Minggu, 13 Mei 2012
Pro- Kontra Stunning pada Hewan

Oleh: Rahma Yunita
Pemotongan hewan di Rumah Potong Hewan (RPH) dengan cara stunning atau strum menggemparkan Kota Pekanbaru. Karena berdasarkan pengaduan pedagang sapi ke DPRD Pekanbaru, tata cara penyemblihan yang dilakukan pihak RPH bekerjasama dengan perusahaan penyuplai sapi tidak sesuai dengan ajaran Islam sehingga kehalalan daging sapi/ kerbau yang beredar di pasaran diragukan.

Diduga telah terjadi praktek penganiayaan terhadap sapi-sapi yang disembelih di RPH Pekanbaru. Dugaan tersebut diuangkap sejumlah pedagang daging yang mendatangi Komisi II DRPD Pekanbaru dengan membawa bukti berupa tengkorak sapi yang bagian atasnya berlubang. Lubang tersebut diduga akibat penganiayaan berat sebelum sapi disembelih.

Ditemukannya lobang di tengkorak sapi tak hanya satu atau dua, tetapi hampir semua. Sehingga timbul kekhawatiran yang mempertanyakan benarkan proses penyembelihan di RPH Pekanbaru dan beberapa RPH di Indonesia tidak memenuhi syariat Islam??

***

Seiring perkembangan zaman berbagai kemudahan diberikan, termasuk peralatan modern yang dapat mempermudah proses penyembelihan dan pengolahan hewan Stunning (pemingsanan) sebelum hewan d sembelih. Namun metode pemingsanan hewan yang lahir dari Barat ini masih banyak dipertanyakan oleh masyarakat, bahkan mempertanyakan kehalalannya dalam hukum Islam.

Stunning merupakan sebuah metode yang digunakan untuk mempermudah penyembelihan hewan dengan cara memingsankan hewan terlebih dahulu (stunning) sebelum disembelih. Secara teknis cara ini memberikan kemudahan, sebab hewan yang sudah dipingsankan itu tidak akan meronta, sehingga penyembelih menjadi lebih mudah melakukan tugasnya.

Stunning telah diterapkan di negara-negara maju seperti Belanda, Australia, Amerika, Eropa, termasuk Indonesia. Metode ini lahir karena kebutuhan daging yang terus meningkat sehingga cara ini dinilai sangat membantu dalam proses penyembelihan karena bisa menyembelih ratusan bahkan ribuan ekor sapi setiap harinya yang tidak mungkin dilakukan jika menggunakan metode pemotongan tradisional atau manual.

Alat ini memang sangat membantu, khususnya bagi Rumah Potong Hewan (RPH) skala besar, namun metode ini juga menyebabkan resiko dalam kehalalan, jika tidak dilakukan dengan tepat dan baik.

Untuk hewan ternak besar, seperti sapi dan kambing stunning dilakukan dengan metode penembakan atau pemukulan pada bagian kepala dengan pistol dan peluru khusus (captive bolt pistol). Proses penembakan dilakukan pada ukuran kaliber yang berbeda-beda sesuai dengan besar kecilnya ukuran sapi.

Kepala yang ditembak dengan peluru tumpul ini menyebabkan kerusakan pada jaringan otak, sehingga ternak akan mengalami goyah dan pingsan. Dalam keadaan pingsan inilah sapi menjadi lebih mudah dikendalikan, ia akan jatuh dan langsung disembelih oleh jagal.

Titik kritis pada proses ini adalah, apakah sapi atau binatang ternak itu sudah mati atau hanya pingsan oleh penembakan tersebut. Sebab kalau jenis peluru yang digunakan terlalu besar, maka ada peluang hewan tersebut tidak hanya sekedar pingsan, tetapi langsung mati. Jika hal itu yang terjadi, maka binatang tersebut telah menjadi bangkai. Proses penyembelihan yang dilakukan sesudah itu menjadi sia-sia karena ia telah mati.

Penggunaan metode pemingsanan perlu dikaji dengan seksama agar benar-benar memberikan pengaruh yang tepat bagi hewan ternak. Ketika kekuatan peluru yang digunakan terlalu ringan, maka hewan tidak akan pingsan, bahkan akan meradang dan menjadi ganas. Ia akan meronta dan mengeluarkan tenaganya untuk berontak. Hal ini bisa membahayakan pekerja atau jagal yang akan menyembelihnya. Sebaliknya jika kekuatan peluru yang diberikan terlalu kuat, binatang ternak tersebut akan langsung menjadi bangkai.

Selain itu waktu untuk menyembelih juga harus dilakukan secara tepat. Jarak waktu yang ideal antara proses stunning dengan proses penyembelihan adalah 20 hingga 30 detik. Kurang dari itu akan sulit melakukannya, selain akan menghasilkan dampak kurang baik. Jika lebih dari batas waktu, hewan akan kembali siuman dan bangkit kembali.

Di tengah kekritisan metode stunning ini, sebuah metode lain diperkenalkan oleh beberapa rumah potong hewan di Irlandia. Mereka memasukkan sapi yang akan disembelih ke dalam sebuah ruangan sempit yang bisa dikunci secara mekanis. Dengan demikian sapi tersebut tidak bisa bergerak lagi karena begitu sempitnya kandang sesuai dengan ukuran sapi. Kemudian secara mekanis pula kandang besi tersebut berputar, sehingga sapi yang sudah masuk tadi ikut berputar dan rebah dalam ikatan yang sangat kuat. Si jagal dengan mudaknya memegang bagian leher sapi, yang sudah tidak bisa bergerak tetapi masih sadarkan diri itu, untuk menyembelihnya.

Cara ini tentu saja jauh lebih aman dan mudah dalam mengeksekusi sapi. Kendalanya adalah biaya investasi yang cukup mahal untuk mengadakan peralatan tersebut. Tetapi dalam jangka panjang metode ini tidak membutuhkan biaya operasional tinggi, karena tidak membutuhkan peluru untuk setiap kepala sapi yang akan disembelih. Oleh karena itu secara ekonomis metode ini juga cukup menguntungkan, selain tentunya jauh lebih aman dalam menjamin kehalalan daging yang dihasilkannya.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) sendiri telah mengeluarkan Fatwa MUI Nomor 12 Tahun 2009 tentang Standar Sertifikasi Penyembelihan Hewan. Dimana stunning terhadap hewan yang akan disembelih, seperti stunning atau strum listrik /electrical stunning, MUI memperbolehkan dengan syarat stunning tersebut tidak menyebabkan hewan mati sebelum disembelih.

Dalam Fatwa MUI 12/ 2009 pada ketenuan umum standar penyembelihan halal terdiri dari 4 point, pada point kegita disebutkan stunning adalah suatu cara melemahkan hewan melalui pemingsanan sebelum pelaksanaan penyembelihan agar pada waktu disembelih hewan tidak banyak bergerak.Sementara dalam ketentuan hukum Fatwa MUI 12/ 2009 pada point F (3) stunning (pemingsanan) untuk mempermudah proses penyembelihan hewan hukumnya boleh, dengan syarat:1.Stunning hanya menyebabkan hewan pingsan sementara, tidak menyebabkan kematian serta tidak menyebabkan cidera permanen,2. Bertujuan untuk mempermudah penyembelihan,3. Pelaksanaannya sebagai bentuk ihsan, bukan untuk menyiksa hewan,4. Peralatan stunning harus mampu menjamin terwujudnya syarat 1, 2, 3 serta tidak digunakan antara hewan halal dan nonhalal (babi) sebagai langkah preventif,5. Penetapan ketentuan stunning, pemilihan jenis, dan teknis pelaksanaannya harus di bawah pengawasan ahli yang menjamin terwujudnya syarat, 1, 2, 3, dan 4.

Walaupun Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan Fatwa MUI Nomor 12 Tahun 2009 tentang Standar Sertifikasi Penyembelihan Hewan serta memperbolehkan stunning, barangkali ada baiknya pengawasan secara syariah terhadap RPH mulai dari sebelum penyembelihan, saat menyembelih, hingga sesudah menyembelih. Sehingga, kehalalan daging yang beredar di masyarakat lebih terjamin.(*)

*** Penulis Adalah:Mahasiswa UIN Suksa Riau

FAQ
Back to Top Halaman ini diproses dalam waktu : 0.017790 detik
Diakses dari alamat : 103.7.12.72
Jumlah pengunjung: 959251
Lihat versi mobile
Best Viewed with Mozilla Firefox 1280X768
© Copyright 2013 Pusat Informasi dan Humas Kementerian Agama. All Rights Reserved.