ZAKAT SATU SOLUSI ATASI BAHAYA RIBA

Ditulis Oleh vera Senin, 23 September 2019, 15:14

Sebagaimana diketahui, Kepala Perwakilan Bank Dunia untuk Indonesia Rodrigo A. Chavez mengungkapkan kepada Jokowi bahwa kondisi ekonomi global saat ini sedang melemah. Dia bahkan mengakui risiko resesi pada ekonomi global meningkat.  Maka itu, dia mengimbau pemerintah untuk mewaspadai beberapa poin, termasuk situasi geopolitik saat ini. Bank Dunia menyarankan Indonesia perlu terus memonitor dan menyiapkan langkah mitigasi terjadinya resesi ekonomi global. Sebagaimana dilansir dari CNN Indonesia (2/9/2019).

Pengakuan Kepala Perwakilan Bank Dunia untuk Indonesia itu sebagai bukti bahwa dampak akhir dari sistem perekonomian Riba adalah pelemahan ekonomi menuju resesi ekonomi.

Tidak hanya itu, kebijakan politik dapat ditentukan oleh kaum kapitalis-feodalis Riba. Begitu juga kebijakan dunia pendidikan. Begitulah jika nilai Ketuhanan yang Maha Esa digeser jadi Keuangan yang Maha Kuasa.

Disamping itu, bangsa  kita terkondisikan menjadi pangsa pasar yang konsumtif dari pada produktif. Parahnya kita pun seringkali tak menyadari menjadi yang mengkonsumsi produk haram.

Itulah kenapa urgennya program wisata halal adalah akibat mulai meningkatnya kesadaran akan bahaya mengkonsumsi produk haram yang telah diproduksi dan didistribusikan Kapitalis-Feodalis opurtunis.

vendor-vendor Riba tersebut mempermainkan hasrat konsumtif kita. Kita diuji dengan pengaburan standard mana yang sekedar keinginan karena trend dan mana kebutuhan mendasar kita yang lebih urgen.

Aturan Liberalisme dan kolektivisme melalui  sistem Riba selama ini melahirkan perdagangan bebas. Sehingga menjadi bebas mengeksploitasi alam dan manusia. Akhirnya terjadilah kini perang dagang yang dapat memicu perang dunia ke 3 kelak.

Maka dari itu, tidak ada salahnya kita  mengkaji ulang secara serius perihal solusi sistem perekonomian Zakat yang diyakini sebagai satu satunya solusi untuk atasi bahaya sistem Riba.

Amat disayangkan selama ini Zakat hanya dipandang sebagai rukun Islam yang ketiga dan hanya ditunaikan setahun sekali. Padahal Rasulullah dan sahabatnya telah mencontohkan aplikasi zakat setiap hari sejak perintah itu turun.

Karena zakat kita tunaikan hanya setahun sekali, maka akibatnya setiap hari kita masih tergantung pada dominasi perekonomian Riba. Mulai dari sektor produksi dan distribusi sampai konsumsi.

Ketergantungan kita pada  kapitalis-feodalis opurtunis, otomatis meruntuhkan tatanan nilai-nilai budaya di seluruh lapisan masyarakat. Persis seperti yang dikatakan parlemen inggris: “Money is the root of all evil but we can't live without it”.

Uang adalah akar tunggang seluruh setan tetapi kita tidak dapat hidup tanpanya.

Tentu ini paradigma Riba yang menjadi simalakama.

Kenapa Hal ini  masih terus terjadi?. Tidak lain karena  kurangnya wawasan kita dalam memahami ruang lingkup Riba. Kita mengira Riba itu  sebatas money game untuk membungakan uang atau melipatgandakan uang melalui pinjaman (hutang).

Padahal tidak sebatas itu. Mengakumulasikan harta untuk kepentingan pribadi dan golongannya saja, itu sebenarnya juga Riba. Dalam sebuah hadits juga disebutkan gambaran Riba. Artinya: “Setiap investasi modal yang memperoleh keuntungan (untuk pribadi dan golongan tertentu saja) maka itu Riba”.

Itulah kenapa aturan Islam melalui zakat ditegakkan sebagai rahmat bagi seluruh alam semesta bukan hanya untuk kepentingan individuil dan golongan tertentu saja. Bilamana Zakat diterapkan sesuai al-Quran yang dipraktekkan RasulNya.

Oleh karena itu, Zakat sejatinya perlu digalakkan sebagai sistem perekonomian yang mencakup penyelenggaraan kebutuhan hidup manusia dari proses produksi, distribusi sampai konsumsi agar dapat dipastikan umat produktif dan mendistribusikan serta mengkonsumsi yg tidak sekedar halal tapi juga Thayyiban (tepat sasaran).

Tidak hanya itu, zakat juga berfungsi sebagai sistem anggaran (sadaqah) yang harus digalakkan  Sebagaimana surat Hasyar:7.

Disana jelas siapa yang berkewajiban menjadi penyelenggara zakat dan siapa yang berhak mendapat pembiayaan atas tugas mandataris dan semua yang terkait ikatan iman dengannya seperti yatim piatu, fakir miskin dan ibnu sabil; mereka yang telah menghabiskan umur sesuai yang diperintahkan Allah sehingga tidak punya waktu lagi untuk mencari nafkah guna keperluan pribadi / keluarganya.

Mereka inilah yang disebut 8 Asnaf. Sebagaimana tersurat dalam 9:60

“Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf, yang dibujuk hatinya untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berutang untuk jalan Allah, dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan hidup yang Allah ridhai, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah. Dan Allah Maha memberi tahu hukum juga Maha memberi kepastian hukum.” (Q.S. At-Taubah:60).

Jika zakat  tidak dibumikan setiap hari, otomatis Riba sebagai sistem perekonomian akan selalu mendarah daging  menciptakan ketidakadilan dan kemiskinan massal atas oligarki / aristokrasi (Penindasan manusia oleh manusia hartawan-bangsawan).

Lebih jauh  yang kaya makin kaya, yang miskin semakin miskin. Kemiskinan umat dari iman dan harta sengaja dikondisikan yahudi agar manusia mendekatkan diri pada kekufuran.

Allah menawarkan alternatif sistem perekonomian yang ia murkai dan atau ia ridhai dengan harapan manusia mau memilih yang ia ridhai. Sebagaimana tersurat dalam ar-rûm: 39. Artinya:

“Dan tidak ada nilai guna  yang kalian wujudkan dari sistem riba (sistem tambahan / akumulasi harta / renten) untuk memperoleh profit pada lalu lintas harta manusia. Sehingga riba itu tidak menambah nilai apapun pada sudut pandang Allah. Sebaliknya, tiada yang kalian  wujudkan berupa sistem zakat  sesuatu yang kalian kehendaki kecuali untuk mencapai keridhaan (wajah) Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang meraih kehidupan berganda (di dunia hasanah berujung di akhirat juga hasanah).”

Oleh karena itu, hanya orang yang menyatakan telah beriman yang dituntut Allah untuk menjauhi Riba. Sebagaimana tersurat pada surat 3:130

“ Wahai yang telah menyatakan Iman, Janganlah kalian hidup makan-minum menurut Riba satu sistem perekonomian yang demikian biadab. Maka patuhlah kalian berbuat dengan sistem perekonomian Islam (Zakat). Semoga kalian dengan aturan Islam dapat memenangkan satu kehidupan bernilai agung”.

Jadi ketika ada pihak yang berlebihan pasti akibatnya ada pihak yang masih kekurangan dalam lalu lintas harta manusia baik dari bidang produksi, distribusi, maupun konsumsi.

Kesemuanya bisa terjadi karena si manusia memposisikan dirinya sebagai subjek dan saling sikut dalam berkompetisi untuk memangsa manusia lainnya sebagai objeknya dalam struktur piramida sosial.

Hal Ini sudah menjadi potret budaya hukum rimba berabad-beabad dan berkarat.

Kata Darwin, Life is the survival of the fittest. Artinya hidup adalah bertahan bagi yang kuat dengan memangsa yang paling lemah.

Padahal Allah mengharamkan pola hidup demikian. Oleh karena  Riba juga mendorong watak manusia tetap menjadi rakus seperti tikus, serakah seperti babi, dll. Semuanya dalam mata rantai kehidupan sosial budaya seperti hewan.

Zakat bisa dijadikan solusi perekonomian dan sistem anggaran yang adil makmur, mulai dari kegiatan produksi, distribusi dan konsumsi.

Zakat dalam sistem produksi tentunya mencakup faktor-faktor pendukungnya mulai dari alam semesta, tanah, modal, manusia. Seharusnya faktor-faktor produksi itu didudukkan sebagai milik Allah.

Oleh karena Allah sebagai subjek dalam arti yang menentukan kebijakan secara mutlak. Dalam al-Quran itulah fungsi Allah sebagai wãkilun.

Diharapkan manusia mau memposisikan diri sebagai mutawak-kilûn yaitu wakil subjek yang bertindak atas nama Allah sesuai mandat tertentu.

Sehingga tidak boleh manusia menjadi subjek (wãkilun) dengan bertindak sewenang-wenang memonopoli dan mengeksploitasi alam, tanah, manusia, modal.

Karena semua itu milik Allah dan harus dikelola atas nama Allah sesuai mandat tertentu. Sebagaimana ditegaskan dalam surat nur: 42 yang secara umum disinggung pada surat 1:4.

Bahkan yang terpenting persoalan kedudukan tanah dalam surat ar-rahman:10-12 ditegaskan bahwa Allah memfungsikan bumi beserta panennya untuk seluruh mahluk. Jadi hak manusia adalah hak usaha menurut satu ketentuan yang Allah ajarkan. Tidak boleh ada pemilikan mahluk baik secara individuil maupun secara golongan / kolektif.

Itu sebabnya nabi pernah berpesan dalam sebuah hadits: “Siapa saja yang menguasai sepetak tanah hendaklah ia menggarapnya sendiri atau menyerahkannya kepada saudara seiman secara cuma-cuma karena dilarang sewa tanah, kuli tanah, juga tidak boleh bagi hasil “.

Bahkan dalam hadits yang lain lebih tegas lagi. “Jika tanah tidak mau digarap sendiri, maka rampaslah”.

Tentunya hal ini bisa berlaku jika regulasinya disepakati oleh orang-orang yang menyatakan iman kepada Allah dalam konteks syahadat. Dengan demikian zakat satu sistem prekonomian secara umum dan zakat satu sistem produksi secara khusus, tidak boleh ada pemilikan tanah tanpa digarap sendiri baik secara liberal maupun secara kolektif / komunis.

Tetapi secara keseluruhan mukmin itu kata nabi harus seperti Jasad. Apabila satu bagian organ sedang merasakan sakit, yang lain juga harus turut merasa. Sebegitu indahnya empati dan solidaritas sesama mukmin yang dicontohkan rasulullah dan sahabatnya. Berbanding terbalik dengan gambaran kehidupan di abad setelah Kejayaan Islam terampas.

Selain itu, kedudukan modal juga harus dinyatakan sebagai milik Allah. Sebagaimana ditegaskan dalam surat 9:111, bahwa sebenarnya Allah telah membeli dari kaum mukmin berupa seluruh jiwa mereka dan seluruh harta mereka dengan mana berhak atas mereka satu kehidupan model ‘Jannah'.

Kalau jiwa dan harta mukmin sudah dibeli oleh Allah berarti sudah menjadi milik Allah karena mukmin telah menyerahkan sesuai aturanNya dan harus difungsikan untuk kemashlahatan seluruh mahluknya. Tanpa mengambil keuntungan diluar kebutuhan konsumsi yang sudah Allah tetapkan.  

Jika semua mukmin bersikap demikian, apa gunanya kehidupan saling berambisi adu cepat untuk menimbun harta?. Apa gunanya perang memperebutkan hak milik?.  Apa gunanya ada penjajahan dan pemiskinan massal?.

Begitulah indahnya gambaran sistem zakat sebagai sistem yang saling memberdayakan dan saling mengupayakan adil makmur bukan saling memperdaya dan saling mencurangi.

Namun keindahan aturan Islam walaupun bagaikan angin yang berhembus menyegarkan di saat panas terik,  tetap membuat meriang  jiwa-jiwa yang sakit pemahaman. Juga menyinggung mereka yang menangguk ikan di air keruh yaitu kaum Kapitalis-Feodalis opurtunis  sebagai biang kerok kesenjangan sosial-ekonomi.

Oleh karena itu pula mereka akan mati-matian menghadang kebangkitan Zakat satu sistem perekonomian karena mereka yang menganut yahudisme dan nasranisme itu tidak akan pernah ridha sampai kalian mengikuti sistem manipulatif Riba mereka (2:120).

Satu contoh hadits lagi yang menggambarkan keindahan Islam dalam mendudukkan manusia sebagai mutawak-kilûn. Artinya: “Saudaramu yang di bawah pimpinanmu oleh Allah atas pilihan Islam sebagai organisasimu menjadikan mereka sebagai amanat dari Allah atas tangan (kuasa) kalian. Maka siapa saja yang kepadanya dipercayakan untuk memimpin saudaranya dalam suatu pekerjaan, hendaknya ia memberi makanan seperti yang ia makan sendiri, memberi pakaian seperti yang ia pakai sendiri. Dan jangan menyerahkan pekerjaan yang lebih berat dari yang ia mampu kerjakan.

Prinsip manajemen beginilah yang dicontohkan rasulullah SAW. Tentu bertolak belakang dengan prinsip maling yang melaksanakan rampokan tapi bergimik membangun.


Oleh: Vethria Rahmi

(Pranata Humas Ahli Muda Kanwil Kemenag Riau)