Masnur : Jauhi Maksiat Agar Terhindar dari Bencana dan Murka Allah

Ditulis Oleh aguskampar Jum'at, 12 Oktober 2018, 16:11

Kampar (Inmas) – Jauhi berbuat maksiat, agar kita terhindar dari bencana dan murka Allah Swt. Demikian salah satu poin yang disampaikan Abuya Masnur MH dalam tausiyah pagi jum’at (12/10/2018) di Musholla Miftahul Ilmi Kantor Kementerian Agama Kab. Kampar.

Masnur mengatakan, Berbagai bencana dan musibah yang terjadi selama ini dalam kehidupan di dunia, seperti gempa dan tsunami yang terjadi baru-baru ini, tidak terlepas dari ulah tangan manusia yang melakukan perbuatan-perbuatan yang dilarang Allah SWT sebagai pencipta alam.

Seperti yang kita ketahui bersama, saat ini maksiat sudah terang-terangan dilakukan. Mulai dari  lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT), minuman keras yang bebas diperjual belikan, dan lain sebagainya. Oleh Karenanya, agar terhindar dari bencana dan murka Allah, maka manusia sebagai hamba-Nya harus menjauhi dan berusaha mencegah berbagai kemaksiatan yang terjadi di tengah-tengah umat saat ini.

Jangan sampai Allah murka kepada kita dengan dihukum dan dilenyapkan oleh Allah seperti terjadi pada umat nabi-nabi terdahulu sebagaimana halnya umat Nabi Nuh, umat Nabi Luth, Fir'aun, Qarud, Namruz dan lainnya. Karena suatu perbuatan maksiat, itu tidak hanya berlaku bagi pelaku maksiat saja, tapi juga bagi orang baik-baik yang tidak berusaha mencegah maksiat di tengah masyarakat.

Mengapa mencegah kemaksiatan itu sangat penting? Mari kita analogikan seseorang yang mau minum minuman keras atau perbuatan mesum kita diamkan, maka seolah-olah kita mendorong dia yang sebelumnya sudah berdiri di tepi di jurang neraka. Sikap kita seharusnya menarik dia agar tidak jatuh ke neraka dengan semaksimal mungkin dengan tangan, lisan maupun hati.

Apalagi jika kita memberi fasilitas, memberi izin, dan mendiamkan dan kemaksiatan yang terjadi, itu berbahaya lagi. Karena kemaksiatan itu cepat menular. Jika dibiarkan di satu tempat, maka akan menjalar ke tempat lain karena dianggap boleh. Ketika jumlah penjahat dan orang pelaku maksiat lebih banyak, maka akan memaksa orang baik-baik untuk ikut maksiat juga, pungkas Masnur. (Ags/Usm)


kembali ke daftar berita

Berita Lainnya