Minggu, 18 Maret 2012, 23:16
PELAJARAN BERHARGA DARI ANJING YANG MEMANGSA TUANNYA

Oleh : Drs. H. Ahmad Supardi Hasibuan, MAKepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Rokan Hulu Provinsi Riau

Beberapa bulan yang lalu, tepatnya hari Rabu, 7 September 2011, kita dikejutkan pemberitaan dari beberapa harian yang terbit di Kota Pekanbaru, yang menyatakan 9 Anjing Memangsa Tuannya. Berita ini mengejutkan, sebab anjing pada dasarnya adalah binatang yang cukup setia terhadap manusia, bahkan dalam hukum Islam disebutkan, bahwa binatang tangkapan dari anjing buruan, halal dimakan dagingnya, dengan catatan anjing tersebut dilepas dengan membaca, “Bismillahirrahmanirrahiem”. Pada masa dulu, anjing semacam senjata bagi umat manusia, yang profesinya menangkap binatang buruan. Hal ini didukung oleh sifat anjing yang setia tadi itu.

Berbicara tentang anjing, memang mengandung perdebatan di kalangan ahli hukum Islam, ada yang berpendapat bahwa anjing haram semuanya seperti halnya babi, yang secara nyata-nyata disebutkan dalam Al-Qur’an. Padahal sebetulnya, anjing tak pernah disebutkan keharamannya dalam Al-Qur’an. Ada juga yang berpendapat, bahwa anjing hanya air liurnya yang najis, sedangkan bagian tubuh yang lainnya tidak najis. Bahkan ada juga yang berpendapat, bahwa semuanya bukanlah najis, sehingga hasil buruannya pun halal dimakan umat manusia. Tak dapat dipungkiri lagi, anjing pada dasarnya sangat akrap dengan manusia dan bahkan sangat dibutuhkan umat manusia.

Perubahan Karakter

Anjing, sebagaimana disebutkan oleh Amrizal Chan, Pemilik Klinik dan Pusat pelatihan Anjing Guchiano Dog Park Training Centre Batam, kalau dipelihara dengan baik, akan mempunyai karakter yang setia. Hal ini dapat dibuktikan, di beberapa Negara ada banyak kisah bagaimana anjing dengan setia menunggu majikannya, meski majikannya sudah meninggal. Perlu juga diketahui, bahwa bagi pemburu hutan, anjing adalah teman setia dan bahkan menjadi senjata yang sangat tajam, memburu binatang buruannya. Islam bahkan menghalalkan binantang hasil buruan atau tangkapan dari anjing buruan.

Atas dasar penjelasan tersebut di atas, anjing pada dasarnya adalah binatang setia dan sangat dapat dipercaya. JIka ada kasus seperti di Kota batam, dimana tuannya dimakan oleh anjing-anjingnya secara ganas, berarti ada perubahan karakter dasar dari anjing-anjing itu. Perubahan karakter itu, sangat dimungkinkan dengan catatan ada perilaku yang berlebihan dari tuannya kepada mereka. Seperti, pertama, tuannya sering menyakiti atau menyiksa anjing-anjingnya dan kedua, anjing-anjing itu tak diberikan makan berhari-hari atau dalam waktu yang cukup lama. Kedua penyebab ini, menjadi pemicu utama perubahan karakter sang anjing, yang tadinya setia dan melindungi tuannya, menjadi beringas, pemangsa dan penyebab kematian tuannya. Hal ini sangat memungkinkan terjadi, apalagi sang anjing sudah 16 hari terkurung dipagar, tidak ada makanan dan minuman sedikitpun. Jangankan hewan seperti anjing, manusiapun bisa lebih ganas daripada anjing itu lagi, jika mengalami seperti yang dialami oleh sang anjing-anjing itu.

Ada satu kisah menarik diceritakan pada buku legenda terkenal dari Baghdad yaitu Laila Majnun. Dalam buku ini, diceritakan kisah seorang raja yang sangat kejam atas lawan-lawan politiknya. Sang raja mengurung serigala pada satu kandang khusus dan makanannya diberikan adalah orang-orang yang membangkang atau melawan perintah raja, termasuk orang-orang yang tidak disukai oleh raja. JIka ada yang melawan perintah raja, atau bahkan orang yang tidak disukai sang raja, maka orang tersebut langsung dilemparkan di kandang serigala, sehingga langsung pula diterkam oleh serigala.

Seorang pelayan istana memperhatikan betul kejadian-kejadian ini. Dia bahkan berfikir bahwa satu saat nanti, pasti saya akan dilemparkan ke kandang serigala ini, sebab jangankan melawan, tidak disukai sang raja saja, menjadi penyebab dilemparkan di kandang serigala. Berapa lamalah bisa menjaga diri dan tidak berbeda pendapat dengan raja, pikirnya. Si Pelayan mencoba mencari jurus lain, yaitu dengan mendekati serigala, dengan berbuat baik kepadanya.

Atas dasar itu, si pelayan setiap hari memberikan makanan berupa daging kepada serigala, sehingga si serigala kenal betul dengan si pelayan tadi, dan bahkan terjadi hubungan yang harmonis antara si pelayan dengan serigala. Satu ketika, tibalah waktunya sang raja tidak senang kepada si pelayan. Si pelayan pun diperintahkan untuk ditangkap dan dilemparkan ke kandang serigala. Anehnya, ketika si pelayan dilemparkan masuk ke kandang serigala, si serigala justru melindungi si pelayan. Serigala justru mencium-cium si pelayan. Sang raja pun heran, kenapa si pelayan ini tidak diterkam oleh serigala, sebagaimana yang lainnya. Usut punya usut, ternyata si pelayan sering memberi makan kepada serigala. Serigala pun membalas jasa orang yang selalu memberikan makan kepadanya, dengan melindunginya dari maksud jahat raja.

Dalam konteks ini dapat dipahami, bahwa binantang sebuas serigala saja, dapat membalas jasa baik orang lain, sedangkan umat manusia, terkadang hanya karena kesalahan kecil, beda partai politik, tidak mendukung ketika pilkada berlangsung, dapat melupakan jasa baik orang lain dan bahkan menghukumnya dengan hukuman yang cukup berat. Hal seperti ini, sering ditemukan dalam dunia birokrasi saat ini. Banyak pejabat di non job kan dan bahkan dimutasikan ke tempat yang jauh lagi sulit, hanya karena tidak mendukung saat pemilukada berlangsung.

Peringatan Bagi Para Pemimpin

Kisah anjing memangsa tuannya tersebut di atas, memberikan inspirasi kepada kita, bahwa jika sang pemimpin berbuat zholim kepada rakyatnya, atau pemimpin tidak memperhatikannya, apalagi pemimpin menelantarkan rakyatnya, maka dapat dipastikan, sifat manusia yang dikenal halus, lembut, penuh perhatian, penuh persaudaraan, saling sayang menyayangi, cinta mencintai, lindung melindungi, bantu membantu antara satu sama lain, dapat berubah secara radikal menjadi lebih hina daripada binatang, sebagaimana disebutkan Firman Allah dalam Al-Qur’an, “Mereka itu seperti binatang, bahkan lebih jahat daripada itu lagi”. Lebih jahat dari binatang, artinya adalah binatang bisa lebih baik daripada manusia, padahal manusia mempunyai akal, sedangkan binatang tidak mempunyai akal.

Penyebab utama dari perubahan karakter tersebut di atas adalah tuan sering menyakiti bawahannya. Dalam konteks pemerintahan adalah pemimpin sering menzhalimi rakyatnya. Tugas utama seorang pemimpin adalah melindungi, mencerdaskan dan mensejahterakan rakyatnya. Ciri utamanya adalah kebijakan yang dikeluarkan pro kerakyatan, sesuai kebutuhan rakyat, dan lebih mementingkan kepentingan rakyat daripada kepentingan yang lainnya. Hal ini dapat dilihat dari produk perundang-undangan yang dikeluarkan dan dilaksanakan.

Sikap merajalelanya korupsi adalah bahagian yang tidak terpisahkan dari sifat menzhalimi rakyat, sebab korupsi akan menyengsarakan rakyat, penghasilan rakyat digunakan kepada hal-hal yang tidak seharusnya. Makanya, kejahatan korupsi termasuk kejahatan besar dan tidak bisa dimaafkan. Ada satu pameo mengatakan, pelaku korupsi di Timur Tengah dipotong tangan; pelaku korupsi di China dipotong leher; sedangkan pelaku korupsi di Indonesia dipotong tahanan.

Penyebab kedua adalah tuan tidak memberi makan kepada anjing-anjingnya. Dalam konteks pemerintahan, salah satu tugas utama para pemimpin adalah meningkatkan kesejahteraan rakyatnya. Peningkatan kesejahteraan adalah tugas utama dari sebuah pemerintahan. Makanya standar utama keberhasilan sebuah pemerintahan adalah sebesar apa pemerintahan tersebut dapat meningkatkan kesejahteraan rakyatnya dan sekaligus mengentaskan kemiskinan dari rakyatnya.

Peningkatan kesejahteraan ini dapat dilakukan dengan membuka lapangan kerja sebanyak-banyaknya bagi rakyatnya, dan memberikan perlindungan serta jaminan social bagi rakyatnya yang tua jompo, terlantar, anak yatim, fakir miskin dan lain sebagainya. Selain itu, yang paling penting adalah mengarahkan, memberikan motivasi dan merekayasa peningkatan penghasilan rakyatnya. Termasuk dalam hal peningkatan pendidikannya, sebab rendahnya pendidikan menjadi salah satu penyebab utama dari kemiskinan.

Negeri kita ini, saat ini, dikenal sebagai Negara miskin, tapi pada saat yang bersamaan dikenal pula sebagai negeri yang kaya akan sumberdaya alamnya, dan bahkan ada pakar internasional yang menyatakan, dari hasil laut saja, seharusnya rakyat Indonesia sudah kaya raya. Potensi akan sumberdaya alam yang luar biasa ini, seharusnya menjadikan negeri ini negeri yang kaya raya, negeri yang makmur, Baldatun Toyyibatun wa Robbun Ghofur, gemah ripah lohjinawi, tata tentrem kertoraharjo. Namun yang terjadi, justru sebaliknya. Apa yang salah di negeri ini ? Jangan ditanya kepada rumput yang bergoyang, sebab dia pun akan bingung, karena dia selalu dinjak-injak.

Bila kedua hal yang dialami oleh 9 ekor anjing di Kota batam tersebut, menimpa anjing-anjing lain di kota lain, maka pastilah anjing-anjing itu akan memangsa tuannya secara beringas. Dan bila ini terjadi pada manusia, entahlah apa yang akan terjadi. Jangan-jangan lebih sesat lagi dari anjing-anjing itu. Mari kita berlindung kepada Allah SWT dari kondisi yang dialami oleh para anjing kota Batam itu. Wallohu A’lam Bishshowab.***

FAQ
Back to Top Halaman ini diproses dalam waktu : 0.023597 detik
Diakses dari alamat : 10.1.7.64
Jumlah pengunjung: 1104943
Lihat versi mobile
Best Viewed with Mozilla Firefox 1280X768
© Copyright 2013 Pusat Informasi dan Humas Kementerian Agama. All Rights Reserved.