H. Mukhlis, S.HI Paparkan Materi Manasik Tentang Melestarikan Haji Yang Mabrur

Ditulis Oleh riausiak Senin, 24 Juni 2019, 23:22

Siak (Inmas) – Senin, (24/06/19), Haji adalah kewajiban sekali dalam seumur hidup bagi kaum Muslimin yang mampu. Haji bertujuan melatih jiwa untuk semakin dekat dengan Sang Khalik dan merasakan kesamaan derajat di hadapan-Nya. Akan tetapi, tidak sedikit orang yang berangkat haji dengan tujuan berbeda-beda. Ada yang tujuannya (niat) untuk berwisata, berdagang, ria dan sum'ah, dan untuk meminta-minta (HR Ibnu Jauzy). Sehingga, mereka memperoleh balasan sesuai dengan apa yang menjadi tujuannya (HR Bukhari dan Muslim). Hal tersebut disampaikan oleh H. Mukhlis, S.HI saat memberikan materi dalam Manasik haji Mandiri kepada 56 Calon Jamaah Haji (CJH) dari Rayon II (Kecamatan Sungai Apit, Pusako dan Sabak Auh) di Masjid Agung Amirul Mukminin, Kelurahan Sungai Apit, Kecamatan Sungai Apit.

Mantan Kepala Kankemenag Siak Periode III Tahun 2011-2013 ini menjelaskan bagi jamaah haji yang berhajinya atas dasar keimanan dan keikhlasan semata karena Allah, tidak berbuat rafats, tidak berbuat fusuq, dan tidak melakukan jidal selama berhaji (QS al-Baqarah [2]: 197), niscaya mereka meraih haji mabrur yang balasannya adalah surga (HR Bukhari dan Muslim).

“Mabrur merupakan predikat tertinggi dalam pelaksanaan ibadah haji dan tidak mudah mencapai predikat mabrur. Jika predikat mabrur telah berhasil digapai sekalipun, tidak otomatis akan me lekat sepanjang hayat dalam diri sang haji dan hajjah. Maka itu, sepulang dari Tanah Suci jamaah haji hendaknya selalu berupaya melestarikan kemabruran ibadah haji. Berkaitan dengan hal ini, Kementerian Agama RI telah menerbitkan buku Panduan Pelestarian Haji Mabrur yang dibagikan kepada setiap jamaah haji,” ujarnya.

Mukhlis melanjutkan, ada tiga aspek upaya dalam pelestarian kemabruran haji. Pertama, aspek kepribadian. Setiap jamaah haji hendaknya terus berupaya melestarikan amalan yang telah dijalankan selama di Tanah Suci, seperti shalat tepat waktu, melaksanakan ibadah-ibadah sunah, berhias dengan sifat-sifat terpuji, cepat melakukan tobat apabila telanjur melakukan kesalahan, dan ibadahibadah lainnya.

Kedua, aspek ubudiyah. Setiap jamaah haji hendaknya terus berupaya untuk meningkatkan kualitas ibadah shalat, puasa sunah, tilawah Alquran, kepedulian terhadap orang lemah ekonomi melalui zakat; infak; dan sedekah, dan lain sebagainya. Ketiga, aspek sosial. Setiap jamaah haji harus membiasakan diri shalat berjamaah, menyantuni anak yatim, menjenguk orang sakit dan meninggal dunia, kerja bakti dan tolong-menolong, serta mendamaikan orang yang berselisih. (Hd)

kembali ke daftar berita

Berita Lainnya