Rabu, 29 Mei 2013, 05:46 – Bidang Haji & Umroh
Pemda Kab. Kampar dan Kemenag Kampar Terus Menggesa Perda Gemar Mengaji, Perda PDTA dan Pandai Membaca Al-Qur’an

Kampar (Humas) – Untuk mewujudkan Kab. Kampar sebagai serambi Mekkahnya Provinsi Riau dan untuk mewujudkan Pilar pertama Pembangunan Kab. Kampar tentang peningkatan akhlak dan moral, Kepala Kantor Kementerian Agama Kab. Kampar Drs H Fairus MA didampingi Kasi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Muhammad Ali MSy dan Humas Kemenag Kampar Gustika Rahman SPdI menghadiri Rapat Ranperda Gerakan Magrib Mengaji, Perda PDTA dan Perda Pandai Membaca Al-Qur’an hari selasa (28/05) di ruang rapat gedung DPRD Kab. Kampar. Rapat tersebut dipimpin langsung oleh Ketua Pansus 1 Indra Gamal SAg yang dihadiri oleh Kepala Bagian Hukum Tarmizi SH MH, dan seluruh anggota rapat.

Dalam rapat tersebut Kepala Kantor Kementerian Agama Kab. Kampar Drs H Fairus MA memaparkan betapa pentingnya ke tiga perda ini diwujudkan. Jika perda ini tidak bisa terwujud, malulah kita sebagai masyarakat Kab. Kampar yang mayoritas Umat Muslim mengaku Kab. Kampar ini sebagai serambi mekkahnya Provinsi Riau. Oleh karena itu, mari kita dukung perda ini dengan hati yang tulus, jiwa yang lapang dan fikiran yang jernih agar perda ini bisa terwujud dan kita laksanakan dalam kehidupan bermasyarakat.

Fairus mengatakan, dahulu di penjuru sudut-sudut kampung sering kita dengar anak-anak kita mengaji selepas sholat fardhu magrib di masjid-masjid, musholla-musholla, surau-surau, nosa-nosa, bahkan disetiap rumah yang hanya bermodalkan lampu strongkeng dan palito togok. Namun semangat untuk mengaji tidak pernah pudar. Tapi, saat ini sangat ironis, yang mana generasi muda kita, anak-anak kita selepas sholat fardhu magrib berkeliaran tidak tentu arah, yang mengakibatkan lantunan ayat suci Al-Qur’an sudah tidak terdengar lagi, padahal disetiap penjuru Desa sudah dialiri aliran listrik yang memadai. Namun yang terdengar saat ini hanyalah bunyi televisi dan bunyi batu domino di warung-warung, ungkapnya.

Sementara itu, di sekolah umum, baik itu tingkat SD, SMP maupun SMA mata pelajaran Agama Islam hanya 2 jam, dalam 2 jam tersebut paling lama hanya 1,5 jam mata pelajaran setiap minggunya. Bila guru agamanya tidak masuk, bisa kita bayangkan apa yang didapat oleh anak-anak kita tentang pengetahuan ilmu agama. Jika ini kita biarkan terus menerus, alamatlah kehidupan kita, generasi penerus kita, akan hancur bukan hanya didunia saja, tetapi juga di akhirat nanti. Untuk itu perda tentang Pendidikan Diniyah Takmiliyah Awaliyah (PDTA) yang dulu kita kenal dengan sebutan MDA wajib kita tuntaskan. Karena di PDTA inilah anak-anak kita belajar tentang pegetahuan ilmu agama, mulai dari cara berwudhuk, sholat, membaca Al-Qur’an dan lain sebagainya, tegas Fairus.

Setelah mendengarkan pemaparan dari Fairus tersebut, Indra Gamal, Tarmizi dan seluruh anggota rapat yang tergabung dalam Pansus 1, sepakat untuk membuat perda tentang Gerakan Magrib Mengaji, perda tentang Pendidikan Diniyah Takmiliyah Awaliyah dan Perda Pandai membaca Al-Qur’an. (Ags)

FAQ
Back to Top Halaman ini diproses dalam waktu : 0.646194 detik
Diakses dari alamat : 10.1.7.64
Jumlah pengunjung: 1115156
Lihat versi mobile
Best Viewed with Mozilla Firefox 1280X768
© Copyright 2013 Pusat Informasi dan Humas Kementerian Agama. All Rights Reserved.