Selasa, 13 September 2011, 11:00
PERBEDAAN HARI RAYA DAN SOLUSI MEMPERSATUKAN UMAT

(Tanggapan terhadap tulisan Ahmad Supardi dengan judul Idul Fitri yang terkoyak)

Oleh: H. Zulfadli, Lc, MA

Perbedaan yang terjadi pada hari Raya Idul Fitri 1432 H telah menimbulkan polemik yang sangat dirasakan oleh masyarakat pada sisi sosial dan ekonomi. Sebuah pesan yang yang dikirim ada yang menyebutkan “gara-gara hilal setitik rusak gulai sebelanga”. Malam takbiran dan hidangan hari raya yang telah jauh-jauh hari disiapkan terpaksa dibatalkan karena hasil sidang Itsbat yang dilaksanakan baru usai sekitar jam 21.00 Wib/ 22.00 Wita/ 23.00 WIT. Masyarakat resah antara takbiran kah atau melaksanakan shalat tarawih?

Dampaknya sebagaimana disiarkan media bahwa malam takbiran batal dilaksanakan walau hanya tinggal memukul bedug takbir saja dan mesjidpun kosong karena tidak ada atau sedikit jamaah yang akan melaksanakan shalat tarawih dan kebanyakan melaksanakannya di rumah masing-masing.

Hal ini menandakan bahwa wacana keagamaan sangat memberikan efek kepada masyarakat baik langsung ataupun tidak langsung. Keadaan makin dipertajam ketika diketahui bahwa Malaysia yang letak geografisnya berdekatan dengan Indonesia dan Arab Saudi menetapkan tanggal 30 Agustus sebagai jatuhnya 1 Syawal. Menurut berita Rakyat Merdeka online hanya empat negara yang menetapkan 1 syawal jatuh pada tanggal 31 Agustus yaitu Indonesia, Selandia Baru, Oman dan Afrika Selatan.

Melihat fenomena yang berkembang tersebut, sekurang- kurangnya ada tiga pengamalan yang dilakukan oleh masyarakat. Pertama mengikuti apa yang ditetapkan oleh Pemerintah bahwa 1 Syawal 1432 H jatuh pada tanggal 31 Agustus 2011. Pengamalan ini didasari dengan metode rukyatul hilal, yang mana pada tanggal 29 Agustus yang lalu, posisi hilal tidak mungkin untuk dilihat meski dengan alat canggih sekalipun. Opsi ini menegaskan bahwa metode hisab dan metode ru`yah dilakukan dengan memprioritaskan ru`yah.

Hisab dilakukan sebelum ru`yah dan mengesampingkan metode hisab ketika hilal belum dapat dirukyah (dilihat). Sehingga puasa tetap dilaksanakan pada tanggal 30 Agustus sebagai konsekwensi istikmal (menggenapkan 30 Ramadhan karena hilal belum terlihat) dan malam takbiran dilaksanakan pada malam 30 Agustus serta sholat Ied dilaksanakan pada tanggal 31 Agustus 2011. Argumen orang yang mengikuti pemerintah ini ditambahkan bahwa patuh kepada ulil Amri (pemerintah) merupakan kewajiban bagi seluruh rakyatnya. Dalilnya dari Al- Quran Ati`u Allaha wa ati`u al- Rasul wa Uli Al- Amri minkum (taatilah Allah dan taati Rasul dan Ulil Amri).

Kedua, adalah Muhammadiyah yang telah jauh-jauh hari menetapkan bahwa 1 Syawal 1432 H jatuh pada tanggal 30 Agustus 2011 melalui keputusan Majlis Tarjihnya. Pengamalan ini dilakukan dengan menggunakan metode Hisab karena posisi hilal diyakini telah wujud walaupun penganut metode ini sangat meyakini bahwa posisi hilal tidak mungkin untuk dilihat. Istilah ru`yah bukan hanya sebatas melihat dengan mata (ru`yah bil `aini) tapi ru`yah dapat diartikan dengan melihat dengan ilmu pengetahuan (ru`yah bil `ilmi). Sehingga wujudul hilal sudah menjadi patokan untuk menetapkan Syawal walaupun belum terlihat dengan mata (ru`yah bil `aini).

Opsi ini menegaskan bahwa pada tanggal 29 Agustus mereka melakukan takbiran dan pada tanggal 30 Agustus tidak berpuasa lagi melainkan melaksanakan sholat ied sebagai tanda masuknya 1 Syawal. Patuh kepada ulil Amri dikesampingkan dengan pernyataan bahwa masalah ibadah adalah masalah personal menyangkut dengan pahala dan dosa yang akan dipertanggungjawabkan di akhirat secara personal dan bukan secara kolektif kenegaraan. Dalilnyapun dari Al-Qur`an Laa Taziru waziratu wizra ukhra tidak ada dosa titipan.

Letak Perbedaan

Hisab adalah metode hitung terhadap peredaran bulan/hilal sedangkan ru`yah metode melihat hilal itu sendiri. Antara Hisab dan Ru`yah sama-sama mempunyai dalil yang sangat kuat karena keduanya menggunakan dalil yang sama namun interpretasi berbeda. Kedua metode ini dapat disejajarkan penggunaannya jika antara metode hisab dan ru`yah mempunyai hasil yang sama. Permasalahan akan terjadi jika antara metode hisab dan metode ru`yah mempunyai hasil yang berbeda.

Pada saat itu terjadilah pemisahan antara Hisab dan ru`yah sehingga muncullah perbedaan antara penganut dua metode tersebut walaupun dua kelompok di atas sama- sama mengklaim bahwa mereka telah menggunakan kedua metode itu dengan defenisinya yang berbeda. Pada malam sidang Itsbat tanggal 29 Agustus di Kementerian Agama, mereka sepakat bahwa hilal sudah wujud namun belum bisa terlihat karena belum mencapai derajat standar yang mencukupi untuk dilihat (tidak imkanu ru`yat) walaupun standarisasi derajat tinggi hilal juga tidak berdasarkan dalil syar`i. Perbedaan muncul ketika penganut sistem ru`yah tetap bersikukuh bahwa posisi hilal harus bisa terlihat walaupun mereka mengakui hilal sudah wujud.

Sedangkan penganut hisab, juga bersikap sebaliknya, yang penting sudah ada hilal walaupun mereka mengakui bahwa hilal belum terlihat. Penganut ru`yah berpendapat bahwa teks Hadist “jika langit mendung” maka lakukan istikmal dengan menggenapkan 30 hari. Sedangkan penganut hisab berpendapat bahwa dengan hisab mendung itu sendiri tidak lagi menjadi masalah karena metode Hisab sudah dapat mengetahui hilal sudah ada atau belum ada walaupun langit itu mendung. Oleh sebab itu dua perbedaan ini tidak akan bisa dipersatukan selamanya jika tidak ada yang mau mengalah. Dan menanggapi tulisan sebelumnya dengan judul Idul Fitri yang terkoyak yang ditulis oleh Ahmad Supardi pada koran ini beberapa waktu lalu, tidaklah mungkin jika memberikan solusi dengan kompromi bahwa tahun ini menggunakan hisab dan pada tahun depan menggunakan metode rukyah dan begitu seterusnya karena bisa saja pada suatu tahun antara hisab dan ru`yah bisa mempunyai hasil yang sama.

Ketiga, mereka yang mengambil setengah- setengah dengan mangakomodir “hasil” dari kedua metode ini. Yaitu tidak melaksanakan puasa atau hanya puasa setengah hari saja pada tanggal 30 Agustus, dan tetap melaksanakan sholat ied pada tanggal 31 Agustus. Semula ada yang menganggap bahwa amalan ini merupakan suatu yang olok- olok dan mempermainkan ibadah yang berdampak pada hilangnya kesakralan ramadhan dan syawal. Ternyata amalan ini juga berdasarkan pada hadist Rasulullah SAW yang termaktub dalam “Kitab Nailul Awthar, Imam Syaukani Jilid 3 Halaman 389 Bab Hukum Hilal Jika Keadaan Mendung Kemudian Diketahui Hilal Tersebut Pada Siang Hari esoknya”. Dengan pertimbangan bahwa tetap mengakui hilal sudah ada pada tanggal 29 Agustus karna sudah wujudul hilal (mengakomodir opsi kedua), dan 1 Syawal jatuh pada tanggal 30 Agustus namun sholat ied dilaksanakan pada tanggal 2 Syawal yaitu 31 Agustus secara kasat mata akan mengakomodir opsi pertama yaitu keputusan pemerintah. Arti hadist tersebut : Dari Umair bin Anas RA : Telah terlindung hilal syawal bagi kami, maka kami berpuasa pagi harinya. Maka datang beberapa pengendara pada tengah hari dan mereka bersaksi kepada Rasulullah SAW bahwa mereka telah melihat hilal tadi malam. Maka Rasulullah memerintahkan manusia (sahabat-sahabatnya) untuk berbuka pada hari itu dan keluar untuk sholat id pada keesokan harinya (2 Syawal). (Diriwayatkan oleh Perawi yang lima kecuali Imam Turmudzi).Hadist ini menjadi dalil bagi yang berpendapat bahwa sholat ied boleh dilakukan pada hari kedua Syawal jika tidak jelas hilal dan waktu sholat ied telah habis pada hari pertama (1 Syawal). Dan menjadi dalil secara mutlak kebolehan untuk melaksanakan sholat ied pada 2 Syawal karena rombongan pengendara tersebut telah mengetahui (tanpa ragu-ragu) pada saat itu sudah 1 syawal dan Nabi juga mengajak mereka untuk melaksanakan sholat ied pada hari 2 syawal. Hadist ini bisa menjadi “solusi sementara” karena dapat mengakomodir dua perbedaan tersebut. Karena yang menjadi ketetapan 1 Syawal pemerintah adalah berjama`ah untuk sholat ied pada 31 Agustus.

Akhirnya ada kesesuaian antara dua paham di atas untuk bersatu melaksanakan sholat ied di waktu yang bersamaan. Dan perlu ditegaskan bahwa yang memperbesar perselisihan adalah perbedaan melaksanakan sholat ied dan bukan pada perbedaan tetap melakukan puasa. Karena masyarakat kita memberikan perhatian lebih kepada bersama-sama melakukan shalat ied dan kemudian berlebaran daripada bersama-sama melakukan puasa. Yang tidak melakukan puasa harus menjaga keadaan tetap kondusif untuk menghormati orang yang masih berpuasa pada tanggal 30 Agustus. Dengan kata lain kelompok yang mengutamakan metode hisab hendaknya tetap melakukan sholat Ied pada tanggal 31 Agustus (2 Syawal) bersamaan dengan tanggal yang ditetapkan pemerintah supaya terjadi rasa kebersamaan dan persatuan antara umat walaupun mereka tidak berpuasa lagi pada tanggal 30 Agustus.

Sidang Itsbat yang lambat usainya ketika terjadi perbedaan antara hisab dan ru`yah tentu dapat meresahkan masyarakat apalagi tanggal 30 agustus kemaren adalah penanggalan merah yaitu hari libur dan masyarakat banyak mengira bahwa tanggal 30 Agustus telah jatuh 1 Syawal sehingga persiapan menghadapi 1 Syawal tersebut telah dilakukan dan costnya cukup tinggi. Perlu difikirkan untuk menggelar hasil sidang itsbat tersebut dalam waktu yang tidak lama ketika terjadi perbedaan sehingga waktu maghrib sudah diumumkan. Dan harus ada solusi yang tepat dan tetap untuk menghidari perbedaan. Setidaknya ada dua usul untuk menjawab permasalahan ini.

Pertama, Pemerintah perlu kembali urun rembuk bersama MUI dan ormas Agama agar menyepakati metode yang dipilih ketika terjadi perbedaan maupun ketika tidak terjadi perbedaan antara hisab dan ru`yah. Kedua, Pemerintah mengambil jalan tegas bahwa penentuan awal bulan hijriyah adalah domain pemerintah dengan produk hukum yang mengikat dan mewajibkan bagi seluruh warga Negara untuk mengikutinya.

Kedua usul itu besar kemungkinan akan menempuh jalan panjang dan berliku dan saat itulah kita membutuhkan solusi sementara seperti opsi yang ketiga di atas untuk menghindari perbedaan di tengah masyarakat sehingga kita bisa melaksanakan sholat idul fitri berjama`ah pada waktu yang sama dan saling bermaaf-maafan untuk memperat silatuhim dan persatuan umatpun akan terwujud. Allahu a`lam.

Penulis adalah wakil sekretaris PW IPHI Riau dan Praktisi Sosial Keagamaan.

Pekanbaru, 16 September 2011

FAQ
Back to Top Halaman ini diproses dalam waktu : 0.060680 detik
Diakses dari alamat : 103.7.12.72
Jumlah pengunjung: 1102936
Lihat versi mobile
Best Viewed with Mozilla Firefox 1280X768
© Copyright 2013 Pusat Informasi dan Humas Kementerian Agama. All Rights Reserved.