Menangkal Propaganda Radikalisme di Media Online

Ditulis Oleh imuss Selasa, 27 November 2018, 13:58

Oleh: Mislaini

Prolog

Faham radikal telah berkembang dengan cepat di berbagai negara di dunia termasuk Indonesia. Pola propaganda dan rekrutmen anggota terus mengalami perubahan dan peningkatan. Saat ini pola propaganda dan rekrutmen anggota kelompok radikal dilakukan melalui media online, bahkan hingga pada pengambilan sumpah setia atau bai’at dilakukan melalui media onlineSalah satu kasus, misalnya, seseorang berinisial IV yang ditangkap di Sumatera Utara dan seorang lainnya yang ditangkap di Batam. Menurut kepala Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT), Suhardi, mereka terjerat radikalisme setelah intensif mendapatkan doktrin secara online hingga kemudian bersiap melakukan serangan teror (Kompas.com, 02/04/2017). Bukti lain, seorang pria berinisial TR (24) asal Riau dibekuk polisi karena memposting faham radikal (ISIS) di media online (Detiknews.com, 09/07/2017). 

Dari kasus diatas tampak jelas bahwa saat ini media online menjadi sarana dalam propaganda radikal. Beberapa media online yang kerap digunakan dalam propaganda radikalisme, diantaranya; facebook, BBM, twiter, telegram, dan aplikasi sejenis lainnya. Dipilihnya media online dikarenakan media online dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat dan didominasi oleh generasi muda.

Generasi muda sangat mendominasi penggunaan media online, berdasarkan survei yang dilakukan oleh UNICEF, Harvard University, dan Kementrian Komunikasi dan Informasi (KUMINFO). mencatat jumlah anak muda yang menjadi pengguna aktif media online di Indonesia mencapai angka 30 juta jiwa. 98% anak muda di Indonesia mengerti apa itu media online, sementara 79,5% diantaranya adalah pengguna aktif (Metrotvnews.com, 22/12/2015).

Lembaga survei lain, seperti Asosiasi Penyelengara Jasa Internet Indonesia (APJII) dengan metode multi-staged random sampling dari tanggal 1-11 Juni 2016 yang dilansir di CNN indonesia. Pengguna media online dari rentang usia 20-24 tahun berjumlah 82?ri total penduduk dikelompok itu. 25-29 tahun berjumlah 80%, 30-34 tahun berjumlah 72%, dan 35-39 tahun berjumlah 63%. Media online merajai konten internet sebagai yang paling sering diakses netizen hingga 97,4%. 

Generasi muda menjadi sasaran empuk bagi kelompok radikal dikarenakan generasi muda sangat mendominasi dalam penggunaan media online. Hal ini menjadi hal yang sangat memprihatinkan karena saat ini media online kerap dijadikan sebagai sarana propaganda radikalisme, menebar berita bohong (hoax), dan sarana penebar kebencian. Sehingga di era globalisasi saat ini pergesekan dan saling mempengaruhi antar nilai-nilai budaya tidak dapat dihindarkan (Qodri Azizy, 2003: 4).

Dari bukti-bukti dan fenomena di atas menunjukkan bahwa propaganda sedang mengintai generasi muda untuk propaganda radikalisme. Hal ini menjadikan masalah besar bagi generasi muda, karena generasi muda ialah generasi pejuang penerus bagsa. Permasalahan diatas menarik penulis untuk membahas upaya dalam menangkal propaganda radikalisme media online bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.


Definisi Radikalisme

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1988: 719), radikalisme adalah faham atau aliran yang radikal dalam politik; paham atau aliran yang menginginkan perubahan dengan drastis; sikap ekstrim dalam suatu aliran politik.

Secara ilmiah radikalisme merupakan kebutuhan mendesak. Ia merupakan langkah pertama untuk menuju jalan terapi, agar orang yang binasa berdasarkan kejelasan dan orang yang hidup akan hidup berdasarkan kejelasan (Yusuf Qardhawi, 2004: 34).

Menurut Tito Karnavian, radikalisme adalah suatu kemajuan dalam mengadopsi, memelihara dan mengembangkan sisitem keyakinan Islam ekstrem meliputi keinginan untuk menggunakan, mendukung, atau memfasilitasi kekerasan sebagai sebuah metode untuk mempengaruhui perubahan sosial kemasyarakatan (Farid Septian, 2010: 112).

Radikalisme dan fundamentalisme merupakan dua istilah yang berbeda, namun memiliki maksud dan tujuan yang sama. Dimana fundamentalisme adalah keinginan untuk kembali semata-mata kepada teks-teks agama, dan mengabaikan sumbangan sejarah, filsafat, dan tradisi manusia (Oliver Roy, 2005: 13). Secara umum, fundamentalisme bergantung pada klaim bahwa beberapa sumber gagasan, biasanya teks, lengkap tanpa kesalahan (Stave Bruce, 2008: 12). Menurut Geraudy yang mengutip dari Kamus Larous Besar (1984 M), fundamentalisme adalah sikap stagnan dan membeku yang menolak seluruh pertumbuhan dan seluruh perkembangan (Muhammad Imarah, 1999: 25).

Secara terminologis, radikalisme adalah fanatik kepada suatu pendapat dan serta menegaskan pendapat orang lain, abai terhadap pendapat historitas Islam, tidak dialogis, dan harfiah dalam memahami teks agama tanpa memperimbangkan tujuan esensial syari’at (maqasid al-syari’at) (Irwan Masqudi, 2011: 117).

Islam mengaikatkan radikalisme dengan kata at-tatharuf, menurut bahasa artinya “Berdiri di ujung, jauh dari pertengahan”. Bisa juga diartikan berlebihan dalam sesuatu. Awalnya kata tatharuf digunakan untuk hal-hal yang kongkret, seperti berlebihan dalam berdiri, duduk, dan berjalan. Kemudian penggunaannya dialihkan untuk hal-hal yang bersifat abstrak, seperti berlebihan dalam beragama, berfikir dan berprilaku. Karena itu, tatharuf lebih dekat kepada kebinasaan dan bahaya, serta jauh dari keselamatan dan keamanan. Islam juga mengaitkan radikalisme dengan beberapa istilah dinataranya berlebihan (ghuluw), melampaui batas (tanathu’), dan keras atau mempersulit (tasydid) (Yusuf Qardawi, 2004: 23).

 Dari beberapa pengertian radikalisme di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa radkalisme ialah sebuah pemahaman terhadap konteks agama secara berlebihan, yang mengahasilkan tindakan kekerasan terhadap diri sendiri dan orang lain dengan menciptakan kebinasaan.

Radikalisme biasanya memiliki dua level, yaitu level pemikiran dan level aksi. Pada level wacana biasanya ia berbentuk wacana yang mendukung segala perubahan dengan cara kekerasan, sedangkan pada level aksi ia bebentuk sebuah tindakan dengan menggunakan cara-cara kekerasan untuk menuntut perubahan secara cepat.


Hukum Radikalisme dalam Islam

Radikalisme memang tidak secara utuh tertera didalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, namun Allah SWT telah melarang perbuatan radikalisme dengan istilah berikut, diantaranya berlebihan (ghuluw), melampaui batas (tanathu’), dan keras atau mempersulit (tasydid).

Sebagaimana Allah melarang berlebihan (ghuluw) didalam Q.S. Al-Maidah (05): 77, “Katakanlah: ”Hai ahli kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas)  dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat daari jalan yang lurus”.

Menurut Muhammad Mutawalli Sya’rawi dalam Tafsir Sya’rawi (2006: 815), menyatakan bahwa kata al-ghuluw di atas dimaknakan sebagai suatu sikap ekstrem dalam memberikan penilaian, baik bersifat positif maupun negatif. Yakni; ekstrem dalam memuji ataupun mencela. Rasul pernah berkata pada Ali bin Abi Thalib: “Ada dua orang yang akan hancur, yakni; pecinta yang berlebih dan pemarah yang berlebihan. Senada dengan Q.S. An-Nisa’(04) ayat 171 juga menyatakan hal serupa. Kemudian didukung oleh hadits dari Ibnu Abbas, “jauhilah sikap berlebihan dalam beragama, sesungguhnya orang-orang sebelum kamu hancur karna sikap berlebihan dalam agama” (H.R. Ahmad).

Allah juga melarang perbuatan radikal melampaui batas (tanathu’), sebagaimana yang tecantum dalam hadits dari Ibnu Mas’ud, “Sesungguhnya binasalah orang-orang yang melampaui batas. Beliau mengucapkannya tiga kali”(H.R. Muslim).

Imam Nawawi berkata, “Mutanathi’un adalah orang-orang yang melampaui batas dalam ucapan dan perbuatan mereka. Hadist di atas dan yang sebelumnya menyatakan bahwa akibat sikap berlebihan dan melampaui batas adalah kebinasaan, baik dalam agama maupun dunia (Yusuf Qadhawi, 2004: 26).

Kemudian Allah juga telah melarang radikalisme keras atau mempersulit (tasydid), sebagaimana yang tertuangkan dalam hadits dari Annas bin Malik“Janganlah kalian bersikap keras terhadap diri sendiri...” (H.R. Abu Dawud).

                          

Sekilas Radikalisme dalam Sejarah Islam

Dalam sejarah Islam, gerakan kaum Khawarij, yang keluar dari barisan tentara Ali bin Abi Thalib dalam perang Shiffin pada 657 M, adalah gerakan radikal yang dilandasi oleh semangat nilai dan pemahaman keagamaan yang ultra konservatif. Perdamaian yang diusulkan pihak Mu’awiyah melalui ‘Amr bin Ash dan diterima oleh pihak Ali bin Abi Thalib melalui juru rundingnya, Abu Musa  al-Asy’ari, dinilai oleh kaum Khawarij sebagai penyimpang dari perinsip ajaran Islam, karena tidak mendasarkan pada ketentuan hukum Allah. Orang yang tidak berhukum dengan wahyu Allah, demikian Khawarij menegaskan, dinilainya sebagai berdosa besar. Karenanya, kaum Khawarij menyatakan bahwa barang siapa yang menetapkan suatu perkara tanpa berlandaskan pada hukum Allah, maka ia telah melakukan dosa besar, karenanya termasuk golongan fasiq, dhalim, dan kafir ­(Ahmad Jainuri, 2016: 7). Mulai dari perkara itulah kaum Khawarij dilabelkan sebagai kelompok atau kaum radikal.

Setelah perkembangan zaman, maka mulai tumbuhlah kelompok-kelompok radikal. Salah satunya kelompok yang dikenal dengan sebutan Wahabbi, Wahabbi didirikan oleh Ibn Abd al- Wahab (1730-1791). Mereka menolak prinsip perantara para wali yang ada pada ajaran sufi dan Islam kaum awam. Mereka juga melarang berdoa di makam dan bahkan hingga menghancurkan makam-makam para wali. Mereka menyatakan kafir terhadap kaum Muslim yang tidak mengikuti dengan ketat menurut kitab suci dari Islam yang murni. Para pengikut wahabbi juga menolak segala perubahan, segala interprestasi di dalam Islam yang sudah ada sebelum mereka. Golongan Wahabbi dan gerakan-gerakan serupa diberi definisi seperti mereka yang mengikuti jalan golongan Salafi. Akhir abad 19 suatu aliran yang didirikan oleh Jamaluddin Afghani dan diperbarui oleh Muhammad Abduh memperkenalkan gerakan pembaharuan (Salafi) yang lebih intelektual dari pada Wahabbi (Oliver Roy, 2005:24).

  

Bahaya Propaganda Radikalisme di Media Online

Propaganda dilakukan melalui media online karena media online merupakan sarana paling luas hingga keseluruh belahan dunia. Media online juga dianggap sebagai sarana propaganda yang efektif, sistematis, prosedural, mudah, dan murah. Dan generasi muda menjadi sasaran empuk didukung oleh dominannya generasi muda dalam mengakses media online. Generasi muda juga memilki jiwa yang labil, sehingga mudah untuk di propaganda.


Adapun bahaya yang akan timbul akibat propaganda radikal di media online terhadap generasi muda ialah untuk menciptakan generasi teroris. Terorisme adalah sebuah tindakan kekerasan yang mengancam dan bahkan merenggut nyawa manusia yang tidak berdosa untuk mencapai tujuan dari kelompok radikal (Haitsam al-Kailani, 2001: 18).  

Rangkaian kekerasan yang dilakukan kelompok radikal terkait dengan empat tujuan universal mereka, yaitu untuk menarik perhatian media, pengakuan, penghormatan, dan legitimasi. Untuk mencapai tujuannya itu, maka kelompok radikal memilih membuat aksi yang ditujukan untuk menyebar luaskan ketakutan dan kepanikan diikuti dengan aksi selanjutnya yang lebih dasyat sehingga memakan korban yang lebih banyak melalui cara-cara yang semakin mengerikan (Sukawarsini Djalantik, 2010: 133).

Tindakan kekerasan yang dilakukan kelompok radikal tidak sesuai dengan tujuan utama syari’at Islam yang mementingkan kemaslahatan umat, diantaranya; kemaslahatan agama, jiwa, harta, akal, dan keturunan (Daud Rasyid, 2010: 35).

Berikut ada beberapa tahapan yang akan dilakukan kelompok radikal untuk menciptakan generasi teroris, sebagai berikut;

Pertamamerekrut Anggota. Pada dasarnya sebuah organisasi akan kokoh, apabila memiliki anggota kelompok yang banyak, dengan banyaknya anggota maka akan mempermudah suatu kelompok untuk mencapai setiap tujuannya. Begitu pula dengan kelompok radikal, ia juga sangat membutuhkan anggota untuk dapat mencapai setiap tujuannya. Dengan begitu kelompok radikal melakukan propaganda dan rekrutmen di media online untuk mendapatkan anggota. 

Sebagaimana ajaran Islam melarang manusia untuk mengajak manusia lainnya dalam kesesatan, sebagaimana tercantum dalam hadits dari Abu Hurairah, “Barang siapa mengajak (manusia) kepada kesesatan maka ia mendapakan dosa seperti dosa-dosa yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun” (H.R. Muslim).

Keduamenanamkan doktrin radikalisme dan pelatihan tutorial aksi teror. Setelah mendapatkan anggota, maka tahap selanjutnya ialah menanamkan doktrin radikalisme dan pelatihan tutorial aksi teror. Tahapan ini merupakan tahapakan yang sangat berbahaya, karena biasanya dilakukannya pencucian otak terhadap generasi muda dan kemudian melakukan menanamkan doktrin radikalisme secara intensif melalui media online. Penanaman doktrin radikalisme dianggap berhasil, apabila seorang anggota tersebut dapat mempercayai dan mendukung setiap tindakan dan perbuatan yang dilakukan oleh kelompok radikal.

Hal di atas dilakukan seiring dengan pelatihantutorial aksi teror. Biasanya kelompok radikal telah menyediakan foto, buku, dan video clip yang berisikakan tutorial atau langkah-langkah dalam melakukan aksi teror. Foto, buku, dan video clip tersebut juga dibagikan melalui media online

Ketigamenebar pesan teror. Kemudian tahap selanjutnya ialah menebar pesan teror, biasanya setiap anggota radikal diwajibkan untuk menyebarkan pesan teror melalui media online atau mengikuti setiap kegiatan yang dilakukan oleh kelompok radikal. Dengan tujuan untuk menakut-nakuti sekelompok orang atau penguasa (pemerintah) dengan sebuah ancaman ataupunn menebar kebencian. Karena jika tidak maka anggota tersebut dijuluki sebagai pengintai, sehingga akan menerima tindakan dari anggota kelompok lainnya. 

Sebagaimn ajaran Islam telah melarang umatnya untuk tidak menakut-nakuti umat muslim lainnya, sebagaimana yang tertuang dalam hadits dari Abdurrahman bin Abi Laila, “Tidak halal bagi seorang muslim untuk menakut-nakuti muslim lainnya” (H.R. Abu Dawud).


Keempatmerencanakan aksi terorTahapan terakhir ialah merencanakan aksi teror, perencanaan aksi teror ini merupakan cara yang paling penting. Dengan tujuan dapat memastikan bahwa serangan teror dapat terlaksana dengan sukses dan berjalan lancar. Biasanya tingdakan teror ini merupakan tidakkan yang paling ekstrem dikarenakan dapat menyebabkan hilangnya nyawa manusia yang tidak berdosa.

Allah telah menegaskan kepada umatnya untuk tidak menghilangkan nyawa manusia lainnya, sebagaimana yang tertuang dalam Q.S. An-Nisa’(04) ayat 93, “Dan barang siapa yang membunuh seorang mu’min dengan sengaja, maka balasannya ialah jahannam, kekal ia didalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang benar baginya”.


Deradikalisasi: Upaya Menangkal Propaganda Radikalisme di Media Online

Kata deradikalisasi menjadi suatu bentuk pendekatan dalam rangka mencegah dan menanggulangi bahaya faham radikal. Kata deradikalisasi sendiri berasal dari bahasa Inggris deradicalication yang asal katanya ialah radical (Farid Septian, 2010: 114).

Istilah radikalisasi mulai populer digunakan oleh pemerintah, aparat keamanan dan media-media berita di Indonesia. Deradikalisasi merupakan upaya untuk menangani gerakan-gerakan radikal atau menangani terorisme (Saefuddin Zuhri, 2017: 95).  

Deradikalisasi merupakan kerja lanjutan setelah diketahui akar radikalismenya. Tetapi deradikalisasi juga dapat dimaksudkan untuk langkah antisipasi sebelum radikalisme terbentuk (Abu Rokhmad, 2012: 106).

Dari beberapa definisi deradikalisasi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa deradikalisasi adalah sebuah upaya penanggulangan dan upaya antisipasi terhadap gerakan-gerakan radkalisme.

Berikut ada beberapa pihak yang menjadi peran penting dalam menangkal propaganda radikalisme di media online, diantaranya;



  1. Penguatan Peran Orang Tua

Tugas utama atau kewajiban orang tua ialah mendidik anaknya tentang pendidikan dasar agama Islam dan menyekolahkan anaknya ke sekolah agama, agar anaknya dapat tumbuh menjadi manusia yang baik dan berilmu agama.  Dengan adanya pendidikan dasar agama Islam moderat, dapat menjadi sebuah alat yang memfilter propaganda-propaganda yang terjadi. Baik melalui sarana media ataupun secara langsung.

 Penguatan peran orang tua sangat penting dalam mengantisipasi terjadinya propaganda radikalisme di media online. Kewajiban Orang tua juga mengawasi setiap prilaku dan tidakkan anaknya, terutama dalam pengunaan gadget, dikarenakan gadget merupakan salah satu alat yang dapat mengakses media online. Sebaiknya orang tua harus memberikan batasan waktu kepada anaknya dalam penggunaan gadget, untuk menghindari terjadinya propaganda radikalisme melalui media online.

  1. Penguatan  Peran Masyarakat

Manusia dilahirkan sebagai makhluk sosial, dengan begitu manusia akan tumbuh berkembang dalam sebuah kelompok disebut masyarakat. Penguatan peran masyarakat dapat mendukung upaya menangkal radikalisme di media online. Dengan cara membentuk organisasi remaja msjid dan membuat kegiatan-kegiatan positif, dengan begitu dapat mengurangi waktu generasi muda untuk mengakses media online

Tokoh masyarakat dalam hal ini memegang peran pending, dimana tokoh masyarakat diwajibkan untuk mengawas setiap kegiatan-kegiatan yang dilakukan dilingkungan masyarakat.

  1. Penguatan  Peran Sekolah

Penguatan peran sekolah juga dapat mendukung dalam penangkalan propaganda melalui media online. Kita ketahui bahwa di Indonesia memiliki dua jenis sekolah, yaitu sekolah umum dan sekolah berbasis agama (MA). Untuk sekolah umum sebaiknya dilakukan penambahan jam pelajaran agama Islam yang moderat, toleransi dan multikultural, dengan begitu dapat menangkal generasi muda yang bersekolah disekolah umum. Untuk sekolah berbasis agama sebaiknya meningkatkan lagi pelajaran agama Islam moderat, toleransi dan multikultural. Dengan adanya ilmu agama yang benar tersebut, generasi muda dapat menfilter dirinya sendiri dari propaganda-propaganda yang ada.


  1. Peran Pemerintah

pemerintah menjadi tongak utama dalam menangkal propaganda radikalisme melalui media online. Dikarekan pemerintah mempunyai tanggung jawab terhadap kesejahteraan dan ketentraman umat manusia. Sehingga pemerintah mesti mengeluarkan kebijakan-kebijakan tegas terkait persoalan propaganda radikalisme melalui media online yang sedang menerkam generasi muda.

Setelah adanya upaya antisipasi dalam menangkal propaganda, maka dibutuhkan upaya penanggulangan terhadap oknum-oknum yang telah terindikasi faham radikal atau yang telah mendarah daging dalam dirinya radikalisme. Upaya penanggulangan dapat dilakukan, sebagai berikut: Pertama, pembentukan dan penguatan BNPT. BNPT telah dibentuk pada tahun 2010 (Perpres No. 46 Tahun 2010). Dimana tugas utama BNPT adalah penanggulangan terorisme, meliputi pencegahan, perlindungan, deradikalisasi, penindakan, dan penyiapan kesiapsiagaan nasional (Abu Rokhmad, 2012: 106).

Kedua, penghapusan situs/web dan aplikasi yang terindikasi dalam propaganda radikal di media online. Penghapusan ini merupakan kewenangan pemerintah terutama pada KOMINFO, yang bertujuan untuk menghindari terjadinya penyebar luasan propaganda radikalisme di media online.

Ketiga, adanya kerjasama masyarakat dengan pihak yang berwajib. Hal ini merupakan salah satu upaya penanggulangan agar dapat segera memberhentikan propaganda radikal yang ada di media online. Dimana masyarakat harus melaporkan kepada pihak yang berwenang jika melihat adanya situs/web atau sarana media terindikasi propaganda radikalisme.

Keempat, melakukan rehabilitasi terhadap oknum yang terindikasi faham radikal atau yang telah mendarah daging. Sejatinya dalam mengatasi kekerasan tidak harus dengan kekerasan juga, namun dia akan luluh dangan cara kebaikan dan kelembutan. Rehablitasi ini merupakan salah satu caranya agar oknum yang terindikasi faham radikal dapat dilakukan pembaharuan pemahaman dengan menanamkan ajaran Islam moderat, toleransi dan multikultural sehingga generasi muda tersebut dapat hidup secara normal sesuai dengan ajaran Islam. Sebagaimana Allah telah mendeklarasikan bahwa umat ini Allah hadirkan sebagai ummatan washatan (umat pertengahan), umat moderat. Umat yang adil dalam pertengahan. Umat yng anti terhadap semua sikap ekstrimisme dan tindakan yang melampaui batas. Umat yang mampu menjadikan sikap pertengahan sebagai pilihan hidup dalam segala lini cara pikir, cara beribadah, cara muamalah dan sebagainya (Ahmad Satori, dkk., 2007: 7).

sejatinya upaya radikalisme ini tidak akan berhasil apabila tidak adanya upaya kerja sama dari pihak pihak yang terkait. Sehingga setiap pihak harus saling besinergi dalam menangkal propaganda radikalisme di media online untuk dapat benar-bener menangkal propaganda radikalisme.


Epilog

Upaya menangkal propaganda radikalisme merupakan upaya untuk menyelamatkan generasi muda dari faham radikal yang tengah mengancam generasi muda. Hal ini dikarenakan generasi muda mendominasi pengunaan media online. Dengan itu dibutuhkan upaya dalam menangkal propaganda radikalisme, dikarenakan bahaya yang ditimbulkan tidak hanya berdampak pada dirinya sendiri, melainkan keluarga, masyarakat dan bahkan negara.

Sejatinya upaya yang paling mendasar dalam menangkal propaganda radikalisme ialah dengan melalui pemahaman Islam moderat, toleransi dan multikultural. Sebagaimana Allah telah menetapkan manusia sebagai umat pertengahan (ummatan washatan), umat yang moderat, umat yang mampu berfikir dan berprilaku sebagai mana mestinya.

Upaya penangkalan propaganda radikalisme di media online tidak hanya pada upaya penanggulangannya saja, namun mesti adanya upaya antisipasi. Upaya tersebut juga tidak dapat mencapai keberhasilan jika tidak adanya  kerja sama dari pihak-pihak terkait, diantaranya; orang tua, masyarakat, sekolah, dan juga pemerintah. 


*Penulis adalah juara 1 MMQ pada MTQ Provinsi Riau tahun 2017, Utusan Riau pada MTQ Nasional 2018 di Medan, Sumatera Utara.