Peran orang tua sangat menentukan pembentukan generasi berkualitas

Ditulis Oleh riaurohil Jum'at, 02 November 2018, 13:52

Rokan Hilir (inmas)- Diantara tujuan perkawinan adalah untuk memperoleh keturunan. Dalam perjalanannya, keturunan yang ada harus dibimbing agar menjadi generasi yang berkualitas.

"Pernikahan yang akan anda jalani salah satunya untuk menyiapkan generasi penerus yang berkualitas. Agar pernikahan menghasilkan generasi yang berkualitas ada enam faktor penentu yakni agama (moral), fisik, kognitif (pengetahuan), bahasa (komunikasi), sosial-emosional (mampu beradaptasi), dan seni".

Hal ini disampaikan oleh H. Mukhlis, S.Ag, Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kec. Simpang Kanan saat menjadi narasumber pada hari kedua kegiatan bimbingan perkawinan bagi calon pengantin dari tiga Kecamatan, yakni Kec. Bangko, Kec. Batu Hampar dan Kec. Sinaboi, hari ini, Kamis (1/11/2018) di lantai 2 Kantor Kemenag Rokan Hilir.

Pada kesempatan itu H. Mukhlis menyampaikan materi bimbingannya tentang menyiapkan generasi berkualitas. Orang tua sangat berperan dalam membentuk generasi penerus yang berkualitas. Orang tua harus menanamkan dasar agama kepada anak. Oleh karena itu, harus diawali dari orang tua sebagai suri tauladan yang baik.

"Berikan keteladanan kepada anak-anak, ajari mereka ilmu agama, tanamkan sebagai pondasi. Orang tua juga harus berwawasan luas, menjaga komunikasi dengan baik, serta berjiwa seni, tidak cemberut," jelasnya.

Pernikahan bukan sekedar hubungan antara suami dan istri, namun melibatkan keluarga besar suami dan keluarga besar istri. Untuk itu, pasangan suami istri harus mampu beradaptasi dengan keluarga pasangan.

Orang tua mempunyai tanggung jawab akan perawatan, pengasuhan, perlindungan, dan pendidikan anak. Dalam mengasuh anak, harus mengadopsi pola asuh demokratis.

"Pola asuh demokratis lebih baik dibanding pola asuh yang membolehkan segalanya (pola permisif) atau melarang segalanya (pola otoriter). Dalam pola asuh demokratis, orang tua bersikap hangat kepada anak, mampu memahami perasaan anak tetapi memiliki batasan yang jelas, apa yang boleh dan apa yang tidak boleh," jabarnya.

Dengan pola asuh demokratis, anak akan percaya diri, mandiri, dapat mengendalikan diri, dan bertanggung jawab. Sedangkan pola asuh otoriter akan membentuk anak yang tertekan, tidak percaya diri. Pola asuh permisif akan membentuk anak yang suka memaksakan kehendak dan kurang bertanggung jawab.

Kegiatan bimbingan perkawinan di Kantor Kemenag Rohil telah dilaksanakan sejak hari Rabu (31/10) kemarin. Kegiatan dilaksanakan selama dua hari dengan narasumber antara lain Kepala Kankemenag, Kepala KUA, BP4, dan Penyuluh Agama Islam. Kegiatan diikuti oleh 30 pasang calon pengantin. (Nsh)

kembali ke daftar berita

Berita Lainnya