang diyakininya.

Sebagai keluarga besar Kementerian Agama mungkin tidak pada tempatnya jika kita sendiri yang menilai kontribusi yang telah kita berikan kepada masyarakat. Namun, dengan penilaian yang obyektif, dari perjalanan selama 65 tahun ini, tidak dapat dipungkiri bahwa kementerian Agama telah memberikan kontribusi yang nyata bagi pembangunan bangsa dan negara ini.

Peran Kementerian Agama ke depan semakin penting dan strategis, karena sesuai dengan rekomendasi National Summit 2009 bahwa isu utama pembangunan agama setidaknya mencakup tiga hal, yaitu: Pertama, peningkatan wawasan keagamaan yang dinamis. Kedua, penguatan peran agama dalam pembentukan karakter dan peradaban bangsa. dan Ketiga, peningkatan kerukunan umat beragama dalam membangun kerukunan nasional.

Terkait dengan peningkatan wawasan keagamaan yang dinamis, hasil yang diharapkan adalah optimalisasi fungsi agama sebagai landasan etik atau moral bagi pembangunan, perlunya peningkatan pemahaman dan perilaku keagamaan yang seimbang, moderat dan inklusif, perlunya mewujudkan keshalihan sosial sejalan dengan keshalihan ritual, perlunya peningkatan motivasi dan partisipasi umat beragama dalam pembangunan nasional, dan perlunya peningkatan ketahanan umat 6 beragama terhadap ekses negatif ideologi- ideologi dan gerakan transnasional.

Tentang penguatan peran agama dalam pembentukan karakter dan peradaban bangsa, hasil yang diharapkan adalah peningkatan kualitas pribadi umat beragama, peningkatan harkat dan martabat umat beragama dalam membangun jati diri bangsa, peningkatan peran umat beragama dalam membangun harmoni antar peradaban, penguatan peran lembaga sosial keagamaan, dan peningkatan peran agama dalam pembangunan nasional.

“Sedangkan mengenai peningkatan kerukunan umat beragama dalam membangun kerukunan nasional, output yang diharapkan adalah peningkatan dialog dan kerjasama antar umat beragama, penguatan peraturan perundang-undangan terkait kehidupan keagamaan, peningkatan peran Indonesia dalam dialog lintas agama di dunia Internasional. Dalam hubungan ini, saya meminta agar hal-hal tersebut mendapat perhatian dalam pembinaan kerukunan kehidupan beragama ke depan,” anjurnya.

Lebih lanjut, seiring dengan perkembangan masyarakat dalam era keterbukaan informasi sekarang ini, aparatur pemerintah di semua tingkatan dituntut untuk melakukan sesuatu dengan benar dan melakukan sesuatu 7 yang benar. Untuk melakukan sesuatu dengan benar, seorang pimpinan dan staf harus mempunyai kompetensi. Meski kompetensi itu tidak harus sampai harus ke soal-soal detil, namun, seorang pejabat wajib menguasai logika besar dari target yang hendak dicapai. Sedangkan melakukan sesuatu yang benar adalah kemampuan untuk menentukan mana yang benar dan salah, itu terkait dengan integritas.

Selain itu, disadari dalam usia ke 65, tugas-tugas Kementerian Agama tidak semakin ringan, tetapi semakin berat, yang membutuhkan semangat pengabdian, pengorbanan, kerja keras serta keikhlasan dalam melayani masyarakat.

“Sesuai dengan tema peringatan Hari Amal Bakti ke-65 pada tahun ini, yaitu “Kerja Keras Mewujudkan Kementerian Agama yang Bersih dan Berwibawa”, saya meminta kepada seluruh jajaran aparatur Kementerian Agama baik di pusat maupun di daerah, untuk bekerja keras dan bersama-sama memperkuat kesadaran kolektif untuk mengedepankan nilai-nilai kejujuran dan etika kerja yang sehat dan benar serta menjauhi segala macam praktik korupsi, kolusi dan nepotisme,” tegasnya.

“Sebelum mengakhiri sambutan ini, saya mengajak kita sekalian marilah benar-benar kita tegakkan integritas aparatur Kementerian Agama yang bersih, jujur, 8 profesional dan berwibawa. Kewibawaan akan hadir jika kita semua bekerja dengan bersih, jujur, dan profesional di atas landasan nilai-nilai keikhlasan. Di samping itu, mari kita mengedepankan sifat melayani dan memberi teladan,” pungkasnya. (msd)

FAQ
Back to Top Halaman ini diproses dalam waktu : 0.604461 detik
Diakses dari alamat : 10.1.7.64
Jumlah pengunjung: 1112522
Lihat versi mobile
Best Viewed with Mozilla Firefox 1280X768
© Copyright 2013 Pusat Informasi dan Humas Kementerian Agama. All Rights Reserved.