Kamis, 16 September 2010, 11:00
PERANAN ASBABUN NUZUL DALAM MEMAHAMI AL-QUR’AN

Oleh : Drs. H. Ahmad Supardi Hasibuan, MA.

PENDAHULUAN

Al-Qur’an adalah merupakan kalamullah (firman Allah) yang mengandung mukjizat, yang diturunkan kepada Nabi dan Rasul terakhir, dengan perantaraan Al-Amin Jibril as. Yang tertulis dalam mushaf, yang disampaikan kepada kita secara mutawatir yang dianggap sebagai ibadah membacanya, yang dimulai dengan surat Al-Fatihah dan ditutup dengan surat An-Nas. Al-Qur’an sebagaimana dimaksud dalam definisi tersebut adalah merupakan pedoman utama ummat Islam dalam hidup dan kehidupannya sehari-hari baik dalam hal ibadah maupun dalam hal mu’amalah. Untuk itu maka Al-Qur’an perlu dikaji, dipelajari dan dihayati sehingga isi kandungan Al-Qur’an tersebut dapat dipedomani dan dilaksanakan serta dapat dijadikan petunjuk bagi ummat manusia dalam hidup dan kehidupan sehar-hari.

Mengingat bahwa Al-Qur’an adalah merupakan firman Allah SWT maka tidak seorangpun yang dapat memahaminya secara utuh dan benar sebagaimana yang dimaksud oleh Allah SWT, keculai Nabi Muhammad SAW sebab beliau yang menerima, dan beliau pula yang diperintahkan untuk menyampaiklannya kepada ummat manusia. Dan apabila beliau kurang memahami Al-Qur’an yang diturunkan kepadaNya maka beliau secara langsung dapat meminta penjelasan kepada Malaikat Jibril as. Berbeda halnya dengan kita yang tidak dapat lagi meminta penjelasan secara langsung kepada Nabi Muhammad SAW apalagi kepada Malaikat Jibril.

Untuk itu maka diperlukan ilmu-ilmu bantu yang berkaitan dengan Al-Qur’an seperti penguasaan terhadap Bahasa dan Sastra Arab, Ilmu Nahwu, Ilmu Sharaf, Ilmu Mantihiq, Ilmu Balaghah, Kondisi sosiologis tempat turunnya Al-Qur’an, Ilmu Ushul Fiqh apabila hal itu berkaitan dengan bidang hukum, Pengetahuan tentang Asbabun Nuzul dan lain-lain sebagainya. Dalam kaitan dengan pembahasan makalah ini maka yang akan dibicarakan secara panjang lebar adalah tentang Asbabun Nuzul kaitannya dengan memahami isi kandingan Al-Qur’an, sebab Asbabun Nuzul sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Taimiyah, “mengetahui alasan (sabab) penurunan membantu dalam memahami ayat, karena pengetahuan tentang sebab (sabab) menghasilkan pengetahuan tentang efek (musabbab)

PENGERTIAN ASBABUN NUZUL

Asbabun Nuzul secara bahasa berarti sebab turunnya ayat-ayat Al-Qur’an. Sebagaimana diketahui bahwa Al-Qur’an diturunkan Allah SWT selama masa 22 tahun 2 bulan dan 22 hari atau lebih kurang 23 tahun. Al-Qur’an diturunkan oleh Allah SWT pada dasarnya adalah untuk memperbaiki aqidah, ibadah, akhlak dan pergaulan manusia yang telah menyimpang dari rel kebenaran. Oleh karena itu secara bahasa sebenarnya penyebab turunnya Al-Qur’an adalah karena kerusakan dan penyimpangan aqidah, ibadah, akhlak dan tata pergaulan ummat manusia. Namun demikian bukanlah ini yang dimaksud dalam pembahasan makalah ini, sebab ini adalah sifatnya umum.Adapun pengertian Asbabun Nuzul secara Ishtilahi sebagaimana disebutkan oleh Shubhi Al-Shalih dalam bukunya Mabahits Fi ‘Ulumil Qur’an adalah sesuatu yang dengan sebabnya turun suatu ayat atau beberapa ayat yang mengandung sebab itu, atau memberi jawaban terhadap sebab itu, atau menerangkan hukumnya pada masa terjadinya sebab tersebut.

Definisi yang dikemukakan oleh Shubhis Shalih tersebut memberikan pengertian bahwa sebab turun ayat adakalanya berbentuk peristiwa dan adakalanya berbentuk pertanyaan. Oleh karena itulah maka setiap turun suatu ayat atau beberapa ayat, hal itu adalah untuk menerangkan hal-hal yang berhubungan dengan peristiwa atau sebagai jawaban atas suatu pertanyaan yang diajukan kepada Nabi Muhammad SAW. Namun demikian tidak semua ayat Al-Qur’an itu turun dengan adanya Asbabun Nuzul, sebab banyak juga ayat-ayat Al-Qur’an yang turun tanpa sebab dan bahkan banyak ayat-ayat yang berkaitan dengan keimanan, kewajiban, syari’at agama dan kissah para Nabi dan Rasul terdahulu turun tanpa sebab.

Memang harus diakui bahwa ada sebagian sahabat seperti Ali Ibn Abi Thalib, Ibn Mas’ud dan lainnya yang menyatakan bahwa tidak suatu ayatpun diturunkan kecuali salah seorang mereka mengetahui tentang apa ayat itu diturunkan, tentang siapa ayat itu diturunkan, dan dimana ayat itu diturunkan. Pernyataan ini tidak perlu ditanggapi secara leterlek sebab merupakan suatu hal yang masuk akal bahwa tidak semua Asbabun Nuzul ayat Al-Qur’an itu mereka saksikan. Untuk itu pernyataan mereka itu harus dipahami melalui beberapa kemungkinan, yaitu :

1. Mereka bermaksud mengungkapkan betapa kuatnya perhatian mereka terhadap Al-Qur’an dan mengikuti setiap keadaan yang berhubungan dengannya.2. Mereka berbaik sangka dengan segala apa yang mereka dengar dan saksikan pada masa Rasul dan menginginkan agar orang mengambil apa yang mereka ketahui itu sehingga tidak akan lenyap dengan berakhirnya hidup mereka.3. Para periwayat menambah dalam periwayatannya dan membangsakannya kepada sahabat.

Drs. H. Ramli Abdul Wahid, MA dalam bukunya Ulumul Qur’an menyebutkan bahwa sebab-sebab turun ayat yang berhubungan dengan peristiwa ada tiga macam dan yang berhubungan dengan pertanyaan juga ada tiga macam.Adapun sebab-sebab turun ayat yang berhubungan dengan pertanyaan adalah sebagai berikut :

1. Peristiwa berupa pertengkaran, seperti perselisihan yang berkecamuk antara segolongan dari suku Aus dan segolongan dari suku Khazraj. Perselisihan itu timbul dari intrik-intrik yang ditiupkan orang-orang Yahudi sehingga mereka berteriak-teriak : “Senjata, senjata”, maka turunlah Al-Qur’an Surat Ali Imran ayat 100.2. Peristiwa berupa kesalahan yang serius, seperti peristiwa seorang yang mengimami sholat sedang mabuk sehingga tersalah membaca surah Al-Kafirun, sehingga turunlah Al-Qur’an surat Al-Nisa’ ayat 42.3. Peristiwa itu berupa cita-cita dan keinginan, seperti persesuaian-persesuaian (muwafaqat) Umar Ibn Al-Khaththab dengan ketentuan ayat-ayat Al-Qur’an. Dalam sejarah, ada beberapa harapan Umar yang dikemukakannya kepada Nabi Muhammad SAW, kemudian turunlah ayat yang sesuai dengan harapan-harapan Umar tersebut. Sebagai contoh adalah keinginan Umar Ibn Khaththab untuk menjadikan Makam Ibrahim sebagai tempat shalat, maka turunlah ayat yang memerintahkan untuk melaksanakan sholat di Makam Ibrahim.

Adapun sebab-sebab turun ayat yang berkaitan dalam bentuk pertanyaan adalah terbagi tiga macam, yaitu :

1. Pertanyaan yang berhubungan dengan sesuatu yang telah lalu, seperti ayat pertanyaan tentang Zul Karnain, “Mereka bertanya kepadamu tentang Zul Karnain”.2. Pertanyaan yang berhubungan dengan sesuatu yang sedang berlangsung pada waktu itu, seperti pertanyaan tentang ruh, “Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh, katakanlah bahwa urusan ruh itu adalah urusan Tuhanku, dan kamu tidak diberi ilmu kecuali yang sedikit”.3. Pertaanyaan yang berhubunagn dengan masa yang akan datang, seperti pertanyaan tentang kapan terjadinya Hari Kiamat, “Mereka bertanya kepadamu tentang Hari Kiamat, Bila terjadinya ?”.

UNGKAPAN-UNGKAPAN ASBABUN NUZUL

Para sahabat dalam menyampaikan sebab-sebab turunnya ayat memiliki ungkapan-ungkapan yang berbeda-beda antara satu sama yang lain. Ungkapan-ungkapan itu dapat dikelompokkan sebagai berikut :

1. Sebab-sebab nuzul ayat diungkapkan secara jelas seperti dengan ungkapan “Sebab turun ayat ini adalah demikian”. Ungkapan ini sangat jelas, definitif dan pasti serta tidak mengandung makna lain.

2. Sebab nuzul tidak ditunjukkan dengan lafal sebab, tetapi dengan mendatangkan lafal “fa” yang masuk kepada ayat dimaksud secara langsung setelah pemaparan satu peristiwa atau kejadian.Ungkapan seperti ini juga menunjukkan bahwa peristiwa itu adalah sebab bagi turunnya ayat tersebut. Hal ini sebagaimana dapat dilihat dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah (2) ayat 223.

3. Sebab nuzul dapat dipahami secara pasti dari konteksnya. Dalam hal ini Rasul ditanya orang, maka ia diberi wahyu dan menjawab pertanyaan itu dengan ayat yang baru diterimanya. Para mufassir tidak menunjukkan sebab turunnya dengan lafal Asbabun Nuzul dan tidak dengan mendatangkan “fa”, akan tetapi Asbabun Nuzulnya dipahami melalui konteks dan jalan ceritanya, seperti sebab turunnya ayat tentang ruh.

4. Sebab nuzul tidak disebutkan dengan ungkapan sebab secara jelas, tidak dengan mendatangkan “fa” yang menunjukkan sebab, dan tidak pula merupakan jawaban yang dibangun atas dasar pertanyaan, namun ungkapan itu mengandung makna sebab dan makna lainnya, yaitu tentang hukum kasus atau persoalan yang sedang dihadapi. Apabila hal ini yang terjadi maka para ulama tafsir berbeda pendapat, ada yang menyatakan bahwa yang diambil adalah mengenai hukum ini bukan mengenai sebab turun ayat ini, hal ini sebagaimana dikemukan oleh Al-Zarkasyi. Namun menurut Al-Zarqani, satu-satunya jalan untuk menentukan salah satu dari dua makna yang terkandung dalam ungkapan itu adalah konteks pembicaraannya. Dan nampaknya pendapat Al-Zarqani ini adalah merupakan jalan tengah atas dua kutub perbedaan pendapat dalam masalah ini.

PERANAN ASBABUN NUZUL

Untuk memahami Al-Qur’an sehingga dapat dijadikan sebagai pedoman dan petunjuk dalam hidup dan kehidupan sehari-hari sangatlah diperlukan pengetahuan tentang Asbabun Nuzul sebab dengan mengetahui Asbabun Nuzul kita dapat memahami makna yang terkandung secara utuh dari ayat suci Al-Qur’an itu. Al-Qur’an memang adalah merupakan kalamullah dan dia sudah ada sebelum peristiwa, kejadian atau pertanyaan ada, namun fakta menunjukkan bahwa setiap ayat suci Al-Qur’an turun maka hal itu tidak terlepas dari situasi dan kondisi saat itu, baik itu berupa peristiwa maupun berupa pertanyaan yang dialamatkan kepada Nabi Muhammad SAW.

Untuk meyakinkan kita betapa pentingnya pengetahuan tentang asbabun nuzul ini para ulama mufassirin telah banyak menulis buku-buku tentang Asbabun Nuzul dan menekankan betapa pentingnya pengetahuan tentang Asbabun Nuzul dalam rangka untuk memahami Al-Qur’an secara utuh dan benar. Mereka itu antara lain adalah Al-Wahidi berkata : “Tidak mungkin kita mengetahui penafsiran ayat Al-Qur’an tanpa mengetahui kisahnya dan sebab turunnya”. Hal yang sama dikemukakan oleh Ibn Daqiq Al-‘id berkata : “Menjelaskan sebab turun ayat adalah jalan yang kuat dalam memahami makna Al-Qur’an”. Sementara itu Ibnu Taimiyah berkomentar : “mengetahui alasan (sabab) penurunan membantu dalam memahami ayat karena pengetahuan tentang sebab (sabab) menghasilkan pengetahuan tentang yang disebabkan (akibat).

Komentar mereka ini memang dapat dimaklumi sebab Asbabun Nuzullah yang dapat menjelaskan siapa pelaku sejarah turunnya ayat, bagaimana rentetan kejadiannya, dan seterusnya. Alhasil dengan memahami Asbabun Nuzul, kita mengetahui aspek historis penafsiran Al-Qur’an.

Adapun kegunaan yang diperoleh dalam mengetahui Asbabun Nuzul dalam kaitannya dengan memahami makna daripada ayat-ayat suci Al-Qur’an antara lain adalah sebagai berikut :

1. Mengetahui hikmah (rahasia) dan tujuan Allah secara khusus dalam mensyari’atkan agamaNya yang terkandung di balik ayat-ayat yang mempersoalkan syari’at (hukum). Misalnya kita dapat memahami lewat pengetahuan Asbabun Nuzul kenapa judi, riba, memakan harta anak yatim itu diharamkan. Sebaliknya bagaimana Allah mula-mula mensyari’atkan sholat Khouf (sholat yang dilakukan waktu situasi gawat/perang), kenapa tidak boleh melakukan sholat jenazah atas orang musyrik, bagaimana pembagian harta rampasan perang, dan sebagainya. Hampir semua aspek hukum itu mengandung aspek filosofis yang sebagian di antara dapat diketahui lewat pengertian tentang Asbabun Nuzul.

2. Mengetahui pengecualian hukum (takhshish) terhadap orang yang berpendirian bahwa hukum itu harus dilihat terlebih dahulu dari sebab-sebab yang khusus.

3. Mengetahui Asbabun Nuzul adalah cara yang paling kuat dan paling baik dalam memahami pengertian ayat, sehingga para sahabat yang paling mengetahui tentang sebab-sebab turunnya ayat lebih didahulukan pendapatnya tentang pengertian dari satu ayat, dibandingkan dengan pendapat sahabat yang tidak mengetahui tentang sebab-sebab turunnya ayat.

4. Pengetahuan tentang Asbabun Nuzul membantu dalam memahami ayat dan menghindarkan kesulitannya, sebagai contoh adalah dalam memahami ayat Al-Qur’an : “Dan bagi Allah timur dan barat maka kemana sajapun kamu menghadap maka di sana wajah Allah, sesungguhnya Allah Maha Luas dan Maha Mengetahui”. Ayat ini sepintas kilas membicarakan bolehnya orang melaksanaka sholat dengan mengahadap kemana saja yang ia sukai, padahal ayat ini berbicara untuk orang yang mengerjakan sholat sunnat dalam suasana musafir dimana ia tidak mengetahui arah kiblat secara pasti atau orang yang sholat dengan ijtihadnya dimana dia juga tidak mengetahui arah kiblat secara pasti. Dalam suasana yang seperti ini maka orang sah melaksanakan sholat menghadap kemana saja.

5. Pengetahuan tentang Asbabun Nuzul dapat menolak dugaan adanya hashr (pembatasan) dalam ayat yang menurut lahirnya mengandung hashr (pembatasan), tetapi sebetulnya bukanlah pembatasan, sebagai contoh adalah Al-Qur’an Surat Al-An’am ayat 145 dalam hal makanan yang diharamkan.

6. Pengetahuan tentang Asbabun Nuzul dapat mengkhususkan (takhshish) hukum pada sebab menurut ulama yang memandang bahwa yang mesti diperhatikan adalah kekhususan sebab dan bukan keumuman lafal. Hal ini sebagaimana pada ayat-ayat tentang zhihar (suami menyerupakan istrinya dengan ibunya, seperti ia berkata pada istrinya, “Punggungmu seperti punggung ibuku) yang terdapat pada permulaan Surat Al-Mujadalah, dimana sebab turunnya adalah Aus Bin Shamit yang menzhihar istrinya Khaulah Binti Hakam Ibn Tsa’labah. Menurut pandangan ini, hukum yang berlaku pada ayat ini khusus untuk kasus ini. Dan adapun hukum yang berlaku bagi selainnya dapat diketahui pada dalil-dalil yang lain.

7. Dengan mempelajari Asbabun Nuzul diketahui pula bahwa sebab turun ayat tidak pernah keluar dari hukum yang terkandung dalam ayat tersebut sekalipun datang mukhashshishnya (yang mengkhususkannya). Hal ini didasarkan atas Ijma’ yang menyatakan bahwa hukum sebab tetap selama-lamanya.

8. Dengan Asbabun Nuzul diketahui orang ayat tertentu yang turun padanya secara tepat sehingga tidak terjadi kesamaran, sebab kesamaran bisa membawa kepada penuduhan terhadap orang yang tidak bersalah dan pembebasan bagi orang yang bersalah.

9. Pengetahuan tentang Asbabun Nuzul akan mempermudah orang menghafal ayat-ayat Al-Qur’an serta memperkuat keberadaan wahyu dalam ingatan orang yang mendengarnya jika ia mengetahui sebab turunnya, sebab pertalian antara sebab dan musabbab, hukum dan peristiwanya, peristiwa dan pelaku, masa dan tempatnya, semua ini merupakan faktor-faktor yang menyebabkan mantapnya dan terlukisnya sesuatu dalam ingatan.Dari kesembilan manfaat yang diperoleh dalam pentingnya memahami Asbabun Nuzul tersebut di atas kesemuanya adalah memiliki hubungan yang erat dengan kepentingan menafsirkan Al-Qur’an dan mengistimbatkan hukum daripadanya, kecuali hanya nomor sembilan yang adalah merupakan pelengkap saja, namun demikian tetap memagang peranan yang cukup penting bagi seorang yang ingin menadalami dan memahami isi kandungan Al-Qur’an.

KESIMPULAN

Atas dasar pembahasan hal-hal tersebut di atas, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

1. Asbabun Nuzul adalah satu bidang ilmu pengetahuan yang membeicarakan tentang sebab-sebab turun suatu ayat atau beberapa ayat yang mengandung sebab itu, atau memberi jawaban terhadap sebab itu, atau menerangkan hukumnya pada masa terjadinya sebab tersebut.

2. Ilmu Asbabun Nuzul memagang peranan yang sangat penting dalam memahami Al-Qur’an secara utuh dan benar, sehingga merupakan persyaratan yang sangat penting bagi seorang yang ingin menafsirkan Al-Qur’an.***

FAQ
Back to Top Halaman ini diproses dalam waktu : 0.106642 detik
Diakses dari alamat : 10.1.7.64
Jumlah pengunjung: 1152497
Lihat versi mobile
Best Viewed with Mozilla Firefox 1280X768
© Copyright 2013 Pusat Informasi dan Humas Kementerian Agama. All Rights Reserved.