KESIAPAN PUSTAKAWAN DALAM MEMANFAATKAN TEKNOLOGI INFORMASI UNTUK MENINGKATKAN KWALITAS LAYANAN

Ditulis Oleh admin Selasa, 27 September 2011, 11:00
Oleh: Agus Saputera S.Ag, MLIS

Pendahuluan
Seperti kita ketahui kemajuan peradaban dan budaya suatu bangsa salah satunya bisa tercermin dari kemajuan perpustakaan yang dimiliki oleh bangsa atau negara itu. Sebab kemajuan perpustakaan senantiasa mengiringi kemajuan suatu bangsa. Atau dengan kata lain bangsa yang maju adalah bangsa yang perpustakaannya juga maju. Dan begitu juga sebaliknya bangsa yang belum maju, terbelakang, adalah bangsa yang kwalitas layanan perpustakaannya masih rendah dan apresiasi masyarakatnya kurang terhadap buku, pengarang, dan penulis.
Sebagai contoh Amerika Serikat adalah negara maju yang memiliki perpustakaan termasuk diantara yang terbesar di dunia yaitu Library of Congress. Kemajuan perpustakaan ini tidaklah terwujud dengan cara yang mudah dan dalam waktu yang singkat tetapi memerlukan proses dan waktu yang bertahun-tahun bahkan berabad-abad. Seperti diketahui negara Amerika Serikat bukanlah negara yang baru merdeka tetapi sudah berabad-abad lamanya menikmati kemerdekaan sehingga pantaslah mereka memiliki perpustakaan-perpustakaan yang maju dan modern.
Sebagai negara yang relatif baru merdeka dibanding Amerika Serikat dan negara-negara maju lainnya, dalam konteks perkembangan perpustakaan, Indonesia masih tergolong lambat, terbelakang - dimana baru memiliki Undang-undang tentang Perpustakaan (UU No. 43/2007) kurang dari 4 (empat) tahun lalu.
Kemudian kalau kita lihat perpustakaan-perpustakaan di Indonesia khususnya di perguruan tinggi yang dianggap sebagai "jantung perguruan tinggi", masih banyak yang belum memenuhi syarat kelayakan suatu perpustakaan apabila dilihat dari jumlah koleksi yang dimiliki maupun fasilitas dan pelayanan yang tersedia-meskipun ada beberapa universitas yang sudah memiliki perpustakaan yang representatif. Kondisi tersebut adalah ironis sekali dengan peran dan fungsi perguruan tinggi sebagai lembaga yang berkecimpung di bidang pendidikan dan penelitian.
Sehingga cukup beralasan kalau tenaga pengajar dan mahasiswa di sebagian besar perguruan tinggi tidak memiliki kemampun membaca yang baik dan kurang mempunyai kebiasaan berkunjung ke perpustakaan. Akibatnya kualitas perguruan tinggi, mutu lulusan, dan hasil-hasil penelitian di kalangan akademisi baik dari segi jumlah maupun kwalitasnya masih tergolong rendah jika dibandingkan dengan negara-negara lain, sekalipun untuk tingkat regional Asia.
Jadi tinggi rendahnya kwalitas layanan perpustakaan di suatu negara secara tidak langsung ikut mempengaruhi mutu pendidikan di negara itu, dan pada akhirnya akan menentukan kemajuan suatu bangsa atau negara. Dengan demikian adalah sangat tepat bila dikatakan bahwa perpustakaan merupakan simbol kemajuan peradaban dan budaya suatu bangsa. Orang mengatakan bahwa bangsa yang maju, yang akan menguasai dunia adalah bangsa yang menguasai informasi dan teknologi, terutama sekali teknologi informasi dan komunikasi.
Sehingga tidak heran kalau perkembangan dan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi (TI) dewasa ini sudah memasuki berbagai aspek kehidupan manusia. Masuknya TI ini tidak dapat dihindari sehingga juga mempengaruhi dan mewarnai perkembangan perpustakaan di Indonesia.
Oleh karena itu agar perpustakaan di Indonesia menjadi maju, berdaya, dan mampu berdiri sejajar dengan perpustakaan di negara-negara maju lain, tak ada cara lain kecuali perpustakaan harus mau memanfaatkan dan mendayagunakan teknologi informasi dengan cara yang tepat dan sesuai, dengan tetap memperhatikan kebutuhan pengguna.
Defenisi Teknologi Informasi Menurut Hariyadi (1993) dan Pendit (1994) dalam Dinamika Informasi dalam Era Global (Koswara, 1998), teknologi informasi adalah teknologi pengadaan, pengolahan, penyimpanan, dan penyebaran berbagai jenis informasi dengan memanfaatkan komputer dan telekomunikasi yang lahir karena adanya dorongan-dorongan kuat untuk menciptakan teknologi baru yang dapat mengatasi kelambatan manusia mengolah informasi.
Sedangkan Pierce (1992) menyatakan bahwa teknologi informasi dapat dilambangkan sebagai segitiga sama sisi. Tiga titik sudutnya masing-masing adalah automasi (automation), simulasi (simulation) atau model, dan kecerdasan buatan (artificial intelligent).
Dalam ruang lingkup perpustakaan, teknologi informasi diartikan sebagai aplikasi komputer dan teknologi lain untuk pengadaan, pengolahan, penyimpanan, temu kembali (retrieval) dan penyebaran informasi. (Duval, 1992).
Dari beberapa defenisi yang dikemukakan di atas menunjukkan bahwa prinsip dari teknologi informasi dalam perpustakaan adalah teknologi yang berkaitan dengan proses pengelolaan informasi/koleksi dengan komputer sebagai unsur utamanya dan/atau ditambah dengan jaringan/alat lain sebagai unsur pendukungnya agar diperolah hasil informasi yang cepat, tepat, dan akurat, dimana bentuk dari teknologi informasi tersebut bisa berupa automasi, simulasi, atau kecerdasan buatan.
Alasan Pemanfaatan Teknologi Informasi dalam Perpustakaan Ada beberapa alasan mengapa teknologi informasi (TI) harus diterima di perpustakaan seperti yang dikemukakan oleh Saleh (1998), yaitu:
1. Tuntutan terhadap jumlah dan mutu layanan perpustakaan. Saat ini layanan perpustakaan tidak cukup lagi misalnya seperti layanan baca di tempat dan peminjaman buku perpustakaan. Pemakai perpustakaan sekarang sudah menuntut jenis-jenis layanan lain, seperti layanan informasi terbaru (current awareness services), layanan informasi terseleksi (selective dissemination of information), layanan penelusuran secara online, dan layanan penelusuran dengan CD-ROM.
Selain tuntutan terhadap jumlah layanan yang makin banyak, mutu layananpun dituntut untuk lebih baik. Dalam rangka peningkatan mutu dan jumlah layanan inilah, peran teknologi komputer (informasi) sangat diharapkan.
2. Tuntutan terhadap penggunaan teknologi bersama (Resource Sharing). Seperti kita ketahui, tidak ada satu perpustakaanpun yang bisa memenuhi koleksinya sendiri secara lengkap. Setiap perpustakaan akan saling membutuhkan koleksi perpustakaan lain demi memberikan layanan yang memuaskan kepada pemakainya. Karena itu penggunaan bersama koleksi perpustakaan sangat membantu, terutama pada perpustakaan-perpustakaan yang koleksinya sangat lemah.
Program penggunaan koleksi bersama ini dapat berjalan dengan baik apabila setiap perpustakaan saling memberikan informasi yang dimilikinya. Dengan bantuan teknologi informasi, layanan-layanan yang diberikan oleh perpustakaan semakin efisien dan mempunyai jangkauan yang luas, global, tanpa batas jarak.
Apalagi dengan adanya fasilitas jaringan global (internet), misalnya seseorang dapat mengakses katalog suatu perpustakaan di manapun tempat di dunia ini melalui WEBPAC (Web-Online Publis Access Catalog), asalkan alamat situs (web address) perpustakaan tersebut diketahui. Begitu juga pertukaran informasi dan peminjaman buku antar perpustakaan dapat dilakukan dengan cepat, baik antar perpustakaan dalam satu wilayah, dalam satu negeri, maupun di luar negeri (lbrary resource sharing and inter-library loan).
3. Kebutuhan untuk mengefektifkan dan mengoptimalkan sumber daya manusia. Untuk mempertahankan dan meningkatkan mutu layanan perpustakaan dimana sumber daya manusia (SDM) di bidang pengolahan data, informasi dan tenaga perpustakaan masih sangat kurang, maka teknologi informasi dapat dioptimalkan pemakaiannya. Selain daripada itu, dari segi jumlah penggunaan staf juga akan menjadi berkurang dan waktu yang digunakan juga lebih hemat.
Misalnya untuk melakukan pencarian, pengembalian, dan/atau perpanjangan peminjaman buku, pengguna dapat menggunakan self check machine atau melalui online public acccess catalog (OPAC/WEBPAC) yang terintegrasi dalam sistem perpustakaan digital tanpa harus dilakukan secara manual dengan petugas di meja sirkulasi.
4. Tuntutan terhadap efisiensi waktu. Sekarang ini pelayanan terhadap pemakai perpustakaan semakin mudah dan cepat. Misalnya seseorang ingin mendapatkan suatu artikel tertentu, pada saat pertanyaan diajukan, pada saat itu pula diperoleh jawabannya. Ini hanya dapat terjadi karena adanya bantuan teknologi komputer (Teknologi Informasi). Dengan mengakses pangkalan data yang ada di komputer baik di perpustakaanya maupun perpustakaan lain, akan diperoleh jawaban yang langsung diterima dengan mengirimkan email kepada si penanya.
5. Keragaman informasi yang dikelola. Koleksi perpustakaan kini sudah tidak terbatas pada buku ataupun jurnal, majalah dan sebagainya, tetapi bervariasi dalam berbagai bentuk koleksi audio, video, teks, image, dan koleksi multimedia seperti seperti: cassette, microfilm, microfiche, slide, transparency, CD, VCD, DVD,CD-ROM, e-journal, e-book, e-zine, internet, in-house/online database, dan sebagainya. Dan media penyimpanan data juga sudah semakin mengecil dengan kapasitas simpan yang semakin membesar dan tahan lama.
6. Kebutuhan akan keakuratan layanan informasi. Informasi yang diperoleh oleh pengguna hendaknya tidak hanya diperoleh dalam waktu yang cepat, tetapi juga harus akurat, tepat, relevan dengan apa yang diinginkan oleh pengguna itu.
Beberapa alasan yang senada tentang perlunya memanfaatkan teknologi informasi dalam perpustakaan juga pernah dikemukakan. Seperti oleh Salmon (1985), yang menyatakan ada sejumlah alasan yang valid untuk mengaplikasikan komputer (teknologi informasi) di perpustakaan, antara lain ialah untuk melakukan sesuatu yang lebih baik, lebih cepat atau lebih murah dibanding dengan sistem manual; atau untuk memberikan suatu pelayanan baru.
Adapun Main (1992) menyatakan beberapa alasan untuk memanfaatkan teknologi informasi di perpustakaan, antara lain: untuk meningkatkan efisiensi pemrosesan (increased processing efficiency), memperbaiki layanan kepada pengguna (improved service to users), penghematan dan penekanan pembiayaan (saving money and containing cost), memperbaiki administrasi dan informasi manajemen (improved administrative and management information). Semua alasan tersebut merupakan jawaban atas kegagalan sistem manual dan sebagai suatu basis untuk melakukan reorganisasi.
Sedangkan Duval (1992) berpendapat bahwa perpustakaan mengaplikasikan komputer untuk sistem kerumahtanggaannya (library housekeeping) dengan berbagai tujuan, antara lain untuk meningkatkan produktifitas dan efisiensi kerja, memperluas atau menambah jenis layanan baru yang tidak bisa dilakukan dengan sistem manual seperti silang layan (inter library loan).
Kusumaningrum (1998) menyatakan bahwa tujuan automasi (pemanfaatan TI) di perpustakaan adalah untuk mengatasi pekerjaan yang menumpuk dan berulang-ulang dengan cara yang sama, meningkatkan efisiensi, memberikan pelayanan baru, serta mengadakan kerjasama dan sentralisasi. Diantara contoh pekerjaannya seperti: pembuatan daftar pengadaan/pemesanan bahan pustaka, administrasi peminjaman bahan pustaka, pencetakan katalog kartu, barcode, pengklasifikasian, kontrol terhadap terbitan berseri, statistik koleksi perpustakaan, dan sebagainya.
Dengan adanya pemanfaatan TI, semua kegiatan rutin dan penelusuran informasi di perpustakaan, dokumentasi, dan informasi dapat berjalan mudah, cepat, dan akurat. (Yusuf, 1988).
Menurut Arif (2003), faktor-faktor penggerak pemanfaatan teknologi informasi dalam perpustakaan antara lain: 1. Kemudahan mendapatkan produk IT. 2. Harga yang semakin terjangkau. 3. Kemampuan dan manfaat IT. 4. Tuntutan masyarakat.
Dengan demikian keperluan untuk menerapkan dan memanfaatkan teknologi informasi dalam perpustakaan mempunyai alasan-alasan yang kuat dan manfaat yang banyak yaitu agar proses pengelolaan informasi dapat dilakukan secara cepat, akurat, efektif, luas (bervariasi), efisien, dan murah.
Pemanfaatan Teknologi Informasi dalam Perpustakaan Penerapan teknologi informasi di perpustakaan dapat difungsikan dalam berbagai bentuk, antara lain:
1. Penerapan teknologi informasi digunakan sebagai Sistem Informasi Manajemen Perpustakaan. Bidang pekerjaan yang dapat diintegrasikan dengan sistem informasi perpustakaan adalah pengadaan, inventarisasi, katalogisasi, sirkulasi bahan pustaka, pengelolaan anggota, statistik dan lain sebagainya. Fungsi ini sering diistilahkan sebagai bentuk Automasi Perpustakaan.
2. Penerapan teknologi informasi sebagai sarana untuk menyimpan, mendapatkan dan menyebarluaskan informasi ilmu pengetahuan dalam format digital. Bentuk penerapan TI dalam perpustakaan ini sering dikenal dengan Perpustakaan Digital.
Kedua fungsi penerapan teknologi informasi ini dapat terpisah maupun terintegrasi dalam suatu sistem informasi tergantung dari kemampuan software yang digunakan, sumber daya manusia dan infrastruktur peralatan teknologi informasi yang mendukung keduanya.
Hasil dari penerapan TI tersebut dapat dilihat pada berbagai macam bentuk bidang layanan perpustakaan, antara lain seperti: a. Layanan sirkulasi, reserve, inter library loan b. Layanan referensi dan hasil-hasil penelitian c. Layanan/pengelolaan terbitan berkala: jurnal, majalah, berkala d. Layanan multimedia, audio-visual e. Layanan internet dan computer station f. Keamanan g. Pengadaan koleksi h. Pengelolaan katalog (Online Public Access Catalog). (Arif, 2003).
Penerapan teknologi informasi dalam perpustakaan sesungguhnya merupakan bagian yang terintegrasi, saling mempengaruhi, dan berkaitan dengan pemberdayaan perpustakaan dan pustakawan itu sendiri. Pemanfaatan teknologi informasi akan memberdayakan perpustakaan dan pustakawan, dan begitu juga sebaliknya perpustakaan dan pustakawan yang berdaya akan mengoptimalkan kegunaan teknologi informasi.
Sebab keberadaan suatu perpustakaan dengan fasilitas dan koleksi yang lengkap belum tentu dapat termanfaatkan secara maksimal kalau sumber daya pustakawannya tidak tersedia dan tidak berkompeten. Demikian juga dengan tersedianya sumber daya pustakawan yang memadai belum tentu dapat berperan secara maksimal, kalau koleksi dan fasilitas perpustakaan tidak memadai/representatif.
Faktor Penentu Keberhasilan Pemanfaatan Teknologi Informasi Menurut Arif (2003), ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan dan dipertimbangkan dalam rangka menerapkan teknologi informasi di perpustakaan, yaitu:
1. Dukungan top manajemen, lembaga induk, pemilik modal dan kepentingan 2. Kesinambungan 3. Perawatan dan pemeliharaan 4. Sumber daya manusia 5. Infrastruktur lainnya seperti listrik, ruang/gedung, furnitur, interior design, jaringan komputer, dan sebagainya. 6. Pengguna perpustakaan seperti faktor kebutuhan, kenyamanan, pendidikan pengguna, kondisi pengguna, dan lain-lain.
Disamping itu menurutnya lagi seorang pustakawan dalam memanfaatkan teknologi informasi perlu mengetahui hal-hal sebagai berikut: 1. Paham maksud, ruang lingkup, dan unsur otomatisasi perpustakaan/TI perpustakaan. 2. Paham dan bisa mengapresiasi pentingnya melaksanakan analisis sistem yang menyeluruh sebelum merencanakan desain sistem. 3. Paham dan bisa mengapresiasi manfaat analisis sistem dan desain, implementasi, evaluasi, dan maintenance. 4. Paham akan proses evaluasi software sejalan dengan proposal sebelum menentukan sebuah sistem. 5. Paham dan bisa mengapresiasi pentingnya pelatihan untuk staf dan keterlibatan mereka dalam seluruh proses kerja.
Menurut Rouse (dalam Kusumaningrum, 1998), keberhasilan penerapan teknologi informasi atau lebih khusus automasi, lebih bergantung kepada manusia, bukan kepada perangkat keras atau perangkat lunak. Artinya dalam automasi, tidak tergantung merek atau perangkat lunak tertentu yang mesti digunakan, karena kinerja sistem berbantuan komputer ini lebih dipengaruhi oleh manusia pengguna sistem tersebut.
Dengan demikian keberhasilan pemanfaatan teknologi informasi oleh pustakawan tidak hanya ditentukan oleh faktor manusia/pustakawannya itu sendiri (human resource), tetapi juga ditentukan oleh faktor-faktor lain seperti: kebijakan organisasi induk, pemegang kepentingan (stake holder policy); sarana dan fasilitas, termasuk koleksi, hardware, software, dan perawatannya (infrastructure, facilities, and its maintenance); dan apa kebutuhan pengguna (user`s need).
Jika faktor-faktor tersebut di atas dipertimbangkan dengan baik dan seksama maka penerapan teknologi informasi untuk meningkatkan kwalitas layanan perpustakaan akan dapat berjalan dengan baik/berhasil.
Kompetensi Pustakawan Agar benar-benar dapat menjalankan peran dan fungsinya khususnya dalam memanfaatkan Teknologi Informasi (TI), ada beberapa kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang pustakawan seperti yang dimaksudkan oleh Dewan Direktur Special Libraries Association/SLA (dalam Sudarsono, 2006). Kompetensi tersebut yaitu:
1. Kompetensi Profesional, yang berhubungan dengan pengetahuan teknis dan kemampuan yang mendukung tugasnya dalam memberikan layanan perpustakaan dan informasi.
Kompetensi tersebut meliputi kemampuan sebagai berikut: (1). Mempunyai pengetahuan atas isi sumberdaya informasi, termasuk kemampuan mengevaluasinya secara kritis, apabila diperlukan penyaringan. (2). Memiliki pengetahuan subyek khusus yang cocok dan diperlukan oleh organisasi induk atau pengguna jasa. (3). Mengembangkan dan mengelola jasa informasi yang nyaman, mudah diakses, dan hemat biaya (cost effective) sejalan dengan arah strategis organisasi. (4). Menyediakan pedoman dan dukungan untuk pengguna jasa. (5). Mengkaji kebutuhan informasi dan nilai tambah jasa informasi dan produk yang memenuhi kebutuhan. (6). Menggunakan teknologi informasi yang sesuai untuk mengadakan, mengorganisasikan, dan menyebarkan informasi. (7). Menggunakan pendekatan manajemen dan bisnis dalam mengkomunikasikan pentingnya jasa informasi. (8). Menghasilkan produk informasi khusus untuk digunakan di dalam maupun di luar organisasi, atau oleh pengguna perorangan. (9). Mengevaluasi hasil penggunaan informasi dan melakukan riset yang berhubungan dengan permasalahan manajemen informasi. (10). Secara terus-menerus meningkatkan jasa informasi untuk menjawab tantangan dan perkembangan.
2. Kompetensi Personal, yaitu ketrampilan menggambarkan satu kesatuan ketrampilan, perilaku dan nilai yang dimiliki pustakawan agar dapat bekerja secara efektif, menjadi komunikator yang baik, selalu meningkatan pengetahuan, dapat memperlihatkan nilai lebihnya serta dapat bertahan terhadap perubahan dan perkembangan dalam dunia kerjanya. Kompetensi ini meliputi kemampuan sebagai berikut: (1). Melakukan pelayanan prima. (2). Mencari tantangan dan melihat peluang baru baik di dalam maupun di luar perpustakaan. (3). Berwawasan luas. (4). Mencari mitra kerja. (5). Menciptakan lingkungan yang saling menghargai dan mempercayai. (6). Memiliki ketrampilan berkomunikasi. (7). Bekerja baik dengan sesama anggota tim. (8). Memeberikan kepemimpinan. (9). Merencanakan, membuat prioritas dan fokus pada hal-hal yang kritis. (10). Setia dalam belajar sepanjang hidup dan karir pribadi. (11). Memiliki ketrampilan bisnis dan menciptakan peluang baru. (12). Mengakui nilai profesional kerjasama dan kesetiakawanan. (13). Luwes dan bersikap positif dalam masa yang berubah.
Peningkatan kemampuan pustakawan juga diharapkan terutama dalam hal pengoperasian komputer, perancangan program aplikasi, penguasaan bahasa Inggris dan/atau bahasa asing lainnya. Karena dalam pengoperasian komputer dan aplikasi-aplikasinya tidak akan pernah lepas dari Bahasa Inggris. Upaya peningkatan kemampuan tersebut tersebut dapat dilakukan melalui sarana lembaga pendidikan pelatihan dan organisasi profesi pustakawan (seperti IPI).
Pengaruh Internet Secara umum pengaruh penggunaan internet terhadap kinerja perpustakaan dan pustakawan adalah positif. Namun ditemukan sejumlah fakta tentang kurangnya pendayagunaan internet di perpustakaan karena terbatasnya pengetahuan pustakawan tentang internet. Kemampuan mendayagunakan internet memerlukan kemauan dan inisiatif pustakawan sendiri.
Sebuah penelitian yang pernah dilakukan oleh Finlay (1996) tentang penggunaan internet oleh pustakawan menghipotesakan sebagai berikut: (1). Pustakawan dengan pengetahuan lebih baik akan bersikap positif terhadap penggunaan internet. (2) Pustakawan dengan pengetahuan lebih baik akan lebih sering menggunakan internet dibanding pustakawan yang kurang tahu. (3). Pustakawan yang inovatif akan bersikap positif terhadap penggunaan internet. (4). Pustakawan yang inovatif akan lebih sering menggunakan internet.
Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa pengetahuan merupakan faktor yang mempengaruhi pustakawan dalam menggunakan dan memberdayakan internet. Disamping itu dorongan dari atasan dan kesempatan belajar untuk menggunakannya merupakan dua hal yang amat penting. Kemauan untuk mencoba berlatih dan menggunakan internet merupakan sikap yang mencerminkan daya inovatif pustakawan.
Sehingga lingkungan yang kondusif perlu dibangun untuk memungkinkan pembelajaran, penggunaan, dan peningkatan ketrampilan penggunaan internet. Sebuah kursus singkat tentang penggunaan internet dalam penelusuran informasi online perlu diadakan terutama bagi pustakawan yang tidak pernah (jarang) menggunakan internet.
Kemauan pustakawan dalam menguasai teknologi informasi telah terbukti dapat memutar balikkan tatanan informasi. Pustakawan hendaknya tidak buta komputer (gagap teknologi). Maka perlu ada pengenalan teknologi informasi secara masal kepada pustakawan. Disamping itu bagi pustakawan yang menguasai teknologi informasi agar dengan senang hati membagi ilmu pengetahuan dan pengalaman kepada sejawatnya. Kemampuan dalam disiplin ilmu khusus merupakan modal tambahan, disamping berkolaborasi dengan profesi lain.
Perubahan peran dan munculnya tantangan sebagai dampak keberadaan Internet harus benar-benar diperhatikan oleh pustakawan. Sekurangnya ada tiga hal yang harus diperhatikan, yaitu:
(1). Internet memungkinkan perpustakaan menyediakan lebih beragam informasi. Oleh sebab itu pemakai perlu dibimbing untuk tidak saja mencari informasi dalam lingkungannya, tetapi sekaligus mengevalulasi secara kritis informasi yang diakses dalam internet.
(2). Pustakawan perlu mengorganisasikan sumber daya informasi dalam internet untuk dapat menyusun sistem temu kembali informasi (retrieval system) secara lebih efektif. Kalau dulu salah satu pekerjaan pustakawan adalah mengkatalog buku agar mudah ditemukan kembali, sekarang perlu pula mengkatalog situs
(3). Pustakawan harus merangkul perkembangan-perkembangan yang nampaknya bertentangan dengan konsep perpustakaan. Mereka harus lebih terbuka terhadap perkembangan-perkembangan tersebut. (Sudarsono, 2006).
Mencermati fakta dan kenyataan di atas, tidak dapat dipungkiri lagi bahwa dengan adanya penggunaan akses internet akan dapat memberikan manfaat yang besar kepada khalayak ramai khususnya bagi pustakawan. Berikut ini dicantumkan beberapa manfaat dari penggunaan akses internet (Koswara, 1998), antara lain: - Mendapatkan informasi untuk kepentingan pribadi, seperti tentang kesehatan, rekreasi, agama, sosial, hobi, dan sebagainya. - Mendapatkan informasi untuk kehidupan profesional/pekerjaan, seperti sains dan teknologi, perdagangan, saham, komoditi, berita bisnis, forum, dan lain-lain. - Sebagai sarana untuk kerjasama antar pribadi atau kelompok tanpa mengenal batas jarak dan waktu, batas negara, ras, status sosial, dan ideologi. - Sebagai sarana bisnis, termasuk iklan dan publikasi online, alternatif cetak jarak jauh, email, buletin board, newsletter. - Sebagai media komunikasi, termasuk untuk melengkapi perkembangan teknologi, menjembatani lembaga pemerintah, universitas, sekolah, laboratorium, dan penelitian. - Memperluas wawasan dan sebagai sarana diskusi global antara individu baik yang amatir maupun profesional.
Kesiapan dan Strategi Pustakawan dalam Memanfaatkan Teknologi Informasi Dari berbagai survei yang pernah dilakukan terhadap pustakawan, pada umumnya pustakawan Indonesia belum sepenuhnya siap menerima kehadiran teknologi informasi. Disamping itu belum semua perpustakaan besar di Indonesia mempunyai akses internet. Bagi yang sudah memiliki akses, belum banyak yang memanfaatkan internet sebagai sarana penyediaan jasa informasi melalui jaringan gobal tersebut, masih terbatas sebagai pengguna saja dan itupun dalam jumlah yang sedikit.
Sehingga dapat dimaklumi apabila masih sebagian kecil pustakawan Indonesia yang menguasai teknologi jaringan global. Dalam hal ini perlu ada peningkatan kemampuan sumber daya manusia yang dimiliki oleh masing-masing unit dokumentasi, informasi, dan perpustakaan.
Untuk itu diperlukan proses pelatihan untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan seseorang. Pelatihan dapat berupa pendidikan untuk jenjang bawah dan pengembangan untuk tingkat jenjang lebih tinggi seperti manajer yang terkait perspektif jangka panjang. Pelatihan biasanya dimaksudkan untuk jangka pendek untuk pelaksanaan tugas segera, dengan beberapa materi yang disajikan misalnya: 1. Pelatihan tenaga pelatih (training of trainer). 2. Hak milik intelektual. 3. Perancangan jasa informasi elektronik. 4. Manajemen proyek. 5. Manajemen perubahan. 6. Evaluasi jasa (pelayanan). 7. Ketrampilan dasar perpustakaan. 8. Organisasi informasi. 9. Karya referensi. 10. Penggunaan komputer pada perusahaan kecil. 11. Pengemasan informasi untuk masyarakat pedesaan. 12. Penulisan teknis pribadi dan komunikasi perkantoran. 13. Ketrampilan komunikasi (presentasi ilmiah, negosiasi, dan lain lain). 14. Kebijakaan informasi. 15. Sistem dan sarana informasi. 16. Teknologi informasi, telekomunikasi, jaringan informasi, dan aplikasinya di perpustakaan. (Sudarsono, 2006).
Agar pemanfaatan teknologi informasi dapat berjalan optimal, pustakawan hendaknya bersinergi dengan profesi lain. Selain bekerja sama dengan pakar dalam bidang teknologi informasi, pustakawan juga harus berkolaborasi dengan peneliti, guru, arsiparis, wartawan, dokumentalis, pengarang, penulis, penerbit, dan lain-lain. Pustakawan hendaknya terbuka dengan menerima dan mengajak keahlian lain secara bersama-sama mengelola informasi yang diperlukan masyarakat.
Kemampuan pengelolaan dan pemanfaatan informasi bagi pustakawan harus senantiasa ditingkatkan terus-menerus sehingga masyarakat mampu berperan dan mengambil manfaat yang sebesar-besarnya dari jaringan informasi global (Internet).
Beberapa saran berikut dapat dijadikan rujukan bagi pustakawan, antara lain: (1). Pustakawan hendaknya aktif dalam perumusan kebijakan nasional maupun peraturan terkait, untuk menjamin agar perpustakaan menerima cukup dana untuk berperan dalam infrastruktur informasi nasional. (2). Pustakawan perlu memahami dan menguasi sistem jaringan agar dapat menyusun program dan kemudahan yang memungkinkan para pengguna sadar akan manfaat sistem jaringan informasi global (internet), karena koneksi pada internet bukanlah jaminan bahwa perpustakaan dapat melayani semua informasi yang dibutuhkan pengguna. (3). Layanan dan sumber daya internet perlu diciptakan dan diorganisasikan oleh para pustakawan. Katalog dari jasa dan sumber daya informasi yang tersedia di internet merupakan alat yang sangat membantu secara efektif dan efisien. (4). Pengelola perpustakaan perlu mengalokasikan dana pendidikan dan pelatihan internet bagi tenaga perpustakaan. (5). Pustakawan perlu memainkan peran yang aktif dalam hal hak atas kekayaan intelektual (intellectlual property right) maupun hak cipta dalam lingkungan atau suasana elektronik. (6). Pustakawan perlu memiliki pengaruh pada evolusi layanan Internet dan siap untuk membagi ide dan gagasan kepada perencanaan proyek maupun pengelola administasi. (ERIC Digest, 1997).
Jati diri pustakawan sendiri adalah merupakan salah satu faktor yang sangat mempengaruhi keberhasilan pemanfaatan teknologi informasi dalam perpustakaan, yang mencakup beberapa aspek antara lain: sikap pustakawan, kemampuan pustakawan, materi pendidikan kepustakawanan yang diikuti, dan keaktifan sebagai anggota organisasi profesi. Semua aspek tersebut ikut menentukan kesiapan pustakawan dalam memanfaatkan Teknologi Informasi.
Oleh sebab itu agar pustakawan tidak "gagap", siap terjun di tengah masyarakat informasi, ada tiga strategi yang dapat dilakukan oleh pustakawan: Pertama, peningkatan moral dan etika pustakawan; kedua, penguasaan teknologi informasi serta disiplin keilmuwan khusus; ketiga, berkolaborasi dengan profesi lain. (Sudarsono, 2006).
Sedangkan bagi perpustakaan sendiri harus melakukan langkah-langkah antisipatif untuk mempersiapkan diri menerima dan memanfaatkan teknologi informasi di perpustakaan.
Untuk itu para pustakawan harus membekali diri dengan beraneka ragam ketrampilan, keahlian, skill, agar dapat memberikan akses informasi yang seluas-luasnya kepada masyarakat dan meningkatkan kwalitas layanan setinggi-tingginya kepada pengguna. Pustakawan seperti itulah yang dikatakan memiliki profil pustakawan masa depan (Mustafa, 1998), dengan ciri-ciri sebagai berikut: - Berorientasi kepada kebutuhan pengguna. - Mempunyai kemampuan berkomunikasi yang baik. - Mempunyai kemampuan teknis perpustakaan yang tinggi. - Mempunyai kemampuan berbahasa asing yang memadai. - Mempunyai kemampuan pengembangan secara teknis dan prosedur kerja. - Mempunyai kemampuan dalam memanfaatkan kemajuan teknologi informasi. - Mempunyai kemampuan melaksanakan penelitian di bidang perpustakaan.
Penutup Pemanfaatan teknologi informasi dan aplikasinya dalam perpustakaan sudah menjadi suatu keharusan pada saat ini, khususnya bagi Indonesia. Karena pemanfaatan teknologi informasi tersebut akan menjadikan perpustakaan maju, berdaya, dan mampu berdiri sejajar dengan perpustakaan-perpustakaan maju milik bangsa lain. Oleh karena itu pemanfaatannya harus dilakukan secara tepat dan benar, dengan tetap menyesuaikan kepada kondisi dan kebutuhan pengguna.
Teknologi informasi yang digunakan secara tepat dan sesuai akan menjadikan proses pengolahan informasi, dokumentasi, dan pengelolaan perpustakaan berjalan cepat, tepat, akurat, efektif, efisien, ekonomis, dan bervariasi. Dengan demikian akan turut mendukung terwujudnya perpustakaan dan pustakawan yang maju dan berdaya sehingga mampu memberikan kwalitas layanan yang setinggi-tingginya kepada pengguna. Begitu juga sebaliknya perpustakaan dan pustakawan yang berdaya akan mengoptimalkan penggunaan teknologi informasi.
Banyak faktor yang harus dipertimbangkan agar pemanfaatan teknologi informasi dalam perpustakaan berjalan sukses dan lancar diantaranya sumberdaya pustakawan (human resource), kebijakan pemilik modal/pemegang kepentingan (stake holder policy), ketersediaan koleksi, sarana, dan fasilitas (avaibility of collection/information resourse and facility, dan kebutuhan pengguna (user`s need).
Namun sayangnya sumberdaya pustakawan Indonesia belum sepenuhnya siap menggunakan kemajuan teknologi informasi, disamping itu infrastuktur dan fasilitas sebagian besar perpustakaan juga masih minim, akibatnya teknologi informasi belum termanfaatkan secara optimal.
Oleh karena itu pustakawan harus mempersiapkan diri dengan berbagai macam ketrampilan, keahlian, kompetensi, dan keprofesionalan serta memiliki strategi yang tepat dalam menghadapi masyarakat informasi. Dengan demikian pengguna (masyarakat) akan mendapatkan layanan yang berkwalitas tinggi dan akses yang sebesar-besarnya terhadap informasi.
Agus Saputera S.Ag, MLIS Subbag Hukmas dan KUB Kanwil Kemenag Riau Dosen Mata Kuliah Bidang Ilmu Perpustakaan di beberapa PTS Riau