Membingkai Dan Merajut Kerukunan Dalam Keragaman Agama Di Indonesia (Bagian I)

Ditulis Oleh imuss Senin, 19 Maret 2018, 16:39

Oleh: H. Anasri Nurdin

Beberapa tahun terakhir ini bahkan semakin “memanas” kerukunan dan keharmonisan antar umat beragama mendapat cobaan atau minimal sebuah tess case

Dalam skala nasional adalah kasus golongan Syiah di Sampang yang mengakibatkan jatuhnya beberapa korban dan ratusan orang mengungsi. Ada juga Kasus Tolikara pembakaran Mesjid, dan teror terhadap tokoh-tokoh beberapa agama. Dalam skala internasional adalah tragedi yang menimpa umat Islam yang terjadi di Rohingya Myanmar. Sudah banyak teori yang gunakan para ahli untuk mengungkap kedua kasus tersebut. Sebagian, mereka menyimpulkan bahwa kedua kasus tersebut tidaklah ada hubunganya dengan masalah agama. Alasannya, bahwa mereka yang “berseteru” telah bertahun tahun hidup berdampingan secara damai dan saling menghormati sesama pemeluk agama, yang terjadi adalah gesekan-gesekan biasa yang tidak ada hubungannya dengan agama. Sebagian lain mengaskan, bahwa perseteruan tersebut, adalah perseteruan antar agama. Mereka menggunakan agama sebagai dasar untuk memerangi dan mengusir bahkan membunuh lawannya. Alasannya adalah dipergunakannya berbagai simbol agama dalam perseteruan tersebut.

Terlepas dari perbedaan teori, pandangan atau presepsi dalam menilai kejadian tersebut, namun semua sepakat minimal sementara ini bahwa gesekan, perseteruan atau konfik yang berbau agama atau sengaja dikaitkan agama, sangat mudah untuk diledakkan oleh pihak-pihak tertentu yang memiliki “hidden agenda”. Belum lagi jika ditambahi”bumbu-bumbu” yang sengaja dilontarkan oleh orang yang lebih tepat disebut sebagai provokator dari pada pemerhati atau pengamat. Mereka bukannya berusaha untuk mendinginkan permasalahan atau memberikan solusi, tetapi mereka malah berusaha menjadi tokoh atau narasumber yang mencari kambing hitam, jika tidak mendapatkan mereka menghitamkan permasalahan, sehingga permasalahan bukannya terselesaikan tetapi semakin hitam, keruh dan kalau perlu ditenggelamkan. Karena itu sudah seharusnya para pemeluk agama, terutama para pemukanya untuk tidak mudah terprovokasi oleh emosi keagamaan yang tidak dewasa. Sebaliknya para pemuka agama mempunyai kewajiban untuk menciptakan kedewasaan dalam beragama demi terwujudnya kerukuanan bersama dan keutuhan serta kejayaan bangsa Indonesia.

sikap kedewasan dalam beragama, meningkatkan kerjasama dalam hal-hal yang menjadi tujuaan bersama dalam beragama, tanpa harus saling mencurigai dan memperkokoh empat pilar kenegaraan (NKRI, Pancasila, UUD 45 dan Bineka Tunggal Ika).

Artikel ini bertujuan untuk merumuskan beberapa hal yang dapat dijadikan pegangan dan diperkaya dalam rangka merajut kerukunan ditengah-tengah keberagaman beragama di Indonesia berangkat dari semangat nilai-nilai Al-Quran.

Keragaman Sebuah Keniscayaan dan Sikap Islam

Bangsa Indonesia memiliki keragaman yang begitu banyak, tidak hanya masalah adat istiadat atau budaya seni, bahasa dan ras, tetapi juga termasuk masalah agama.Walaupun mayoritas penduduk Indonesia memeluk agama Islam, ada beberapa agama dan keyakinan lain yang juga dianut penduduk ini. Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Khonghucu adalah contoh agama yang juga tidak sedikit dipeluk oleh warga Indonesia. Setiap agama tentu punya aturan masing-masing dalam beribadah.Namun perbedaan ini bukanlah alasan untuk berpecah belah. Sebagai satu saudara dalam tanah air yang sama, setiap warga Indonesia berkewajiaban menjaga kerukunan umat beragama di Indonesia agar negara ini tetap menjadi satu kesatuan yang utuh dan mencapau tujuannya sebagai negara yang makmur dan berkeadilan sosial. Islam dalam melihat keberagaman merupakan sesuatu yang niscaya dan menjadi realita kehidupan manusia.Banyak ayat Al-Quran yang menerangkan realitas sunnatullah tersebut. Diantara ayat AlQuran dalam hal ini adalah (artinya): 

  1. “Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya ?” (QS. Yunus/10:99).
  2. “ Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka”.(QS. Hud/ 11: 118-119). 
  3. “Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja), tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. AnNahl/16: 93) 
  4. “Dan kalau Allah menghendaki niscaya Allah menjadikan mereka satu umat (saja), tetapi Dia memasukkan orang-orang yang dikehendaki-Nya ke dalam rahmat-Nya. Dan orang-orang yang zalim tidak ada bagi mereka seorang pelindungpun dan tidak pula seorang penolong” (QS. AsySyura/26: 8). 
  5. “Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu” (QS. al Hujurat/49: 13). 

Disamping Al-Quran menegaskan keniscayaan keberagaman manusia dalam SARA, Al-Quran juga memerintahkan kepada semua pengikutnya untuk tetap berbuat baik dan adil kepada sesama manusia, meskipun diluar agamanya. Diantara ayat-ayat Al-Quran yang memerintahkan berbuat baik dan adil kepada sesama adalah kalam Allah yang artinya: 

  1. “Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al-Maidah/5:8). 
  2. “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. “.(QS. AlMumtahanah/60: 8-9). 

Bahkan dalam kondisi perang pun, Islam tetap memerintahkan untuk menjaga akhlak kasih sayang dengan adanya dilarang keras untuk membunuh orangtua, wanita dan anak kecil, serta dilarang merusak rumah peribadatan dan menumbangkan tumbuh-tumbuhan. Itulah ajaran Islam sejak empat belas abad yang lampau, melalui khoirul anbiya‘nabi Muhammad SAW.

Beragama Antara Sikap Eksklusif ( Al-Inghilaq ) dan Inklusif ( Al-Infitah )

Setiap agama pasti memiliki sisi-sisi eksklusif (al-inghilaq) dan inklusif (al-infitah) yang sangat mempengaruhi dalam sikap keagamaan seseorang.Sisi eksklusif (alinghilaq) ini tercermin dalam masalah terutama aqidah dan ibadah. Setiap agama memiliki kekhususan tersendiri yang tidak dimiliki agama lain dan tidak boleh dicampur adukkan. Karena mencampuradukkan kedua hal tersebut dengan kenyakinan lainnya dinyakini tidak hanya menjadikan tertolaknya aqidah dan ibadah tersebut, namun juga dapat mengilangkan eksistensi agama itu sendiri dan tentu akhirnya akan mempengaruhi kepada keharmonisan antar umat beragama bahkan melahirkan kondisi sosial kemasyarakatan yang tidak sehat. Sedangkan sisi Inklusif (al-infitah) tercermin dalam sikap sosial, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. 

Orang yang memiliki sikap eksklusif (al-inghilaq), akan selalu mengakui kebenaran agamanya, bahkan hanya agamanya saja yang benar. Pandangan seperti ini tidak bisa begitu saja dikatakan salah, karena dorongan intrinsik agamanya yang melandasi pandangan seperti ini. Kebenaran agama yang diyakini oleh penganutnya merupakan keharusan karena akan membangkitkan spirit untuk membangun komitmen terhadap agamanya. Kalau pandangan tersebut diikuti dengan sikap keagamaan yang cenderung ekstrim, dengan menjadikan yang lain sebagai musuh yang harus dieyahkan maka eksklusifisme ini telah memasuki wilayah “eksklusifisme ekstrem”. 

Yang tentunya akan sangat berakibat buruk dalam tatanan kehidupan sosial bahkan akan mengaburkan makna agama itu sendiri. Karena agama hanya dijadikan sebagai kedok untuk membuat keonaran dan kerusakan dimuka bumi. Sikap inklusif (al-infitah) akan melahirkan sikap untuk menghormati dan menghargai keberadaan umat agama lain. Karena dalam ajaran agamanya sendiri menuntut untuk menghormati keberadaan agama lain yang diakui oleh penganutnya sebagai kebenaran juga, maka ini merupakan manifestasi sikap inklusifisme. Sikap ini selalu diikuti oleh pemberian kesempatan dan kebebasan terhadap penganut agama untuk melakukan ritual dan peribadatannya sesuai apa yang mereka yakini. 

Di dalam mengakui klaim orang lain atas kebenaran agamnya, apapun bentuk pengakuan itu, seorang inklusif tidak pernah kehilangan karakter dan jati dirinya sebagai seorang yang mentaati dan membela kebenaran agamanya. 

Dengan prinsip ini, hak dasar setiap anggota masyarakat dapat terjamin dengan baik sehingga tercipta kehidupan yang saling menghargai dan harmonis. Islam sebagai agama rahmatan lil‘alamin (rahmat bagi seluruh alam semesta), sejak awal meskipun telah menegaskan bahwa agama yang benar adalah Islam (Ali Imran/3: 19 dan 85), namun secara prinsip dan kehidupan sosial bermasyarakat, Islam mengakui entitas agama-agama lain dan membiarkan pemeluknya untuk melakukan dan menjalankan peribadatan masingmasing. Islam tidak pernah memaksa seseorang untuk masuk Islam. Karena keimanan seseorang dapat diterima jika hal itu dilakukan dengan sukarela tanpa ada sedikitpun pemaksaan.Tidak ada gunanya keimanan seseorang yang lahir dari pemaksaan. Untuk apa Islam dipaksakan, padahal kebenaran dan petunjuknya sudah sangat jelas bagi siapapun yang menginginkan kebenaran Islam.6 PentunjukAl-Quran dalam hal ini sangatlah jelas, dimana Allah berkalam, “Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya? (QS.Yunus/10: 99),dan kalam Allah, “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. (QS.alBaqarah/2: 256). Manurut Ibnu Katsir dalam tafsirnya, ayat ini turun berkaitan dengan sikap salah satu shahabat Anshar yang ingin memaksa putranya yang beragama Kristen untuk diislamkan.

Mengenai sisi hubungan sosial antar pemeluk agama, ayat Al-Quran secara tegas menyatakan, “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil (QS.Al-Mumtahanah/60:8). Bahkan terhadap musuh sekalipun, Al-Quran tetap memperintahkan untuk berbuat adil terhadap mereka. (QS.Al-Maidah/5:8). Dalam hadis yang diriwayatakan al-Khathib dengan sanad yang baik, Rasulullah saw, bersabda, “Barang siapa menyakiti orang dzimmi, maka aku akan menjadi seterunya. Dan siapa yang aku menjadi seterunya dia pasti kalah dihari kiamat”. Namun demikian, Al-Quran secara tegas telah menolak paham pluralisme yang mencampuradukkan keimanan dan ritual antar agama (QS.Al-Kafirun/109:16). Karena hal itu bertentangan dengan prinsip agama dan mengakibatkan masyarakat tidak memiliki pegangan yang jelas dalam kehidupan beragama. Tentu hal ini itu sangat berdampak negative bagi kerukunan dankesehatan kehidupan beragama. Sikap eksklusif dan inklusif yang begitu jelas dan tegas, Islam mengajak umatnya untuk selalu istiqomah dalam kenyakinanya dan menjadi pemeluk agama yang baik mampu menciptakan kerukunan antar umat beragama bukan sebatas dimaknai bagaimana perilaku keagamaan umat beragama tidak memicu lahirnya “konflik agama”, tetapi kerukunan dalam hidup beragama dalam artian bahwa pemeluk agama non-Islam adalah bagaian dari saudara sebangsa setanah air dan semanusia. Kerukunan ini teraktualisasi dalam konsep ukhwah wathaniyah dan ukhwah insaniah. Sebagaimana diatur dalam Piagam Madinah pasal 25 dan 37.10. (bersambung…)